Kabar Yang Mengejutkan
“Dis …,” panggil seorang perempuan melalui ponsel.
Dista sangat mengenal pemilik suara itu. Suara lembut keibuan milik wanita yang telah melahirkannya.
Namun, entah kenapa kali ini nada suara itu terdengar berbeda dari biasanya. Mendengar itu tentu saja membuat Dista seketika merasa khawatir akan perempuan paruh baya tersebut.
“Bunda kenapa?” tanya Dista dengan cemas.
“Kamu ke rumah sakit Angkasa sekarang ya, Sayang,” pinta sang bunda dengan suara yang masih terdengar serak dan sedikit bergetar.
Dista pun semakin cemas. Gadis cantik pemilik mata hazel itu semakin tidak bisa berpikir dengan jernih. Pikirannya seketika kalut ketika bundanya memitanya datang ke rumah sakit besar yang ada di ibu kota.
“Bunda sakit? Atau ayah?” tanya Dista bertubi-tubi dengan penasaran.
“Kamu ke sini sekarang Bunda tunggu!” pungkas sang bunda seperti sengaja tidak ingin menjawab pertanyaan dari putri bungsunya.
Ya … Adista Alindra merupakan putri kedua dari pasangan Hendrawan Wijaya dan Ayu Wijaya. Meskipun dia putri bungsu, tapi gadis itu sangat mandiri. Kesuksesan telah dia raih di usia muda dengan prestasi melalui karya-karyanya sebagai perancang busana.
Bahkan, butiknya sudah memiliki cabang di kota-kota besar yang ada di dalam negeri. Dista memang merupakan salah satu perancang muda berbakat yang terkenal di dunia fashion.
Sambungan telepon pun terputus. Bukan, lebih tepatnya memang sengaja diputus oleh bundanya secara sepihak.
“Putus! Pasti telah terjadi sesuatu sama Bunda,” ucap Dista pada dirinya sendiri sambil menatap layar ponselnya yang telah padam.
Dista yang merasa khawatir jika sesuatu telah terjadi kepada bundanya pun bergegas pergi ke rumah sakit yang telah disebutkan oleh wanita paruh baya itu.
Design yang belum selesai pun terpaksa dia tinggalkan begitu saja di atas meja. Dia harus segera tiba di rumah sakit agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan perasaan yang diliputi penasaran dan kecemasan, membuat gadis itu berkendara dengan kecepatan di atas rata-rata. Entah kenapa saat ini rasanya begitu lama untuk sampai di tempat tujuan.
Begitu mobil sudah dia parkirkan dengan sempurna, ia pun kembali menghubungi bundanya. Dia ingin bertanya harus menuju ke mana setelah ini.
“Halo, Bunda. Dista sudah di rumah sakit. Bunda di mana?” tanya Dista setelah mendengar suara bunda yang menjawab panggilannya.
“Kamu langsung ke ruangan ICU nomor tujuh ya, Sayang. Bunda tunggu kamu di sini,” jawab bunda menjelaskan.
Suaranya masih terdengar lembut keibuan. Namun, kesedihan tidak bisa ditutupi. Ya … Ayu saat ini sangat sedih. Bahkan, dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa karena sangking sedihnya.
Setelah mengetahui keberadaan bundanya, Dista pun segera mengayunkan kakinya ke ruangan tersebut. Dengan langkah yang terburu-buru, gadis itu berharap segera tiba di sana secepatnya.
Dengan mengenakan dress putih selutut, perempuan itu menuju ke ruangan ICU berada. Penampilannya sangat cantik dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai bergerak mengikuti gerakan tubuhnya.
Penampilan yang manis dan dapat menyita perhatian orang-orang yang melihatnya. Hanya dengan dress simpel dan riasan natural membuat gadis itu tampil sempurna. Namun, semua itu tidak menutup raut wajahya yang tampak sedang berpikir keras mencoba menebak-nebak apa yang telah terjadi karena bundanya tidak menjelaskan selain memintanya datang ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, Dista telah sampai di ruang ICU. Seketika langkah kakinya terhenti ketika melihat ayah, bunda, dan juga kakak iparnya, Aswin berdiri di depan ruangan dengan wajah yang diliputi kesedihan.
Netranya juga menangkap jika saat ini bundanya menangis dan sedang ditenangkan oleh ayahnya. Sungguh, pemandangan yang sangat mengiris hati.
“Ada apa ini?” tanya Dista di dalam hati.
Dengan perlahan, gadis itu melangkah menghampiri ketiga orang tersebut dengan perasaan yang terus bertanya-tanya siapa yang berada di dalam ruangan tersebut, hingga membuat bundanya menangis seperti itu.
Pikiran Dista pun langsung melayang kepada sosok kakak perempuannya yang saat ini tidak berada di sana. Ya … hanya kakaknya yang bernama Kalista Wijaya yang tidak terlihat.
Namun, pikiran itu langsung dia tepis. Bisa saja kakaknya saat ini memang sedang ada keperluan lain.
