“Serra, buku pelajaran kamu kok ada di meja Papa?” tanya Aswin dari arah belakang.
Pria itu tiba-tiba muncul di kamar Serra sambil membawa sebuah buku sang putri. Tadi sewaktu Aswin pergi ke ruang kerja pribadinya, tanpa sengaja dia melihat buku pelajaran milik Serra tergetak di atas meja kerjanya.
Mendengar ucapan dari kepala keluarga, membuat kedua perempuan yang berbeda usia itu pun langsung menolehkan kepalanya secara bersama-sama. Lantas Dista dan Serra beralih menatap satu sama lain seakan sedang berbicara melalui pandangannya.
Detik kemudian Dista langsung menghela napas panjangnya, sedangkan Serra langsung menghampiri sang papa untuk mengambil buku tersebut dari tangan laki-laki itu. Bahkan, gadis kecil itu juga terseyum cerah karena merasa barang-barangnya sudah ketemu semua.
“Oh … iya, Serra baru ingat kalau waktu itu pernah ngerjain tugas di meja kerjanya Papa dan Serra kelupaan pernah taruh buku itu di sana, hehee …,” ucap Serra sambil menunjukkan cengiran khasnya.
Tak lupa gadis itu juga menatap ke arah sang mama dengan tatapan tanpa dosa. Padahal sejak tadi dia telah menghebohkan seluruh penghuni rumah karena panik mencari barang-barangnya.
“Makanya kalau nyari itu harus diingat-ingat dulu atau nyarinya pelan-pelan nggak usah grasak grusuk kayak tadi ya, Sayang. Sekarang ayo berangkat sekolah, nanti telat lagi,” sahut Dista mengingatkan.
Sebagai seorang ibu, perempuan itu pasti akan berpesan hal-hal remeh seperti itu, tapi sangat berarti kepada sang putri. Ya … orang tua yang selalu cerewet pasti menginginkan yang terbaik bagi putra dan putrinya, bukan?
“Ayo, Ma!” sahut Serra dengan antusias.
Gadis itu sudah berbalik hendak pergi ke luar terlebih dahulu, tapi suara Aswin tiba-tiba mengurungkannya. Serra pun kembali membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah sang papa yang masih berada di belakangnya.
“Serra berangkat bareng Papa aja dan sekarang tunggu Papa di mobil dulu,” ucap Aswin pada sang anak.
Bagi gadis itu diantar papa ataupun mamanya tidak menjadi masalah. Apalagi dia tahu jika papanya pasti sekalian berangkat kerja. Mungkin papanya berpikiran sekalian jalan akan lebih efisien.
“Tadi kenapa?” tanya Aswin kepada Dista, setelah melihat putrinya sudah menjauh.
“Oh … itu, Serra lupa naruh kaos kaki sama buku pelajarannya,” jawab Dista memberi tahu.
Setelah mengatakan itu, ia pun bergegas pergi meninggalkan pria itu di tempatnya. Sementara Aswin tidak ingin tinggal diam ketika ditinggal begitu saja. Pria itu langsung mengekor di belakang istrinya yang ternyata berjalan menuju ke depan rumah.
“Serra … tadi Mama ada naruh bekal di dalam tas kamu dan jangan lupa nanti dimakan, ya!” ucap Dista memberi tahu.
Dista tidak ingin putrinya jajan sembarangan dan maka dari itu dia lebih baik menyediakan bekal sehat untuk gadis tersebut. Meskipun setiap makanan dan jajanan sangat dipantau oleh pihak sekolah, tetap saja bagi Dista lebih sehat dan aman jika membawa makanan sendiri dari rumah.
Dulu sewaktu dia seusia Serra, bundanya juga selalu menyiapkan bekal untuk dirinya dan Kalista. Oleh karena itu, apa yang dia lakukan ini juga merupakan sebuah kebiasaan. Dia juga tahu jika sebelumnya kakak perempuannya pasti menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah oleh gadis kecil tersebut.
“Iya, Ma …!” balas Serra dengan senyum cerah yang menghiasi bibirnya.
Wajah polos tanpa dosa terpancar dan tentu saja Dista langsung teringat dengan mendiang kakaknya. Di dalam hati perempuan itu tiba-tiba saja berdenyut, tapi dia bisa segera menguasai dirinya kembali dengan baik.
“Nanti pulangnya biar Mama aja yang jemput,” sambung Dista memberi tahu.
“Nggak usah, Serra biar sama saya saja!” sahut Aswin dari arah belakang.
Dista pun langsung memutar tubuhnya agar bisa menghadap ke arah laki-laki yang baru saja bersuara. Dia sedikit terkejut dengan ucapan pria itu.
“Apa dia kerjaannya sesantai itu sampai-sampai dia bisa menjemput Serra pulang sekolah?” tanyanya dalam hati.
Dista tidak tahu jika pria yang bergelar sebagai suaminya itu akan menjemput Serra pulang sekolah. Namun, dia tidak membantah karena menurutnya itu bukan suatu masalah baginya.
“Serius?” tanya Dista dengan tatapan tidak percayanya.
