Sexiest Man 21

1221 Kata
Daniel sedang berbicara dengan para teman-teman di dunia bisnis sampai ia tak menyadari sudah hampir setengah jam lamanya ia menunggu Sarah di kamar mandi. "Maaf saya permisi." Kata Daniel berpamitan dengan para temannya Daniel berjalan ke arah kamar mandi untuk mengecek keberadaan Sarah. Siapa tahu dia menunggunya disana dan ia tak menemukan dirinya. Ketika sampai disana ia melihat keributan di depan pintu kamar mandi. Dan Daniel mendengar seseorang berkata ada yang terluka di dalam. Entah kenapa perasan Daniel jadi tidak enak ia pun berjalan mendekat ke arah kamar mandi untuk melihat keadaan. Dan ketika sampai di depan kamar mandi ia melihat Sarah tergeletak disana. "Sarah." Teriak Daniel panik Daniel pun segera berlari untuk mendekat kearah tunangannya. "Baby." Kata Daniel ketika sudah ada di dekat Sarah Daniel melihat kening Sarah berdarah dan itu membuat Daniel panik. Tanpa pikir panjang Daniel langsung menggendong Sarah dan segera membawanya ke rumah sakit. "Babe tahan sebentar. Kita ke rumah sakit sekarang." Kata Daniel setelah berhasil mendudukkan Sarah di mobilnya Dengan cepat Daniel segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia benar-benar khawatir melihat kondisi dari Sarah saat ini. Ia benar-benar merasa bersalah karena tak bisa menjaga Sarah dan membuatnya menjadi seperti ini. Tak membutuhkan waktu yang lama Daniel sudah sampai di rumah sakit dan segera membawa Sarah ke UGD. Saat di UGD untungnya ia bertemu dengan bang Danny. "Bang tolong periksa keadaan Sarah." Kata Daniel khawatir "Sarah kenapa Niel?" Tanya sang kakak yang sedang memeriksa keadaan Sarah "Aku ga tahu bang tiba-tiba aku udah liat dia pingsan di kamar mandi." Kata Daniel yang tak bisa menutupi rasa khawatirnya "Ok kamu tunggu di luar dulu biar Abang periksa Sarah dulu." Kata Danny Daniel pun menuruti perintah sang kakak untuk keluar dari ruang UGD karena sang kakak akan memeriksa keadaan Sarah Setengah jam lamanya Daniel menunggu dengan penuh kegelisahan karena ia tak tahu bagaimana keadaan Sarah di dalam. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Sarah. "Niel." Panggil Danny sang kakak "Bang gimana keadaan Sarah?" Tanya Daniel langsung "Di kening ada luka sedikit dan tadi Abang juga udah jahit luka di kening Sarah. Tapi Abang sarankan Sarah di rawat disini dulu buat mengecek keadaan Sarah. Abang takut terjadi pendarahan otak. Jadi besok pagi Abang akan melakukan MRI untuk melihat kondisi kepala Sarah." Kata Danny menjelaskan "Ok. Aku ikut kata bang Danny aja. Yang penting Sarah ga kenapa-napa." Kata Daniel khawatir "Kalau gitu kamu urus administrasinya biar Abang minta Sarah segera pindah ke ruang perawatan." Kata sang kakak "Ok bang. Makasih ya bang." Kata Daniel sedikit lega Bang Danny hanya menganggukkan kepala dan ia kembali melihat keadaan Sarah dan mempersiapkan kepindahan Sarah ke ruang perawatan. Sementara itu Daniel sudah berjalan menuju tempat administrasi untuk mengurus tempat rawat untuk Sarah. "Sarah untuk saat ini ga papa. Mungkin nanti ketika bangun dia akan merasakan sakit kepala karena bekas luka jahitan. Jadi nanti kamu bisa bilang ke suster untuk diberikan obat. Abang pulang dulu besok pagi Abang kesini lagi buat liat kondisi Sarah lagi." Kata bang Danny menjelaskan "Iya bang Daniel tahu. Makasih ya bang udah ngerawat Sarah." Kata Daniel sung sangat berterima kasih "Iya. Kamu juga harus istirahat jangan sampai kamu juga ikut sakit." Kata Bang Danny mengingatkan "Iya bang Daniel tahu." Kata Daniel mengerti Bang Danny pun keluar dari kamar perawatan Sarah meninggalkan Daniel dan da Sarah sendiri. Daniel benar-benar merasa bersalah dengan keadaan Sarah saat ini. Dengan tangan yang di pasang selang infus dan kening yang di perban karena keningnya yang terluka sungguh membuat hati Daniel sakit melihat keadaan Sarah saat ini. "Babe maafin aku ya ga bisa jagain kamu." Kata Daniel sambil mengecup tangan Sarah Dan sepanjang malam Daniel pun terus berada di samping Sarah dan terus menggenggam tangan Sarah seakan takut sesuatu hal buruk akan menimpa Sarah lagi. Keesokan harinya di sebuah ruang perawatan rumah sakit tampak seorang laki-laki tampan tertidur di samping wanita yang sangat ia cintai