Hendrawan tampak sedang menghela napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Dia tahu jika wasiat dari Kalista sangat sulit untuk dijalankan oleh Dista dan Aswin.
Sebagai orang tua tentu saja dia ingin permintaan terakhir mendiang putri sulungnya bisa terlaksana. Di samping itu, memang hanya Dista yang bisa menggantikan sosok ibu bagi Serra, menurutnya.
“Jadi kamu menolak permintaan terakhir kakak kamu?” tanya Hendrawan sambil menghela napas beratnya.
“Dista sudah bilang, kalau Dista sampai menikahi Kak Aswin, sama saja Dista mengkhianati Kak Kalista, Yah,” tutur Dista yang masih kekeh dengan jawabannya.
Aswin dapat mengerti apa yang dirasakan oleh adik iparnya saat ini. Sebenarnya bukan hanya Dista, dia pun juga merasa berat untuk melakukan apa yang diminta oleh mendiang istrinya.
Meskipun begitu, Aswin harus tetap melakukannya karena ingin menghormati permintaan terakhir Kalista. Lantas ia pun beralih menatap ke arah Dista dengan tatapan yang serius.
“Menikahlah denganku, Dis!” ucap Aswin yang sejak tadi diam.
Akhirnya pria itu pun bersuara setelah sekian lama terdiam dan menyimak pembicaraan antara mertua dan juga papanya. Belum lagi dengan perdebatan antara Hendrawan dan Dista yang seakan tidak akan menemukan titik temu, menurutnya.
“Kak …!” pekik Dista tertahan.
Raut wajahnya sudah terlihat kesal. Bagaimana bisa Aswin dengan mudahnya meminta dirinya untuk menikah dengannya. Apa pria itu sudah tidak menghargai istrinya lagi?
“Kamu mendengar sendiri kalau Kalista menginginkan kita untuk menikah. Itu permintaan terakhir dari Kalista sebelum dia pergi meninggalkan kita semua. Apa kamu mau Kalista di atas sana kecewa dan juga sedih karena permintaan terakhirnya nggak kita wujudkan?” pungkas Aswin.
Pria itu ingin membuat Dista mengerti jika meskipun Kalista sudah meninggal, tapi perempuan itu pasti masih bisa melihat semua yang sudah dia tinggalkan. Apalagi sampai tahu jika permintaan terakhirnya tidak sampai terwujud, tentu bagaimana kecewanya dia.
“Apa kamu ingin kakak kamu di atas sana menjadi nggak tenang karena kamu menolak permintaannya? Ini memang nggak mudah bagi kita berdua, Dis. Tapi, apa kamu nggak ingin menerimanya demi kakak kamu, Kalista?” sambung Aswin.
Pria itu menjelaskan dengan panjang lebar. Apa yang dia katakan memang benar. Semua yang dia lakukan juga demi istri yang dia cintai. Dia pun sama seperti Dista, sulit menerima semua ini. Namun, dia mau melakukan semua ini hanya demi Kalista.
Ya … memang sesayang itu dia pada mendiang istrinya tersebut. Apa pun akan dia lakukan asalkan bisa membuat wanita yang sangat dia cintai itu bahagia. Kini tidak ada lagi yang menjadi prioritasnya kecuali, Serra.
Mendengar semua penuturan dari kakak iparnya, seketika membuat Dista pun terdiam. Dia pun langsung berpikir jika apa yang dikatakan oleh Aswin itu sampai benar-benar terjadi.
“Apa Kak Kal akan kecewa padaku? Apa Kakak akan bersedih di atas sana?” batin gadis itu pun bertanya-tanya.
Saat ini banyak bermunculan pertanyaan dari dalam hati dan pikirannya. Dia pun kembali merenungkan apa yang baru saja dikatakan oleh Aswin padanya. Apa dia memang harus melalukan semua ini?
“Apa nanti Kak Kal nggak akan tenang di atas sana kalau permintaan terakhirnya aku tolak?” batin Dista lagi.
Gadis itu juga terlihat sedang menggeleng-gelengkan kepalanya seakan ingin menghalau sesuatu yang ada di dalam pikirannya. Tentu saja Dista tidak ingin membuat kakaknya kecewa dan bersedih. Meskipun mereka sudah berbeda alam, tapi pasti Kalista akan merasakan semua itu dan tentunya Dista tidak menginginkan semua itu.
Dista tidak sampai berpikir sejauh itu. Mana mungkin dia tega membuat jiwa kakaknya sampai tidak tenang. Tentu saja sangat kasihan. Ya … Dista merasa kasihan kalau sampai semua itu sampai terjadi.
Gadis itu hanya ingin membuat kakaknya pergi dengan tenang, tapi apa dirinya harus bertindak sejauh itu, menikahi suami kakaknya sendiri? Apa dengan mengabulkan permintaan terakhir Kalista, benar-benar bisa membuat kakaknya itu bahagia?
Jika memang dengan mengabulkan permintaan itu akan membuat kakaknya bahagia, maka dengan hati yang berat dia harus mengabulkan permintaan terakhir tersebut.
