Kepergian Kalista

1256 Kata
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu pun langsung berteriak histeris. Bersamaan dengan itu pula, dokter Deni dan juga dua orang perawat masuk ke dalam ruangan dan langsung menghampiri tubuh Kalista yang sudah terpejam dengan sempurna. “Mak … sud Kak Aswin apa, sih? Kak Kal cu … ma tidur aja,” ujar Dista mencoba untuk tenang. Gadis itu mencoba untuk menyangkal ucapan kakak iparnya. Mana mungkin kakaknya pergi secepat ini dan tentu saja mana mungkin dia percaya akan hal itu. “Pasien atas nama Kalista Wijaya telah meninggal dunia pada jam tiga sore lewat dua puluh lima menit. Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya,” ujar dokter Deni memberi tahu. Ucapan dari dokter yang ada di depannya membuat Dista langsung menatap ke arah sang kakak dan seketika mengguncang tubuh yang terbaring itu. Dia tidak percaya dengan ucapan semua orang dan dia harus memastikan sendiri. “Kak Kal, ayo bangun! Kak Kalista! Kakak cuma tidur aja, kan?” tutur Dista sambil mengguncang tubuh Kalista berharap bisa membuat perempuan itu terbangun. Karena kakaknya diam tidak beraksi apa pun, akhirnya membuat Dista beralih menatap ke arah sang bunda. Gadis itu seolah-olah ingin meminta pertolongan untuk membangunkan kakak perempuannya. “Bunda, Kak Kal nggak mau bangun. Ayo, bangunin Kakak, Bun!” pinta sang putri dengan raut wajah yang sulit untuk dijelaskan. Bunda Ayu hanya bisa diam sambil terus terisak. Dia sendiri tidak bisa menjawab ucapan putri bungsunya. Sebenarnnya dia juga tidak ingin percaya, tapi apa yang ada di hadapannya sulit untuk dia pungkiri. Melihat tidak ada respon dari sang bunda, membuat Dista mencoba mendekati sang ayah untuk meminta pertolongan. Dengan tatapan sendu, dia kembali berkata hal yang sama dengan yang dia katakan kepada bundanya. “Ayah, tolong bangunin Kakak! Biasanya kalau Ayah yang bagunin, Kakak pasti bangun. Ayo, Yah … bangunin Kak Kal …,” kekeh Dista. Perempuan itu terus memohon agar sang ayah mau menuruti permintaannya. Dia yakin jika semua itu adalah bohong. Kakaknya masih hidup dan pasti dia hanya merasa kesakitan hingga sampai tertidur. “Dista, Kakak kamu sudah nggak ada. Dia sudah meninggalkan kita. Dia meninggalkan Ayah, Bunda, Kamu, Aswin, dan juga Serra untuk selama-lamanya,” sahut Hendrawan pelan. Mendengar ucapan dari ayahnya, seketika membuat Dista menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia masih tidak percaya menerima kenyataan ini. Selama ini dia tidak pernah mendengar kakaknya sakit, tapi sekalinya mendengar kabar sakit, kakaknya langsung meninggal. “Nggak, Yah! Kak Kal hanya tertidur aja. Pasti nanti Kakak akan bangun,” balas Dista. Perempuan itu masih sulit untuk menerima kenyataan yang sudah tersaji di depan mata. Apalagi melihat kakaknya memejamkan matanya sambil tersenyum tipis, tentunya siapa yang akan mengira jika perempuan itu sudah meninggal dunia. Seketika Hendrawan pun langsung memegang kedua bahu putrinya dan menatap wajah yang sudah basah oleh air mata itu dengan lekat. Dia juga dapat melihat sorot kesakitan dari mata sang anak. “Dista, dengerin Ayah! Sekarang Kalista sudah nggak merasakan sakit lagi. Kakak kamu sudah pergi dan rasa sakit yang dia derita juga ikut pergi. Ikhlaskan, ya … meskipun kita semua merasa berat, tapi tolong ikhlaskan supaya dia bisa pergi dengan tenang,” ujar Hendrawan mencoba memberi pengertian kepada putri bungsunya. Dista pun langsung terdiam. Namun, air matanya semakin deras dengan bibir yang sudah terlihat bergetar. Tubuhnya langsung terasa lemas seakan tidak memiliki tenaga. Bahkan, tulang-tulangnya tidak mampu untuk menopang tubuhnya. Seketika tubuh gadis itu pun terhuyung ke samping, tapi langsung ditahan oleh sang ayah agar tidak sampai luruh ke lantai. Sungguh, kenyataan ini sangat memukul hatinya. Bukan hanya Adista, tapi Hendrawan dan Ayu juga merasa kehilangan putri sulung mereka. Terlebih Aswin yang merasa kehilangan setelah kepergian wanita yang sangat dia cintai. Wanita yang menjadi separuh jiwanya dan ibu dari putrinya. Bagaimana Aswin dan Serra akan hidup setelah ini? Tepatnya setelah kepergian belahan jiwanya. Apa dia masih bisa berdiri tegak dan kokoh untuk menghadapi dunia ini? Apa dia sanggup menatap