dengan terus menggenggam tangannya. Ia tak peduli badannya akan sakit karena tidurnya tak nyaman. Yang ia tahu ia harus terus berada di samping gadisnya itu sampai gadisnya bangun. Sementara di ranjang rumah sakit Sarah perlahan membuka matanya dan ia pun mulai melihat sekitar karena ia asing dengan tempat ia berada sekarang. Ketika sedang melihat sekitar ia melihat disampingnya Daniel tertidur sambil terus menggenggam tangannya. Ketika ia mencoba untuk bangun tiba-tiba kepala terasa sangat sakit. "Awwwww...awwwww." teriak Sarah kesakitan Daniel yang mendengar teriakan kesakitan Sarah langsung bangun dari tidurnya dan melihat keadaan Sarah "Babe mana yang sakit?" Tanya Daniel khawatir "Niel kepala aku sakit banget." Kata Sarah sambil memegang kepalanya Daniele ingat pesan kakaknya bahwa Sarah akan merasakan kepalanya sakit ketika ia bangun. Dan dengan cepat Daniel langsung memanggil suster untuk melihat kondisi Sarah. "Saya sudah memberikan obat untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya. Hari ini pasien akan melakukan MRI sesuai dengan anjuran Dr. Danny. Jadi nanti saya akan membawa pasien ke tempat MRI setelah dokter Danny datang." Kata suster itu menjelaskan "Baik sus. Makasih." Kata Daniel Daniel kembali melihat ke arah Sarah yang kembali terlelap tidur akibat obat yang diberikan suster tadi. Dan lagi-lagi Daniel merasa marah karena melihat kesakitan yang dialami Sarah tadi. "Niel aku udah ga papa kok. Kamu ga usah khawatir lagi." Kata Sarah mencoba menenangkan Daniel "Aku ga khawatir gimana coba. Kamu cuma ninggalin aku bentar aja kamu jadi kayak gini. Aku merasa ga bisa jaga kamu babe." Kata Daniel penuh penyesalan "Kamu ga boleh ngomong gitu. Kamu udah jaga aku dengan maksimal. Jadi kita harus usah bahas itu lagi. Ini juga salah aku karena ga hati-hati." Kata Sarah mencoba menenangkan Daniel Sarah sengaja tak bercerita jika ia bisa seperti ini gara-gara Samantha. Ia cuma ga ingin memperkeruh keadaan. Cukup Daniel tahu jika ia kurang hati-hati saja. "Pagi Sarah." Sapa bang Danny "Pagi bang." Jawab Sarah ramah "Gimana keadaan kamu? Ada yang sakit?" Tanya bang Danny "Tadi cuma kepala aku sedikit sakit tapi setelah diberi obat sama suster sakitnya sudah sedikit berkurang." Jawab Sarah "Ok. Sekarang kita MRI dulu buat liat kondisi kamu." Kata Bang Danny menjelaskan "Ya bang." Kata Sarah Dan Sarah pun segera di bawah ke tempat MRI. Dan tentu saja Daniel selalu mendampinginya. Membutuhkan waktu hampir 1 setengah jam bagi Sarah untuk melakukan MRI. Dan saat ini akan kembali ke kamar perawatannya. Ketika ia sampai di kamar perawatannya ia sudah melihat Vina ada disana. "Sarah." Panggil Vina yang sudah berkaca-kaca "Kamu kenapa Vin berkaca-kaca gitu?" Tanya Sarah melihat sahabatnya sudah mulai menangis "Aku khawatir sama tahu. Kemarin bang Danny bilang kalau kamu pingsan. Jadi setelah aku titip Isabel ke tempat mama aku langsung kesini. Mana yang sakit?" Tanya Vina khawatir "Aku ga papa kok. Ini salah aku karena ga hati-hati. Udah deh jangan lebay gitu." Kata Sarah pada Vina "Bukannya aku lebay aku cuma khawatir." Jawab Vina "Iya aku tahu. Makasi ya ibu Vina sudah khawatir sama aku." Kata Sarah mengerti dengan sahabatnya ini Dan dua sahabat ini kembali bisa tertawa setelah saling bisa mengerti satu sama lain. "Udah Niel kamu pulang dulu aja. Kamu bisa mandi dulu kalau kamu khawatir kamu bisa balik kesini lagi. Lagian ada Vina kan disini jadi kamu ga usah khawatir." Kata Sarah menyuruh Daniel pulang. "Ok aku pulang bentar. Setelah itu aku langsung balik kesini." Kata Daniel setuju "Iya pak Daniel." Jawab Sarah Daniel pun keluar dari kamar perawatan Sarah tapi sebelumnya ia sudah minta tolong ke kakak iparnya untuk menjaga Sarah sebentar. "Ok Sarah Wicaksana sekarang ceritakan semua kebenarannya. Aku tahu kamu terluka kayak gitu bukan karena kamu kurang hati-hati kan?" Tanya Vina penuh selidik Sepertinya Sarah tak bisa menyembunyikan ini dari Vina. Karena Vina tahu benar karakter dirinya. Dan ia tahu jika dirinya berbohong. "Kamu benar aku kayak gini bukan karena aku kurang hati-hati tapi karena Samantha." Kata Sarah bercerita "What?" Kata Vina tak percaya Happy reading
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN