Sebuah Wasiat

1316 Kata
“Kamu ngomong apa sih, Sayang. Jangan ngomong sembarangan, kan kamu tahu kalau itu nggak baik,” ujar Aswin dengan penuh kelembutan. Meskipun di dalam hati pria itu terasa campur aduk karena perasaannya tiba-tiba saja merasa tidak enak, dia tetap harus terlihat kuat di depan sang istri. Dia tidak boleh emosi karena kondisi istrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Di dalam hati pria itu merasa tidak bisa menerima ucapan yang baru saja diucapkan oleh sang istri. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya diam dan menganggap ucapan istrinya itu tidak pernah terucap. Kemudian Kalista menatap suaminya dengan tatapan lemahnya. Namun, sorot itu menyiratkan sebuah permohonan. “Aku mohon, Mas! Nikahi Dista karena Serra masih butuh sosok ibu di dalam hidupnya,” ujar Kalista memohon kepada suaminya. “Kamu ibunya Serra, Sayang. Anak kita butuh kamu, bukan orang lain,” tekan Aswin. Pria itu mencoba meyakinkan sang istri jika anak mereka lebih membutuhkan sosoknya yang memang ibu kandung Serra. Bagaimana bisa Kalista memintanya untuk menikahi adik iparnya yang sudah dia anggap seperti adik sendiri. “Hidup aku nggak lama lagi, Mas. A …,” sahut Kalista, tapi segera terpotong. “Kak Kal …!” “Sayang …!” Dista dan Aswin bersuara secara bersamaan. Kakak dan adik ipar itu tidak suka mendengar perkataan Kalista yang menurut mereka semakin melantur. “Aku nggak suka Kakak ngomong kayak gitu. Kakak harus kuat demi Serra. Jangan menyerah, karena Kakak pasti bisa sembuh dan berkumpul kembali dengan kami,” ucap Dista mulai melemah. Meskipun berusaha untuk tetap tegar, nyatanya air mata gadis itu tiba-tiba luruh. Mana mungkin hatinya tidak sedih ketika mendengar perkataan Kalista yang seperti itu. “Apa yang dikatakan oleh Dista itu benar, Sayang. Kamu pasti sembuh. Tolong, demi keluarga kecil kita, kamu harus kuat dan jangan menyerah, ya,” timpal Aswin membenarkan perkataan adik iparnya. “Ak … akh …!” suara Kalista seakan tercekat. Bahkan, perempuan itu terlihat kesulitan untuk bernapas, meskipun saat ini oksigen sudah terpasang di hidungnya. Tentu saja respon Kalista itu mampu membuat semua orang semakin khawatir. “Sayang …!” “Kakak …!” “Kalista …!” Semua orang bersuara secara bersamaan. Bahkan, Hendrawan yang awalnya berada di ujung bawah brankar kini berjalan mendekat. Semua orang kini mendekat ke arah Kalista karena cemas. “Kak Kal? Kakak kenapa? Hiks …,” tanya Dista dengan raut wajah cemas. Air mata gadis itu lagi-lagi luruh tanpa dia perintah. Begitu juga dengan Ayu. Wanita paruh baya yang terlihat sedih itu juga menangis ketika melihat keadaan putri sulungnya yang terlihat seperti sedang kesulitan untuk bernapas. Aswin langsung memencet tombol merah yang ada di dekat brangkar sang istri. Meskipun dia seorang dokter yang cukup berpengalaman, melihat istrinya yang seperti itu tetap saja membuatnya panik. “Sayang! Hei … kamu dengar, Mas? Kalista? Sayang?” panggil Aswin terus menerus sambil menepuk pelan pipi sang istri. Keadaan Kalista yang sudah sangat lemah itu pun berusaha menggapai tangan Aswin dengan sekuat tenaga. Dia ingin menyelesaikan permintaannya yang belum disetujui oleh mereka berdua. “Ma … mas, a … ku mohon nikahi Dista. To … long turuti permintaan tera … khir ku,” tutur Kalista dengan terbata-bata dan suara yang terdengar lirih. Untuk mengatakan itu, perempuan itu harus mengumpulkan seluruh tenaganya. Dia tidak ingin ada yang masih belum tersampaikan karena dia sendiri tidak tahu keadaannya setelah ini. “Sayang, Mas mohon jangan bicara seperti itu,” balas Aswin pelan. Tentu saja mana mungkin dia tega menyanggupi permintaan Kalista yang menurutnya sangat konyol itu. Saat ini yang menjadi fokusnya adalah kesembuhan sang istri dan dia tidak akan menganggap itu serius. “Ka … mu ma…u kan, Mas?” tanya Kalista dengan nada suara yang semakin melemah. Perempuan itu terus mengejar jawaban dari sang suami. Dia harus bisa membuat pria itu mau memenuhi permintaannya. “Mas As … win, ak … u mo … hon,” sambung Kalista terus memohon. Wajah Kalista semakin pucat dan tatapan matanya semakin sayu seakan sulit untuk dia buka. Melihat itu pun Aswin menjadi tidak tega. Dokter senior itu pun menatap lekat dan