Jeritan Hati Dista

1344 Kata
“Bener lo, Dis! Lo, harus kasih tahu kita-kita kalau si Aswin mulai berulah, ya,” pinta Rio menegaskan kembali. “Lo, tenang aja, Kak. Gue pasti akan ada di garda terdepan kalau sampai Kak Aswin berani macam-macam sama lo,” sahut Monika, adik sepupu Dista yang terkenal bar-bar dan tomboy dari pihak ayah. Dista pun seketika tersenyum di saat mendengar ucapan para sepupunya itu. Hatinya pun terasa menghangat ketika mendapatkan perhatian dari semuanya. Ternyata sepupunya sangat perhatian padanya. “Kalian tenang aja, gue bisa jaga diri kok, dan kalian nggak usah khawatir sama gue. Tapi, gue makasih banget karena kalian udah care dan udah khawatirin gue. Kalian benar-benar sepupu gue yang paling the best,” sahut Dista sambil mengacungkan kedua jempolnya. “Dista …!” panggil seseorang. Seketika kelima orang yang sedang duduk di kursi taman itu pun menoleh ke arah asal suara secara bersamaan. Netra mereka langsung menangkap sosok pria bertubuh sempurna yang sangat familiar. Ya … dia adalah Aswin yang sengaja menghampiri wanita yang baru saja dia nikahi. “Ada apa, Kak?” tanya Dista. “Di panggil Ayah sama Bunda ke ruang keluarga,” jawab Aswin dengan wajah datar tanpa ekspresi. Dista pun langsung menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari suaminya. Ya … kini pria itu telah resmi menjadi suami meskipun tanpa cinta di dalamnya. Kemudian Dista beralih menatap ke arah sepupunya sambil hendak berdiri dari duduknya. Dia harus segera pergi menemui ayah dan bundanya karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya itu menunggu. “Gue masuk dulu, ya,” pungkas Dista. Setelah mendapatkan anggukan dari para sepupunya, Dista pun langsung menghampiri Aswin dan kemudian sepasang suami istri itu pun berjalan bersama-sama menuju ke ruang keluarga. Setelah Dista sampai di sana ternyata bukan hanya ada ayah dan bundanya. Tampak kedua mertuanya juga duduk di sofa ruang tamu tersebut. Sepertinya ada sesuatu hal penting yang ingin mereka sampaikan kepada dirinya dan juga Aswin, menurutnya. Karena jika bukan sesuatu hal penting mana mungkin mereka sampai memanggilnya untuk masuk. Setelah mendudukkan diri bersama dengan Aswin, mereka pun langsung membuka suaranya. Mungkin mereka hanya ingin mengingatkan kembali status Dista dan Aswin saat ini. “Dista dan Aswin …,” panggil Gunawan. Sepasang pengantin baru itu pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah pria paruh baya yang baru saja memanggil mereka. Keduanya sudah siap dengan apa pun yang akan disampaikan oleh para orang tua. “Kalian sekarang sudah sah menjadi pasangan suami istri. Papa harap kalian berdua bisa menerima satu sama lain dan belajar untuk saling mencintai,” tutur papa Gunawan menasihati. Sebagai orang tua tentunya hanya menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Terlebih lagi sudah ada cucu yang terlibat di dalamnya, semakin membuat para orang tua merasa harus ikut memantau rumah tangga putra dan putri mereka. Apalagi pernikahan mereka tidak didasari rasa cinta. Lebih tepatnya mereka menikah karena sesuatu yang memaksanya. Oleh karena itu, mereka pun harus bisa lebih bersabar dalam menghadapi pasangan pengantin baru tersebut. “Baik, Pa!” jawab Dista. Berbeda dengan Dista, Aswin yang duduk tepat di sebelah istrinya pun tetap diam. Pria itu seakan enggan menjawab ucapan dari papanya. “Semua barang-barang Dista juga sudah Ayah pindahkan ke rumah Aswin. Sebagai seorang istri kamu harus mengikuti suami kamu ke mana pun dan di mana pun dia berada,” timpal Hendrawan memberi tahu. Meskipun, Dista sudah tahu jika akhirnya akan seperti ini, tapi dia tetap terkejut. Menurutnya kenapa secepat ini dia harus tinggal bersama laki-laki yang beberapa jam yang lalu baru saja menikahinya. Lagi-lagi Dista hanya bisa menghela napas beratnya. Dia tidak memiliki pilihan untuk menentukan hidupnya sendiri hanya karena sebuah wasiat dari kakak perempuannya. “Iya, Ayah …!” jawab Dista sambil menghela napas beratnya. Dadanya sudah terasa sesak dari semenjak kepergian kakaknya. Jika dia hanya berkabung saja mungkin rasa sesaknya bisa sedikit berkurang setelah sekian lama berlalu. Namun, dia harus meneruskan hidup yang sebenarnya tidak dia inginkan sama sekali. “Kenapa harus secepat ini? Apa aku nggak bisa tidur di sini dulu?” batin Dista bertanya-tanya. Rasanya sangat berat untuk pindah ke rumah kakaknya. Biasanya