Bab 19

1236 Kata

Pagi di rumah kontrakan kecil itu selalu dimulai lebih awal. Aruna sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit, menanak nasi di kompor gas kecil yang kadang macet apinya, menyiapkan bekal sederhana untuk Rangga, lalu membangunkan anak mereka yang kini berusia empat tahun. “Bangun, Dito,” katanya sambil mengusap lembut kepala bocah kecil yang masih meringkuk di tikar. “Ayah mau berangkat, kamu sarapan dulu, ya.” Dito membuka mata pelan. “Ayah udah pergi, Bu?” “Belum. Ayo, cepet bangun, nanti bisa dadah dulu.” Bocah itu langsung bangun, matanya berbinar. Ia sangat dekat dengan Rangga. Setiap pagi, Dito selalu merengek minta ikut ke bengkel, meski Aruna melarang. Rangga keluar dari kamar dengan seragam kerja lusuh yang penuh noda oli. “Masih pagi banget kamu udah sibuk aja,” katanya sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN