Dista sampai meremas kerah baju kakak iparnya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran Aswin yang menurutnya tidak mampu bertindak cepat untuk menyembuhkan istrinya sendiri, sedangkan untuk menyembuhkan pasien lain, tentu saja itu tidak perlu diragukan lagi.
Aswin hanya bisa terdiam dan membiarkan adik iparnya melakukan itu semua. Dia juga merasa bersalah karena tidak menyadari tanda-tanda penyakit istrinya sejak dini.
“Memang semua ini salah Kakak. Sebagai seorang suami harusnya Kakak peka dengan gejala awal yang dialami oleh Kalista,” sahut Aswin dengan suara bernada lemah.
Lagi-lagi Aswin menyalahkan dirinya sendiri karena terlambat mengetahui penyakit yang diderita oleh sang istri. Padahal dia adalah dokter senior, tapi kenapa dia bisa sampai kecolongan seperti ini.
Apa mungkin karena dia terlalu sibuk, hingga tidak memperhatikan kesehatan keluarganya, terutama kesehatan sang istri? Dia tahu bagaimana kondisi tubuh setelah penyakit kanker menyebar ke seluruh tubuh. Oleh karena itu, ada kecemasan tersendiri di dalam hati pria itu setelah mengetahui semua ini.
Apalagi tadi dokter Deni juga sudah berbincang dengannya. Bahkan, kemungkinan terburuk sudah terpampang di depan mata. Namun, mana mungkin dia berani memberitahukan semua itu kepada mertua dan adik iparnya, karena yang ada mereka akan syok dan bisa saja sampai pingsan.
“Dista, sudah! Aswin juga nggak tahu kalau Kalista mempunyai penyakit kanker. Kakak kamu menyembunyikan semua itu dari kita semua, bahkan suaminya sendiri,” tutur Hendrawan.
Apa yang dikatakan oleh kepala keluarga Wijaya memang benar. Semua tidak ada yang mengetahui penyakit Kalista. Perempuan itu memang sengaja menyembunyikannya karena tidak ingin membuat keluarganya khawatir.
Dista yang mendengar penuturan dari ayahnya pun seketika melepaskan remasan tangannya dari baju kakak iparnya dan beralih menatap sang ayah dengan air mata yang masih mengalir.
“Ayah, hiks …,” lirih Dista kembali terisak.
Sungguh, kabar yang baru saja dia terima sangat membuatnya syok. Ingin memungkirinya, tapi semuanya terpampang nyata di depan matanya.
Lelaki paruh baya itu pun langsung memeluk anak bungsunya. Kemudian pria itu menenangkan Dista, meskipun jauh di lubuk hatinya saat ini juga sangat mengkhawatirkan sang anak yang sedang berjuang untuk hidupnya di dalam sana.
“Kita semua harus tabah dan kuat menghadapi semua ini. Jangan tunjukan kesedihan kita di depan Kalista supaya dia nggak ikutan sedih. Emosinya harus tetap stabil demi menjaga imun tubuhnya tetap tinggi,” tutur Hendrawan sambil mengelus punggung putri bungsunya.
Meskipun sedih dan terpukul, tapi sebagai seorang ayah dan kepala keluarga, pria paruh baya itu harus terlihat tegar dan bisa menenangkan kedua perempuan yang saat ini sedang terpukul karena keadaan seseorang yang tengah berada di dalam ruangan tersebut.
“Kita doakan semoga Kalista, Kakak kamu baik-baik saja dan bisa berkumpul lagi dengan kita semua seperti sedia kala,” sambung Hendrawan kembali.
Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu sebenarnya berbicara bukan untuk Adista saja, tapi buat semua yang ada di sana. Dia tidak ingin Kalista melihat mereka bersedih dan nantinya malah membuat putri sulungnya itu juga ikut bersedih.
Saat ini hanya itu yang bisa mereka lakukan. Berdoa dan meminta keajaiban Tuhan mengenai kesehatan Kalista. Ya … saat ini hanya itu yang ada di dalam pemikiran semua orang yang ada di depan ruangan tersebut.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan pun terbuka dari dalam. Detik kemudian muncul-lah seorang dokter dan berjalan menghampiri keempat orang yang tampak sedang bersedih itu.
“Permisi, Ibu Kalista ingin bertemu dengan suami dan keluarganya. Silahkan masuk!” pinta dokter yang selama ini merawat Kalista.
Dokter laki-laki yang diketahui bernama Deni itu pun mempersilahkan keluarga Wijaya untuk masuk dan bertemu dengan salah satu pasiennya tersebut.
“Terima kasih, Dokter Deni. kalau begitu kami masuk dulu,” sahut Aswin.
Ya … Aswin memang mengenal baik dokter Deni karena mereka adalah rekan sejawat yang bekerja di rumah sakit yang sama. Deni memang sengaja tidak memberi tahu Aswin karena permintaan Kalista.
Sebagai seorang dokter, tentunya dia harus menjaga privasi pasien-pasiennya, meskipun dia sudah membujuk perempuan itu untuk bercerita kepada sang suami.
