Pagi itu rumah terasa aneh. Andre lebih banyak diam daripada biasanya. Ia tidak marah, tapi juga tidak bicara banyak. Dari ekspresinya, Aruna tahu sesuatu sedang ia pikirkan. Aruna pura-pura sibuk menyiapkan sarapan sambil menahan degup jantungnya yang cepat. Sejak semalam, rasa curiga Andre makin jelas. “Mas, mau sarapan sekarang atau nanti?” tanya Aruna sambil mengaduk nasi goreng di wajan. Andre duduk di meja makan, membuka ponsel. “Sekarang aja. Aku harus berangkat lebih pagi hari ini.” Aruna mengangguk, mengambil piring, menaruh makanan di hadapannya. Saat ia hendak duduk, Andre bicara tanpa menatap. “Kemarin aku sempat tanya ke Rudi, bagian IT kantor, soal komentar aneh di postinganku.” Tangan Aruna yang baru saja memegang gelas jus langsung berhenti. Andre melanjutkan, “Ter

