“Madis suka, kok. Madis cuma kaget aja Serra panggil Madis kayak gitu. Biasanya kan Serra suka panggil Madis, makanya Madis jadi agak sedikit kaget aja dengan panggilan baru itu. Tapi, Madis suka kok dipanggil kayak gitu,” tutur Dista menjelaskan.
Tentu saja dia merasa kaget dan sekaligus terharu dengan panggilan yang dipakai oleh Serra untuknya. Gadis kecil itu ternyata bisa menerima dirinya sebagai seorang ibu dan tentu saja di dalam hati dia sangat bersyukur akan hal itu.
“Apalagi Madis kan udah jadi Mamanya Serra, jadi mulai sekarang dan seterusnya Serra boleh panggil Madis dengan sebutan Mama,” sambung Dista mencoba menjelaskan dengan perlahan agar putri sambungnya itu bisa mencerna ucapannya dengan baik.
Selama ini Serra sangat pintar. Gadis kecil itu selalu bisa menangkap perkataan orang dewasa dengan sangat baik. Dia memang sering bertanya kepada siapa pun jika dia tidak mengerti. Di samping itu rasa ingin tahu bocah itu sangat tinggi.
Serra yang mendengar penjelasan itu pun langsung mengangkat kepalanya kembali dan menatap ke mama sambungnya. Kemudian dia pun kembali memeluk Dista dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya dan tentu saja mama sambungnya itu pun membalas pelukan tersebut dengan sayang.
“Serra seneng karena sekarang Serra mempunyai Mama lagi dan Serra seneng karena yang jadi Mamanya Serra adalah Mama Dista bukan yang lain. Serra sayang sama Mama,” ungkap bocah perempuan itu dengan penuh ketulusan.
Kebanyakan anak sekecil Serra memang tidak bisa berbohong. Dia akan selalu berkata apa yang ada di dalam hati dan apa yang sedang dia rasakan.
Tentu saja apa yang baru saja diucapkan oleh Serra membuat hati Dista pun terharu sekaligus senang. Mungkin ini yang dimaksud oleh kakaknya. Kalista tidak tega jika Serra diasuh oleh orang asing.
“Ma … ma juga sayang banget sama Serra. Sekarang Mamanya Serra ada dua yaitu Mama Kalista dan Mama Dista,” sahut Dista.
Tentu saja perempuan itu tidak ingin menggeser posisi Kalista di hati Serra. Bagaimanapun juga Kalista adalah ibu yang melahirkan Serra yang harus tetap diingat sampai kapan pun, menurutnya.
Tanpa ada yang menyadari jika interaksi antara ibu dan anak itu disaksikan oleh Aswin sejak tadi. Bahkan, ada ayah Hendrawan dan Bunda Ayu yang juga ikut tersenyum melihat interaksi antara Dista dan Serra.
“Mungkin ini maksud Kalista,” batin sepasang paruh baya itu.
Aswin yang melihat jika sang putri sangat menerima dengan baik kehadiran Dista sebagai ibu sambungnya itu pun berpikir kembali. Apakah dirinya juga harus bisa menerima kehadiran perempuan itu di dalam hidupnya sebagai seorang istri dan juga ibu sambung untuk putri semata wayangnya?
“Apa aku harus menerima dia sebagai istriku?”
***
Waktu berlalu begitu cepat. Pagi ini kediaman Aswin Banata tampak sedikit heboh dari pada sebelum-sebelumnya. Bahkan, juga terdengar suara keributan yang berasal dari kamar sang anak gadis. Bocah perempuan itu lupa menaruh kaos kaki putihnya yang ada lambang sekolahnya.
Salah satu buku pelajaran yang akan dia bawa hari ini juga sibuk dia cari-cari. Padahal dari kemarin sore Dista sudah mengingatkan kepada gadis kecil itu untuk menyiapkan semuanya.
“Sayang, ayo Mama bantu menyiapkan buku buat besok,” ajak Dista kepada putrinya.
“Sudah aku siapin kok, Ma,” sahut Serra.
Gadis kecil itu memang tidak berbohong, dia memang sudah menyiapkannya, tapi ada satu yang lupa. Setelah mengerjakan tugas rumahnya dia lupa jika buku tersebut ternyata masih belum kembali ke tempatnya.
“Aduh …! Di mana sih kaos kaki sama bukunya, kok nggak ada? Padahal kan udah Serra taruh di tempat biasanya,” gerutu Serra sambil membongkar isi lemari serta rak bukunya.
Sudah berkali-kali dia mencari di tempat yang sama tapi masih saja belum berhasil menemukannya. Ia pun tampak panik karena matahari sudah semakin naik. Serra tidak ingin terlambat ke sekolah, tapi barang yang dia cari masih juga belum ketemu.
“Carinya pelan-pelan, Sayang. Kalau kamu nyarinya kayak gitu nggak bakalan ketemu,” sahut Dista yang sejak tadi juga ikut membantu mencari barang-barang yang dimaksud oleh Serra.