Cukup lama Dista terdiam, kemudian dia menatap satu per satu orang yang ada di depannya. Semua mata tampak sedang menatapnya dengan penuh harap dan tentunya itu membuat gadis itu langsung menghela napas panjangnya.
“Baiklah, Dista setuju untuk menikah dengan Kak Aswin,” jawab Dista pada akhirnya.
Jawaban yang baru saja terlontar dari bibir manis perempuan itu pun berhasil membuat empat orang paruh baya yang ada di sana langsung menghembuskan napas leganya. Kini mereka bisa tenang karena wasiat Kalista bisa dijalankan dengan baik.
“Berarti secepatnya kita akan melaksanakan pernikahan antara Dista dan Aswin,” sahut Gunawan yang langsung diangguki oleh yang lainnya, kecuali Dista dan Aswin.
Ya … kedua orang itu tampak menatap datar kepada para orang tua. Mereka seakan tidak memiliki pilihan selain harus menjalankan permintaan dari Kalista. Entah apa yang akan terjadi setelah mereka menikah nantinya.
“Serra akan merasa nyaman kalau berada di bawah asuhan kamu, Dis. Bukan orang lain,” sahut Lita, mama Aswin.
Perempuan itu sangat senang karena akhirnya Dista bersedia menikah dengan Aswin. Dia akan merasa tenang karena setelah ini cucunya masih berada di bawah pengasuhan seseorang yang tepat setelah Kalista, menurutnya.
Ya … ketika mengingat gadis kecil itu membuat hati Dista merasa tidak tega jika keponakannya tersebut akan berada di bawah pengasuhan orang lain. Namun, sebenarnya semua itu bukan menjadi suatu masalah karena tentunya dia akan ikut mengasuh gadis kecil tersebut.
***
Setelah sebulan berlalu dan hari ini akhirnya Dista dan Aswin sudah sah menjadi pasangan suami istri. Pernikahan yang dilaksanakan dengan sederhana itu hanya dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak dan juga beberapa sahabat terdekat.
Ya … kedua mempelai memang menginginkan itu karena tidak ingin mengadakan pesta mewah di saat baru saja kehilangan. Meskipun tidak begitu, mereka juga tidak ingin menggelar pesta megah karena pernikahan yang terpaksa ini.
Bagi Dista dan Aswin akad yang sah sudah cukup. Namun, orang tua kedua belah pihak meminta para kerabat untuk menyaksikan pernikahan tersebut sebagai saksi. Ya … apa yang dilakukan oleh para orang tua memang benar, harus ada saksi jika pernikahan antara Dista dan Aswin memang benar-benar terjadi hingga tidak sampai menimbulkan fitnah untuk ke depannya.
Jika ditanya apakah Dista senang dengan pernikahannya, maka jawaban perempuan itu tidak tahu. Apalagi suaminya adalah suami dari mendiang kakaknya yang tak lain adalah kakak iparnya dulu.
Laki-laki yang tidak dekat dengannya dan laki-laki yang tidak dicintainya sama sekali. Meskipun begitu, dia harus tetap bisa menerima dengan ikhlas dan lapang dadaa mengenai pernikahan tersebut. Di mana dia harus menjalankan peran sebagai seorang istri dan sekaligus seorang ibu untuk Serra.
Saat ini Dista, perempuan yang baru saja melangsungkan pernikahan itu tampak sedang berbincang-bincang bersama dengan para sepupunya di halaman belakang. Kedekatan Dista dan juga para sepupunya itu memang tidak diragukan lagi.
Bahkan, mereka terkadang membuat satu hari khusus untuk berkumpul bersama. Mereka memang sengaja meluangkan waktu di tengah-tengah kesibukan mereka masing-masing.
“Dis, kalau si Aswin itu macam-macam, lo jangan sungkan kasih tahu sama kita semua. Meskipun dia itu kelihatannya baik, tapi nggak menutup kemungkinan sifat seseorang akan terlihat berbeda kalau kita sudah tinggal bersama dengannya. Ya … kamu pasti akan tahu kesehariannya,” ucap Rio, kakak sepupu Dista dari pihak bunda.
Ya … pria itu memang tulus mengatakan itu. Di sana sudah menjadi rahasia umum jika pernikahan yang baru saja terjadi itu bukan atas keinginan Dista dan Aswin. Mereka menikah karena wasiat dari Kalista.
Ada yang menatap prihatin kepada Dista karena merasa jika salah satu sepupunya itu tidak memiliki pilihan untuk menikah dengan pria yang dicintainya. Mau tidak mau, Dista harus menikah dengan Aswin sesuai permintaan Kalista.
“Bener kata Bang Rio, sifat asli seseorang itu akan terlihat kalau kita sudah tinggal serumah sama dia,” sahut Dipta, adik sepupu Dista dari pihak ayah.
“Meskipun aku masih belum lulus kuliah, tapi aku ngerti masalah kayak gini. Aku harap Kak Dista nggak menyembunyikan apa pun dari kita semua,” timpal Niken, adik Dipta.
Mereka memang prihatin dengan apa yang sedang di hadapi oleh Dista saat ini. Meskipun salah satu sepupunya itu merupakan orang yang sukses di dalam dunia fashion, tapi nyatanya dia tidak sukses di dalam kehidupan percintaannya.