Beberapa bulan setelah kepergian Rangga, hidup Aruna perlahan menyesuaikan diri dengan kesepian yang baru. Rumah kecil mereka kini terasa terlalu sunyi. Tidak ada lagi suara laki-laki tua yang batuk setiap pagi, tidak ada suara pintu bengkel dibuka, dan tidak ada panggilan “Run, tolong ambilin air” yang dulu terdengar setiap hari. Awalnya, Aruna sering terbangun di tengah malam, merasa seolah Rangga masih berbaring di sampingnya. Ia akan menoleh dan mendapati bantal kosong. Butuh waktu lama sampai ia bisa menerima bahwa tempat itu memang sudah tidak akan terisi lagi. Setiap pagi, Aruna tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Ia menyiapkan teh hangat untuk dirinya sendiri, menyapu halaman, dan membuka pintu rumah lebar-lebar agar udara masuk. Kadang ia duduk di teras sambil memperhatikan