“Mungkin Kak Kalista sedang menjemput Serra pulang sekolah,” batin Dista mencoba berpikiran postif.
Pemikiran gadis itu pun terus berputar-putar pada sosok siapakah yang berada di dalam sana hingga mampu membuat bundanya bersedih seperti itu.
“Bunda …,” panggil Dista lirih.
Suara gadis itu pun nyaris tak terdengar. Dia bingung harus bersuara seperti apa karena melihat suasana sedih seperti saat ini.
Semua orang yang berada di sana pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang baru saja datang tersebut. Dia melihat mata kakak iparnya yang merah seperti baru saja menangis.
Kemudian ia pun semakin memangkas jarak dan mendekati ketiga orang yang saat ini tengah menatapnya. Namun, tak lama karena Aswin segera mengalihkan kembali pendangannya ke arah lain.
“Bunda, kenapa se …,” ucap Dista, tapi sudah terpotong dengan dekapan sang bunda.
Belum sempat Dista menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja bundanya langsung mendekapnya. Perempuan paruh baya itu langsung terisak lagi. Tangisannya lebih kencang dari sebelumnya.
Seketika Dista pun terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena sibuk mencerna apa yang sebenarnya sudah terjadi. Akhirnya ia pun mengulurkan tangannya membalas pelukan sang bunda.
“Dis … Kalista, hiks … hiks,” ungkap bunda di sela-sela isakannya.
Mendengar nama sang kakak disebut, seketika membuat Dista bingung. Perempuan itu tidak mengerti dengan maksud ucapan sang bunda karena memang perempuan paruh baya itu tidak menjelaskan padanya.
“Kak Kalista kenapa, Bun? Bukannya Kak Kal sedang menjemput Serra pulang sekolah? Terus ken …,” tanya Dista yang masih tidak mengerti dengan situasi saat ini, tapi lagi-lagi terpotong oleh suara sang bunda.
“Kalista sedang berada di dalam ruangan itu. Kakak kamu sedang berjuang di dalam sana,” jawab bunda yang sengaja memotong ucapan Dista.
Deg …!
Jantung Dista pun langsung berdetak dengan cepat ketika mendengar penuturan dari sang bunda. Tangan yang sebelumnya membalas pelukan itu pun terlepas dengan sendirinya.
“Mak … sud Bun … da apa? Kalau Kak Kal lagi berjuang di dalam sana,” tanya Dista yang kini menatap lekat ke manik sang bunda.
Sungguh, Dista masih bingung dengan kejadian saat ini. Padahal yang dia tahu kakaknya baik-baik saja, tapi sekarang kenapa seperti ini. Ada apa sebenarnya ini?
“Kakak kamu sakit. Di … a memliki penyakit kanker dan kini kanker itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Sekarang Kakak kamu di dalam sedang berjuang untuk melawan itu. Hiks …,” tutur bunda menjelaskan.
Jawaban dari bundanya membuat Dista pun langung menatap ke arah ruangan yang berada di depannya dengan tatapan kosong. Bahkan, tubuhnya sempat terhuyung ke samping. Namun, beruntungnya tubuh ramping itu langsung ditangkap oleh Aswin yang tak lain adalah kakak iparnya.
Saat ini rasanya seluruh tubuh Dista mendadak kaku sehingga tubuh itu luruh dan hampir saja terjatuh jika Aswin tidak berhasil menahannya. Lagi-lagi pria itu kembali menopang tubuh adik iparnya yang terlihat terpukul sama seperti dirinya.
Kali ini Dista langsung menatap ke arah laki-laki itu dengan air mata yang sudah mengalir dari pelupuk matanya. Banyak yang ingin dia sampaikan kepada laki-laki yang berstatus sebagai kakak iparnya tersebut.
“Kenapa Kak Aswin nggak pernah bilang kalau Kak Kal sakit? Kenapa, Kak?” tanya Dista dengan suara pilu.
Kabar mengenai penyakit Kalista memang menjadi pukulan telak bagi perempuan itu. Ingin rasanya dia memungkiri kenyataan ini, tapi nyatanya yang ada di hadapannya sudah mampu menjelaskan kebenaran ini.
“Seharusnya Kakak sebagai seorang suami bisa menjaga dan merawat Kak Kal dengan baik. Seharusnya Kakak bisa mengobati dan membawa Kak Kal berobat supaya bisa sembuh dari penyakitnya,” ungkap Dista dengan tatapan yang diliputi kesedihan.
Tentu saja dia merasa ada peran penting kakak iparnya terhadap sakitnya sang kakak, menurutnya. Mungkin jika pria yang ada di hadapannya ini bisa membawa kakaknya berobat lebih awal pasti semuanya bisa disembuhkan.
“Kakak kan seorang dokter, tapi kenapa Kakak nggak bisa mencegah hal itu? Kenapa, Kak Aswin?” pekik Dista dengan emosional.