“Tanpa kalian salahkan pun aku sudah menyadari kesalahanku. Tapi, aku tidak bisa berhadapan sama Liona. Hanya itu yang tidak bisa aku lakukan.” Xavier sendiri sadar betapa menjijikkannya dia selama ini yang sudah membuat segalanya menjadi jauh lebih rumit lagi. Kemudian dia juga tidak ingin membuat anaknya menderita dengan mentalnya Liona. Mungkin orang akan menganggap Xavier jahat, akan tetapi dia berusaha untuk sembunyikan kerinduannya terhadap anaknya. Dua wanita di depannya itu hanya duduk tanpa berkata-kata lagi. Neneknya juga hanya diam, sementara Theresa sudah banjir air mata. Xavier bisa menahannya. Tapi tidak tahu nanti ketika dia di kamar mungkin ceritanya akan berbeda. “Setelah ini aku izin untuk pulang. Syukurnya nggak ada Liona di sini dan Devan. Aku bisa cerita semuanya