Namanya juga anak-anak, pasti akan panik jika apa yang dia cari belum juga ketemu. Namun, untungnya Serra memiliki rasa tanggung jawab untuk mencari barang-barangnya sendiri tanpa harus merepotkan mamanya, tapi mana mungkin Dista tega membiarkan putrinya itu mencari sendirian.
“Serra tadi udah nyari, Ma. Tapi, nggak ketemu-ketemu. Gimana dong ini? Serra nggak mau terlambat. Rasanya pingin nangis, aja,” sahut Serra dengan raut wajah yang sudah berubah.
Bocah itu memang ingin menumpahkan air matanya. Rasa kesal dan panik tiba-tiba menyerangnya. Ingin rasanya dia mengeluarkan seluruh isi lemarinya, tapi dia kasihan karena pasti mamanya akan merapikannya kembali.
“Eh … jangan nangis, dong. Nanti juga bakalan ketemu, kok,” ujar Dista sambil terus mencari kedua barang tersebut.
Netra Dista pun tanpa sengaja melihat ke arah kaos kaki putih yang sedang dicari oleh Serra. Jika mencari sesuatu dalam kondisi panik, pasti susah untuk menemukannya. Oleh karena itu, kenapa harus tenang.
Sama seperti ketika sedang menghadapi suatu masalah. Jika panik pasti tidak akan bisa berpikir dengan jernih dan jika sudah seperti itu mana mungkin bisa menemukan solusinya, bukan?
Kaos kaki putih itu tertindih oleh beberapa baju dan itu membuat Serra tidak bisa melihatnya dengan baik. Kemudian Dista pun langsung mengambilnya dan melihat ada lambang sekolah sang anak di sana. Ia pun lantas menghembuskan napas leganya sebelum akhirnya menunjukkannya kepada anak gadisnya.
“Serra, ini apa?” tanya Dista sambil menunjukkan kaos kaki tersebut ke sang anak.
Serra pun langsung melebarkan senyumnya. Akhirnya satu barang sudah berhasil ketemu dan sekarang tinggal satu barang lagi yang berlum berhasil dia temukan. Padahal dia ingat jika buku tersebut sudah dia letakkan kembali di rak buku yang ada di dalam kamarnya.
“Astaga …! Kok, Mama bisa nemu sih? Padahal dari tadi aku nyari nggak ketemu-ketemu, loh,” sahut gadis kecil itu sambil mengambil kaos kaki dari tangan mamanya.
Dista pun membalas senyuman Serra. Dia merasa lucu dengan raut wajah putrinya itu. Ternyata jika gadis itu sedang panik akan seperti ini, ya. Mungkin ini yang dirasakan oleh kakak perempuannya ketika menghadapi kepanikan putrinya.
“Kamu aja yang nyarinya grasak grusuk gitu, gimana mau ketemu, coba?” balas Dista sembil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia ingin membuat putrinya itu agar bisa lebih tenang dalam menghadapi apa pun. Kasihan jika kepanikan terus menyelimutinya karena pastinya Serra akan sulit untuk bisa berpikir dengan jernih.
Dia tahu jika putri sambungnya itu masih terlalu kecil untuk semua itu. Namun, apa salahnya dia mencoba melatih Serra sejak dini agar menjadi kebiasaan nantinya.
Berbeda dengan Serra yang baru saja mendengarkan penuturan dari mamanya. Gadis itu pun langsung mengerucutkan bibirnya dan itu membuat Dista semakin gemas dibuatnya.
“Namanya juga lagi panik, Ma. Kalau Serra nggak pakai kaos kaki itu nanti bisa-bisa kena hukum, apalagi sekarang hari senin, pasti bakalan kena razia sama pihak sekolah,” tutur Serra mencoba menjelaskan.
Dista pun mengerti alasan putrinya sepanik itu. Memang jika masih kecil pasti akan takut dengan peraturan sekolah. Padahal pihak sekolah pasti tidak akan memberikan sanksi yang berat.
Namun, dia sangat setuju dengan pihak sekolah yang memberlakukan peraturan seperti itu. Paling tidak itu bisa membuat murid-muridnya menjadi lebih disiplin dan tentunya dia berharap bisa menjadi bekal untuk semua anak-anak tersebut hingga mereka dewasa.
“Sekarang tinggal buku pelajaran yang belum ketemu, kan? Sambil nyari, coba kamu juga ingat-ingat terakhir kali kamu taruh di mana?” tanya Dista kembali.
Seketika bocah perempuan itu pun ingat jika masih ada satu barang lagi yang belum ketemu. Kini dia kembali panik dan kembali mencari di rak buku. Dengan dibantu oleh Dista dia mencari di setiap sela-sela buku yang tertata rapi di rak buku tersebut.
“Duuhhh …! Iya … ya, Ma. Bukunya belum ketemu. Gimana ini, Ma?” tanya Serra dengan raut wajah yang sudah terlihat panik kembali.