dengan berat hati akhirnya pria itu pun menganggukkan kepalanya. Seketika Kalista pun tersenyum dan beralih menatap ke arah sang adik yang sejak tadi menatap dirinya. Sekarang dia harus meminta kepada adik semata wayangnya untuk memenuhi permintaannya. “Dis … ta, kamu ma … u kan meni … kah dengan Mas As … win? Kakak mo … hon sama ka … mu,” tutur Kalista kembali memohon, tapi kini kepada adiknya. Dista pun terdiam setelah mendengar ucapan kakaknya. Baginya permintaan kakaknya itu sangat sulit untuk dia terima. Hatinya sedang bergejolak ingin menolak, tapi melihat keadaan kakaknya yang semakin lemah membuat hatinya tidak tega dan memilih untuk bungkam. “Akh …!” pekik Kalista kesakitan. Dista yang mendengar kakaknya kesakitan seketika tersadar dari diamnya. Kemudian ia pun menatap perempuan itu dengan wajah yang sudah diliputi rasa kecemasan. “Kakak …!” panggil Dista. “Dis … ta mau meni … kah sama Mas As … win? Wak … tu Ka … kak udah nggak ban … yak lagi,” ucap Kalista dengan tatapan memohon yang dia tujukan kepada sang adik. Napas perempuan itu juga terlihat tersengal-sengal seperti kesulitan untuk meraup oksigen untuk paru-parunya. Padahal saat ini alat bantu pernapasan berupa selang oksigen sudah terpasang. Dista pun langsung menatap ke arah kedua orang tuanya yang ternyata juga tengah menatapnya. Anggukan dari sang ayah membuat Dista semakin bingung untuk memutuskan semuanya. Kemudian tatapannya beralih ke arah Aswin, suami dari kakaknya. Dista bisa melihat lelaki itu juga menganggukkan kepala ke arahnnya. Benar-benar situasi yang sangat sulit baginya. Detik kemudian, Dista kembali menatap sang kakak. Sebelum dia membuka suaranya, Dista pun mengambil napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. “Aku mau, Kak …,” jawab Dista pada akhirnya. Entah ini merupakan keputusan yang benar ataukah tidak, karena gadis itu juga tidak mengetahuinya. Dia hanya mengikuti apa kata ayah dan kakak iparnya saja. Di samping itu dia berharap setelah memberikan jawaban, bisa membuat kakaknya merasa tenang dan bisa segera sembuh. Seketika Kalista pun tersenyum dan mengangkat tangannya untuk menggapai tangan sang adik. Dista yang melihat itu pun langsung menyambut tangan kakaknya dan langsung menggenggamnya. Tanpa ada yang menduga jika Kalista ternyata membawa tangan sang adik dan tangan suaminya untuk saling berpegangan di atas dadanya. “Terima kasih sudah mau menuruti wasiat terakhirku …,” ucap Kalista, tapi tidak sampai terselesaikan karena kedua mata perempuan itu tertutup dengan perlahan. Tangan Kalista terjatuh bersamaan dengan mata yang tertutup. Dengan bibir tersenyum tipis, perempuan itu seperti tidak ingin membuka matanya lagi. “Kak Kalista …!” “Sayang …!” “Kalistas …!” Keempat orang dewasa yang ada di dalam ruangan itu pun langsung berteriak histeris. Mereka bersama-sama memanggil Kalista berharap perempuan itu mau membuka matanya kembali. Posisi Aswin yang berada di dekat istrinya pun langsung memeriksa denyut nadi perempuan itu. Seketika air matanya pun luruh. Akhirnya air mata yang dia tahan sejak awal kini akhirnya luruh juga tanpa dia perintah setelah memeriksa nadi istrinya. Tubuh tegak yang tadi berdiri sangat kokoh, sekarang menjadi lemah dan tak berdaya. Bahkan, suara tangisan pria itu juga lolos dari bibirnya sambil memanggil sang istri. “Sayang … bukalah matamu, Sayang!” panggil Aswin dengan air mata yang sudah berjatuhan dari pelupuk matanya. Dista yang melihat respon dari kakak iparnya semakin khawatir akan kondisi sang kakak. Sorot mata serta raut wajah gadis itu tidak dapat ditutupi oleh apa pun selain rasa cemas. “Kas Aswin, Kak Kalista kenapa?” tanya Dista dengan penasaran. Dista sudah tidak sabar ingin mengetahui kondisi kakaknya saat ini. Padahal dia mengira jika Kalista sedang tertidur karena merasa lemas. Mendengar pertanyaan dari adik iparnya membuat Aswin pun langsung menatap ke arah Dista dan kedua mertuannya dengan tatapan sendu. “Kalista sudah meninggalkan kita semua,” tuturnya lemah. Deg …! Bagaikan disambar petir, ucapan Aswin mampu membuat ketiga orang yang mendengarnya menjadi diam terpaku. Mereka masih bingung untuk mencerna perkataan dari pria tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN