"Medina..." Amran terlihat kaget, dia tidak berpikir bahwa anak ini akan muncul ke hadapannya dengan sendirinya. Dua orang itu saling dia menambah ketegangan di antara satu sama lain. "Bagaimana bisa aku percaya padamu." Ucap Amran sambil melipat kedua tangannya. "Apa yang bisa membuat Ayah percaya? Haruskah aku ingatkan beberapa kenangan kita?" Meta meremas tangannya menyembunyikan rasa takut, ia masih tidak menyangka bahwa dirinya akan berucap seperti ini tapi jika dia terlihat takut maka lelaki tua itu pasti akan menekan dirinya, mengira Meta masih gadis kecil yang bisa dia intimidasi sesuka hatinya. "Kenangan? Baiklah ... Katakan sesuatu, kenangan apa yang ada di antara kita" Jawab Amran Ali remeh, dia tidak merasa memiliki kenangan apapun dengan Medina atau sekarang dia harus mema