hari-hari yang akan dia lalui untuk ke depannya? Aswin tampak sedang memeluk tubuh istrinya dengan penuh kelembutan. Dia ingin memeluk sayang tubuh itu untuk terakhir kalinya. “Terima kasih sudah menjadi istri dan ibu yang luar biasa untuk keluarga kita, Sayang. Semoga kamu tenang dan bahagia di sana. Mas akan menjaga Serra, anak kita dengan baik. I love you, Sayang,” ujar Aswin dengan penuh ketulusan. Setelah mengatakan itu, laki-laki itu pun mengecup kening, mata, dan pipi sang istri. Itu merupakan ungkapan sayang untuk terakhir kalinya kepada sang istri. Sungguh, saat ini hatinya sedang remuk karena ditinggal oleh orang yang dia cintai untuk selama-lamanya. Ruangan itu menjadi saksi bisu kesedihan dari mereka yang ditinggalkan oleh orang yang mereka cintai. Bahkan, seluruh isi ruangan itu juga menjadi saksi betapa tulusnya cinta mereka untuk seseorang. Mereka bersedih hingga menangis melihat salah satu orang yang mereka cintai berjuang melawan penyakitnya dan akhirnya tumbang sampai menghembuskan napas terakhir. *** Cuaca yang mendung mengiringi suasana pemakaman Kalista Wijaya, kakak kandung dari Adista Alindra yang meninggalkan banyak kenangan dari orang-orang yang dia tinggalkan. Serra, anak Kalista dengan Aswin Banata pun sejak tadi terus menangisi kepergian mamanya. Dista terus merangkul gadis kecil itu dan ingin memberikan kekuatan kepada anak sekecil itu. Anak sekecil Serra sudah harus menghadapi takdir yang sangat menyakitkan ini. Di usianya yang masih dini dia harus kehilangan mama yang selama ini sangat menyayanginya. Gundukan tanah dengan nisan yang bertuliskan Kalista Wijaya itu sekarang menjadi tempat peristirahatan dan pemberhentian terakhir perempuan tersebut. “Mama … hiks,” panggil Serra di sela-sela tangisannya yang terdengar sangat memilukan. Siapa pun yang mendengar tangisan gadis kecil itu pasti hatinya seperti teriris. Semua menatap ke arah Serra dengan tatapan yang beragam. Ada yang menatapnya sedih, juga ada yang menatapnya prihatin. Namun, tak sedikit yang menatapnya dengan tatapan penuh kasih. Dista yang mendengar tangisan Serra pun segera mengusap wajahnya yang telah basah oleh air mata. Dia harus terlihat kuat di hadapan sang keponakan. Bahkan, Aswin berusaha untuk terlihat tegar di hadapan sang putri, meskipun sebenarnya hatinya terasa hancur. Aswin beranggapan jika dirinya terlihat terpuruk, lantas siapa yang akan menjadi penopang untuk putri kecilnya. Ada waktu tersendiri baginya untuk menumpahkan segala kesedihannya, tapi yang jelas tidak di hadapan Serra. “Sayang, sudah ya. Kita ikhlaskan Mama. Biarkan Mama istirahat dengan tenang, ya. Kalau Serra seperti ini, nanti Mama akan sedih. Serra nggak mau buat Mama sedih, kan?” tutur Aswin mencoba membujuk putri semata wayangnya. Sebagai seorang dokter yang sekaligus ayah bagi Serra, tentunya dia tidak ingin putrinya kenapa-kenapa. Kepergian Kalista merupakan pukulan terberat bagi dirinya dan juga Serra. Oleh karena itu, dia harus bisa menjaga psikis putrinya agar tetap stabil. “Serra harus bisa mengikhlaskan Mama soalnya sekarang Mama sudah nggak sakit lagi. Meskipun Mama sudah nggak ada lagi, tapi Mama masih bersama kita dan akan tetap ada di hati Papa dan Serra,” sambung Aswin dengan lembut. Orang-orang yang mendengar penuturan Aswin hanya bisa terdiam, tapi terdengar suara isakan entah dari siapa. Mereka semua tahu betapa beratnya harus kehilangan seseorang yang mereka cintai. Apalagi setiap hari mereka selalu berkumpul bersama dan harus ditinggal untuk selama-lamanya. Banyak rencana yang masih belum terlaksana, tapi manusia bisa apa jika Tuhan sudah berkehendak. Akhirnya hanya bisa menerima dengan pasrah dan Ikhlas, meskipun awalnya terasa sulit. Satu per satu orang mulai meninggalkan tempat pemakaman tersebut setelah mengucapkan bela sungkawa kepada pihak keluarga. Sekarang di tempat itu hanya tinggal Aswin, Dista, dan juga Serra. Sedangkan kedua orang tua Dista dan Aswin sudah pulang lebih dulu karena harus menemui tamu yang datang untuk melayat. Entah suasana berkabung ini kapan akan berakhir, tapi yang jelas mereka masih sedih dengan kepergian Kalista. “Serra sayang, ayo kita pulang!” ajak Dista dengan suara lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN