Aruna duduk di tepi ranjang dengan koper terbuka di depannya. Tangannya melipat baju satu per satu, tapi pikirannya jauh ke mana-mana. Setiap lipatan kain terasa berat. Ia bahkan tidak tahu harus senang atau cemas dengan rencana liburan mendadak yang diajukan Andre. Biasanya, Andre tidak pernah tertarik dengan hal-hal seperti itu. Liburan bukan prioritasnya. Jadi ketika Andre tiba-tiba mengatakan bahwa mereka akan ke Bali selama seminggu, Aruna langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres. Tapi ia tidak punya pilihan selain ikut. Menolak hanya akan membuat Andre curiga. “Sudah siap koper kamu?” suara Andre terdengar dari pintu. Aruna menoleh cepat. “Hampir, Mas. Tinggal beberapa baju lagi.” Andre masuk dan melirik koper itu sekilas. “Nggak usah banyak-banyak. Di sana semua bisa beli.”