Sebelum mereka masuk, Dista dan Ayu mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Kedua perempuan yang berbeda usia itu tidak ingin membuat Kalista sedih, meskipun mata mereka masih terlihat sembab.
Keempat orang dewasa itu pun mulai masuk satu per satu ke dalam ruangan dan mereka langsung disambut oleh suara alat penunjang kesehatan yang berdenting nyaring.
“Ya ampun, kasihan Kakak,” batin Dista setelah melihat kondisi kakak perempuannya.
Di atas brankar terdapat seorang perempuan yang sedang terbaring lemah dengan dibantu selang oksigen yang terpasang di hidung. Di samping itu juga ada beberapa alat penunjang lainnya yang Adista sendiri tidak tahu fungsinya untuk apa, selain infus dan alat untuk detak jantung.
“Kak Kal …,” panggil Dista dengan suara lirih.
Gadis itu langsung berjalan menghampiri dan menggenggam tangan perempuan yang selama ini dia panggil kakak setelah mendudukkan tubuhnya di bangku yang ada di sisi brankar, sedangkan bundanya duduk tepat di sisinya. Hatinya sangat miris ketika melihat wajah pucat Kalista saat ini.
“Gimana keadaan, Kakak? Kenapa nggak bilang ke Dista kalau Kakak sakit? Kalau tahu kayak gini, Dista bakalan bawa Kakak berobat ke luar negeri supaya Kakak bisa sembuh,” ujar Dista dengan panjang lebar.
Seketika Kalista pun terkekeh setelah mendengar omelan dari adik perempuannya. Gadis itu memang selalu cerewet dan selama ini tidak ada yang bisa membantah ucapannya, kecuali ayah dan bundanya.
“Hehe … kamu ini tetap aja bawel,” sahut Kalista dengan suara lemahnya.
Berbeda dengan Dista. Perempuan itu justru menahan tangisnya agar tidak sampai keluar. Jangan sampai kakaknya melihat dirinya menangis karena dia khawatir jika Kalista akan ikut bersedih.
Namun, nyatanya Kalista mengetahui sekuat apa adiknya menahan tangis. Kemudian ia pun mengusap pelan kepala gadis itu dengan sayang.
“Dista, jangan nangis. Kakak nggak apa-apa, tapi apa Dista mau nurutin permintaan Kak Kal?” tanya Kalista dengan sisa-sisa tenaganya.
Mata perempuan itu tampak sayu ketika menatap ke arah adiknya. Kalista seakan sedang mengumpulkan semua tenaga untuk bisa berbincang dengan suami dan keluarganya.
“Permintaan apa? Permintaan apa pun akan Dista turutin asal Kakak bisa sembuh,” balas Dista dengan antusias.
Ya … gadis itu sangat berharap jika kakak perempuannya bisa sembuh seperti semula. Dia ingin melihat Kalista kembali ceria dan sering mengomelinya jika dirinya sudah mulai jahil pada Serra, keponakannya.
Kalista pun langsung menyunggingkan senyumnya. Lembut seperti biasanya. Matanya juga menatap ke arah Dista dengan tatapan sayang, meskipun terkesan sayu. Detik kemudian ia pun mulai membuka suaranya kembali untuk menyampaikan permintaannya.
“Menikahlah dengan Mas Aswin!”
Deg …!
Dista pun tersentak dan tercengang setelah mendengar permintaan Kalista. Ia pun langsung menatap kakaknya dengan tatapan terkejut dan tidak percaya. Kenapa dari sekian banyaknya permintaan, kakaknya malah menginginkan permintaan tersebut?
“Apa … Kak Kal bilang apa barusan?” batin Dista.
Entah kenapa bibirnya seakan tidak mampu untuk mengeluarkan suaranya, meskipun di dalam hatinya sedang bermunculan berbagai pertanyaan.
“Apa Kakak lagi ngingau?” sambung Dista.
Jika dia boleh jujur, permintaan itu sangat tidak mungkin untuk dia setujui karena bagi Dista itu merupakaan permintaan yang mustahil. Bagaimana dia bisa mengabulkan permintaan kakaknya yang sangat konyol ini, menurutnya.
“Gila … ini bener-bener gila!” umpat Dista di dalam hati.
Bukan hanya Dista yang terkejut. Semua yang ada di sana juga terlihat melebarkan matanya. Bahkan, ayah dan bundanya juga terlihat saling berpandangan seakan ingin memastikan jika yang mereka dengar tidak keliru.
“Kenapa Kalista meminta itu pada Dista?” batin bunda sambil menatap ke arah sang suami dengan tatapan kebingungan.
Entah kenapa tiba-tiba saja perasaan bunda tidak enak. Ucapan putri sulungnya merupakan sesuatu yang tidak biasa, menurutnya.
“Ya Tuhan …,” desah bunda Ayu di dalam hati.
Bahkan, Aswin tampak langsung mengerutkan dahinya. Pria itu juga tidak mengerti kenapa istrinya bisa melantur seperti itu. Ya … menurutnya saat ini Kalista sendang melantur dan bisa saja itu imbas dari penyakit yang dia derita, menurutnya.