dia sering datang ke rumah itu sebagai adik yang sedang mengunjungi kakak perempuannya. Namun, kali ini berbeda, dia akan datang sebagai nyonya rumah yang baru. Benar-benar membuat dadanya terasa sesak. Kini semakin hari rasa sesak yang dia rasakan terasa kian nyata dan rasanya seakan menghimpitnya. Ingin mengadu, tapi kepada siapa? Karena sepertinya semua orang pasti akan memberikan kata-kata yang sama demi untuk menghibur dirinya. “Oh … iya, Serra biarkan saja tinggal di sini untuk malam ini. Sepertinya dia kelelahan dan sekarang sedang tertidur di kamar Ayah dan Bunda,” lanjut Hendrawan memberi tahu. Mendengar penuturan sang ayah, membuat Dista hanya bisa menghela napas panjang. Entah kenapa jika tidak ada Serra nanti pasti di rumah Aswin akan terasa sangat canggung, menurutnya. Namun, untuk mengajak keponakan yang sekaligus juga putri sambungnya untuk pulang tentunya tidak mungkin. “Aduh … nggak ada Serra berarti aku nggak ada temennya, dong!” keluh Dista di dalam hati. Tentu saja dia hanya bisa mengatakan itu di dalam hati. Mana mungkin dia berani mengatakan secara langsung di hadapan para orang tua dan suaminya. Dia yakin jika saat ini pasti Aswin juga berpikiran hal yang sama dengan dirinya. Mereka tidak saling mencintai, jadi mana mungkin mereka akan bisa menghabiskan waktu berdua saja. Ia pun hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Mungkin dia akan berdiam diri di dalam kamar atau akan tidur lebih awal agar tidak ada interaksi lebih lama dengan Aswin, menurutnya. “Ah … nanti nyampe rumah Kak Aswin aku langsung tidur aja setelah mandi,” batin Dista lagi. Otak cerdasnya saat ini sedang menyusun rencana ketika dirinya tiba di rumah suaminya nanti. Lebih baik dia diam dan menjalankan apa pun dalam diam tanpa harus memberi tahu semua orang apa yang akan dia lakukan. “Apa nggak merepotkan, Yah?” tanya Aswin pada akhirnya. Sudah sejak tadi pria itu terdiam seperti tidak berniat untuk menjawab perkataan dari siapa pun. Namun, begitu menyangkut putri kecilnya, ia pun langsung membuka suaranya. “Tentu nggak, Aswin. Serra itu cucu Ayah, jadi mana mungkin ada kata merepotkan untuk seorang cucu cantik seperti itu,” balas Hendrawan sambil tersenyum. Ya … Serra memang cucunya. Bocah perempuan yang wajahnya sangat cantik seperti boneka itu tentu saja membuat siapa pun betah untuk mengasuhnya. Di samping itu, Serra bukan tergolong anak yang rewel karena dia sangat penurut. Kalista benar-benar telah mendidiknya dengan sangat baik. Akhirnya Aswin tidak bisa berbuat apa-apa. Sama seperti Dista, dia lebih memilih diam dan menurut daripada membuat para orang tua khawatir. Dia pun juga langsung berpikir apa yang akan dia lakukan ketika sampai rumah nanti. “Baiklah, kalau begitu Aswin titip Serra di sini malam ini ya, Yah,” tutur Aswin pada akhirnya. “Tentu …!” balas Hendrawan dengan antusias. Sepasang pengantin baru itu memang tidak mengetahui, jika ini merupakan salah satu rencana yang sudah disiapkan oleh para orang tua. Mereka beranggapan jika Dista dan Aswin sering-sering menghabiskan waktu berdua, tentunya cinta akan segera tumbuh dengan sendirinya. Padahal sebenarnya bisa saja Aswin menggendong putrinya untuk dia ajak pulang ke rumahnya. Namun, dengan mertuanya sudah bilang seperti itu mana mungkin dia berani membantahnya. Pria itu sudah menganggap mertuanya seperti orang tuanya sendiri. Jadi mana mungkin dia berani membantah ucapan dari Hendrawan dan Ayu. Sama seperti dia yang tidak pernah membantah ucapan Gunawan dan Lita, orang tuanya sendiri. “Ya … Tuhan gimana nanti kalau aku hanya berdua dengan Kak Aswin saja. Kenapa Serra harus tertidur segala, sih?” batin Dista lagi. Perempuan itu bingung nanti harus menghadapi Aswin seperti apa. Dia yakin jika nanti pasti suasana yang tercipta antara dia dan suaminya pasti sangatlah canggung. Ingin rasanya Dista menjerit, lalu pergi ke kamar ayah dan bundanya untuk membangunkan Serra agar bisa dia ajak pulang ke rumah suaminya. Namun, akal sehatnya mampu menahannya. Di samping itu orang tuanya pasti akan memarahinya jika hal konyol itu benar-benar dia lakukan. Hendrawan dan Ayu tampak saling berpandangan dengan tatapan yang mengandung sebuah arti. Entah apa yang ada di dalam pemikiran kedua paruh baya tersebut, tapi yang jelas keduanya seakan bisa berbincang hanya melalui tatapan mata saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN