Waktu berjalan cepat tanpa mereka sadari. Dito sudah berusia dua belas tahun, duduk di bangku kelas enam SD. Tubuhnya tinggi untuk anak seusianya, kulitnya sawo matang seperti Rangga, tapi mata dan garis wajahnya lebih mirip Aruna. Ia anak yang cerdas dan banyak tanya, sesuatu yang kadang membuat Aruna kewalahan menjawabnya. Rangga kini memiliki bengkel yang lebih besar di pinggir jalan utama. Nama bengkelnya cukup dikenal karena kejujurannya dalam bekerja. Aruna masih tetap menjahit di rumah, tapi kini dibantu satu orang tetangga muda yang ia ajari menjahit dari nol. Kehidupan mereka tidak lagi kekurangan, walau tetap sederhana. Suatu sore, Dito pulang sekolah membawa wajah murung. Ia langsung masuk kamar tanpa bicara. Aruna yang sedang menyetrika seragam Rangga menatap bingung. “Dit,