Meskipun perempuan itu tidak mengatakannya kepada Aswin, tapi pria itu tahu jika perempuan yang ada di depannya ini sedang meragukan ucapannya.
“Iya …!” jawab Aswin singkat.
Seketika Dista pun mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda jika dia mengerti dengan maksud ucapan suaminya. Apa Aswin masih belum mempercayainya atau memang dia tidak ingin merepotkannya, karena Dista tidak mau ambil pusing.
Bagi perempuan itu dia sudah menawarkan diri, tapi kalau yang bersangkutan tidak berkenan dia bisa apa. Mungkin karena mereka sama-sama melakukan pernikahan ini tidak dengan sepenuh hati, jadinya perasaan canggung masih menyelimuti diri masing-masing.
“Saya pergi dulu!” sambung Aswin.
Seketika Dista pun langsung mengulurkan tangannya ke arah Aswin berniat untuk menyalimi pria itu. Bagaimanapun statusnya saat ini sudah menjadi istri Aswin dan tentu sudah menjadi kewajibannya untuk bersikap seperti itu, bukan?
Berbeda dengan Aswin. Pria itu justru mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mengambil beberapa lembar uang berniat ingin memberikannya kepada perempuan yang sedang berdiri di hadapannya ini. Seketika Dista pun langsung berdecak kesal ketika melihat sikap suaminya itu.
Dista langsung mengambil tangan pria itu dan langsung menyaliminya. Tindakan Dista itu pun membuat Aswin seketika terdiam. Dia terkejut dengan sikap mantan adik ipar yang sekarang telah berubah status menjadi istri sahnya.
“Aku bukan mau minta uang, tapi aku cuma mau salim doang. Hati-hati berangkatnya,” tutur Dista.
“Ehemm …,” deham Aswin.
Ya … pria itu langsung berdeham guna menghilangkan rasa gugupnya yang tiba-tiba saja muncul ke permukaan. Kemudian dia pun melangkahkan kakinya menuju mobil berniat untuk segera berangkat.
“Dadaa Mama …!” pekik Serra dari dalam mobil dengan kaca jendela yang masih terbuka.
Gadis kecil itu melambaikan tangannya kepada Dista dengan senyum lebarnya. Dista pun tak lupa membalas lambaian tangan dari anak sambungnya tersebut.
“Daa … hati-hati di sekolah ya, Sayang!” ujar Dista ketika mobil mulai melaju dengan perlahan meninggalkan halaman rumah asri tersebut.
Mobil yang dikendarai oleh Aswin itu pun sedikit demi sedikit mulai menghilang dari pandangan Dista. Kemudian perempuan itu pun masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.
Kali ini perempuan itu memutuskan untuk bekerja dari rumah dan tidak pergi ke butiknya. Dia bisa mengerjakan beberapa design pesanan dari beberapa kliennya dan persiapan rancangan untuk bulan depan.
Ya … perempuan itu setiap tiga bulan pasti akan mengeluarkan beberapa design terbaru untuk butiknya. Dia harus bisa membuat rancangan terus berevolusi.
***
Aswin yang sedang berada di ruangannya pun melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang yang menandakan jika putrinya sudah pulang sekolah.
Lelaki itu pun langsung melepaskan jas dokter yang dia pakai dan bersiap untuk menjemput sang anak. Namun, baru saja hendak melangkahkan kakinya, pintu ruangan itu sudah diketuk oleh seseorang dari luar.
“Masuk …!” pinta Aswin dari tempatnya saat ini.
Detik kemudian pintu pun terbuka dan muncul-lah seorang perawat dan berjalan masuk mendekatinya. Perempuan berusia tiga puluh tahunan itu tampak berjalan dengan langkah lebar agar segera mendekati lelaki tersebut.
“Maaf mengganggu, Dok! Saya hanya ingin menyampaikan kalau pasien atas nama Bagas di ruang tiga harus segera dioperasi. Kondisi anak itu semakin drop dan mengeluh sakit dibagian perutnya,” ucap si perawat yang diketahui bernama Ambar tersebut.
Aswin menanggapi ucapan Ambar seperti biasanya. Pria itu akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan pasiennya dan akan melimpahkan Serra kepada Dista, istrinya.
“Baik, dan seperti yang kita duga kalau keadaan seperti ini akan terjadi. Segera siapkan ruang operasi dan saya akan segera ke sana,” sahut Aswin.
Sebagai seorang dokter memang sudah menjadi kewajibannya untuk menyelamatkan pasien. Dia sudah terikat dengan sumpah dokter sejak dia lulus dulu. Di samping itu, untuk menyelamatkan orang sudah menjadi panggilan jiwanya.
Perawat itu pun langsung keluar dari ruangan tersebut dan bergegas menuju ke ruang operasi untuk menjalankan apa yang baru saja diminta oleh dokter senior tersebut.
Berbeda dengan Aswin. Pria itu dengan cepat mengirim pesan kepada Dista dan meminta kepada perempuan itu untuk menjemput Serra di sekolah karena dirinya ada operasi mendadak.
Setelah mengetik pesan tersebut, ia pun bergegas mengayunkan kakinya ke ruang operasi. Dia harus menyiapkan dirinya juga sebelum menangani pasien di atas meja operasi.