Di sisi lain, Dista yang sedang menunggu kepulangan putri sambungnya tampak sedang menyiapkan makan siang. Dia memasak makanan kesukaan gadis kecil itu. Selama ini dia memang sudah tahu apa makanan yang disukai oleh Serra dan mana yang tidak disukai.
Namun, sudah dua setengah jam yang ditunggu-tunggu tidak kunjung tiba. Setelah melihat jam yang menggantung di dinding, seketika perasaannya tidak enak. Di dalam hati perempuan itu bertanya-tanya ke mana sebenarnya perginya sang anak tersebut.
“Apa Serra ikut Kak Aswin ke rumah sakit, ya? Tapi, perasaanku kok nggak enak gini. Apa aku tanya Kak Aswin aja, ya?” tanya Dista pada dirinya sendiri.
Dia terus bergumam dan bertanya-tanya. Lantas dia pun memutuskan untuk menelepon Aswin. Namun, panggilan pertama tidak diangkat oleh pria tersebut. Dista tidak menyerah sampai di situ. Dia pun kembali mencoba menghubungi suaminya untuk bertanya tentang Serra.
Hingga panggilan kelima pun tetap tidak diangkat oleh pria itu. Tentu saja itu semakin membuat Dista merasa gelisah. Namun, beberapa saat kemudian terdengar suara mobil Aswin memasuki halaman.
Perempuan itu pun lantas bergegas berjalan ke depan untuk menyambut putri dan suaminya. Namun, tak lama setelah itu ia pun mengerutkan dahinya ketika melihat pria itu malah datang sendirian.
“Serra mana?” tanya Dista pada akhirnya.
Aswin yang sedang mengayunkan kakinya pun sontak menghentikan langkahnya dan menatap ke arah perempuan yang ada di depannya dengan raut wajah bingung karena kepalanya masih sibuk untuk mencerna pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Dista.
“Bukannya saya tadi minta kamu untuk menjemput Serra di sekolah? Tunggu-tunggu, jangan bilang kalau Serra belum pulang?” tanya Aswin bertubi-tubi.
Pria itu baru bisa mencerna pertanyaan Dista. Jika perempuan itu bertanya di mana Serra, pasti putrinya masih belum tiba di rumah, menurutnya. Seketika emosinya mulai memberontak naik ke permukaan.
“Serra nggak ada di rumah, di …,” sahut Dista, tapi sudah langsung terpotong oleh ucapan Aswin kembali.
“Kamu itu gimana, sih? Masak ngurus anak kayak Serra aja nggak becus. Saya sudah mengirimkan pesan ke kamu untuk menjemputnya di sekolah. Tapi, kenapa kamu malah nggak jemput dia, hah!” ujar Aswin yang nada suaranya mulai naik dari sebelumnya.
Pria itu seketika kalut karena putrinya belum tiba juga di rumah. Emosinya juga langsung dia tumpahkan kepada Dista. Kenapa istrinya itu lalai dalam mengurus anak, menurutnya.
“Kamu tau, Dis? Kamu itu berbeda dengan Kalista. Kamu benar-benar nggak bisa diandalkan sama sekali, dan itu jauh berbeda dengan Kalista,” potong Aswin cepat.
Kemudian pria itu pun berbalik dan kembali masuk ke dalam mobil. Aswin berniat menjemput sang anak ke sekolah secepatnya karena takut terjadi apa-apa terhadap putri kecilnya.
Setelah kepergian Aswin dari sana, seketika tetesan air mata jatuh membasahi wajah cantik perempuan itu. Baru kali ini dia merasa dibandingkan oleh seseorang dengan kata-kata yang terdengar sangat menyakitkan. Tak lain pelakunya adalah suaminya sendiri.
Bahkan, Dista sangat ingat bagaimana sorot mata Aswin ketika sedang menatapnya tadi. Benar-benar sangat meremehkan. Dia memang bukan ibu kandung Serra, tapi dia sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk bocah perempuan tersebut.
“Perasaan Kak Aswin nggak kirim pesan ke aku,” gumam Dista.
Kemudian ia pun segera mengambil ponselnya dan memeriksa apakah ada pesan masuk dari Aswin. Ternyata tidak ada sama sekali pesan yang masuk ke ponselnya dari laki-laki tersebut.
Tidak hanya sekali dia memeriksa. Karena tidak ingin dituduh lalai, Dista pun langsung memeriksa pesan masuk berkali-kali. Bahkan, dia membuka ruang obrolan antara dirinya dan Aswin dan tetap tidak ada pesan masuk dari pria itu.
“Ngirim pesan dari mananya, sedangkan di ponsel gue aja nggak ada. Kesel banget rasanya dituduh sesuatu hal yang nggak pernah kita lakukan. Lagian ini air mata gue pake jatuh segala,” gumam Dista sambil mengusap kasar wajahnya.
Setelah itu ia pun pergi ke kamarnya. Dia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum bertemu kembali dengan pria tersebut. Dia juga harus membersihkan wajahnya yang terlihat sedikit sembab karena air matanya yang luruh tanpa permisi.
***
Saat ini Aswin sudah tiba di rumah kembali setelah menjemput Serra di sekolah. Pria itu merasa sangat bersyukur karena ketika menjemput putrinya tadi masih ada seorang guru yang menemani Serra di sana.
Rasa lega karena pikiran-pikiran buruk langsung sirna seketika di saat melihat putrinya yang duduk sambil menggambar di salah satu meja guru. Ia pun langsung menghela napas lega ketika melihat itu.
Kini pria itu tengah duduk di ruang tengah sambil membaca beberapa buku mengenai ilmu kedokteran. Sampai pada akhirnya ia pun tersentak ketika sebuah ponsel yang menampilkan ruang obrolan dari aplikasi pesan singkat diletakkan secara kasar di meja depannya.
“Mana pesan yang Kakak kirim ke aku? Nggak ada, kan?” tanya Dista dengan raut wajah yang terlihat sedang menahan kesal.
Bahkan, perempuan itu juga bersedekap tanpa dosa ketika sedang berbicara dengan sang suami. Sudah sejak tadi dia ingin membicarakan masalah ini dengan pria itu, tapi dia harus menunggu Serra menjauh terlebih dahulu agar bocah itu tidak sampai melihat perdebatan antara dirinya dan Aswin.
Berbeda dengan Aswin. Pria itu yang sempat tersentak, kini sudah bisa menormalkan dirinya kembali. Setelah itu ia pun langsung menatap ke arah perempuan yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.
“Jelas-jelas saya sudah mengirimkan pesan itu ke kamu. Paling-paling pesan itu sudah kamu hapus terlebih dahulu sebelum kamu menunjukkannya pada saya,” jawab Aswin dengan entengnya.
Mendengar jawaban yang baru saja dilontarkan oleh pria tersebut seketika membuat Dista pun berdecih. Bagaimana bisa Aswin sampai memiliki pemikiran sepicik itu, menurutnya.
“Cih … kalaupun pesan yang dikirim Kak Aswin emang sudah terkirim ke ponsel aku, pasti pesan itu bakalan muncul, and see! Pesan itu nggak ada sama sekali. Apa Kakak yakin sudah ngirim pesan itu ke aku?” balas Dista dengan panjang lebar.
Dia merasa harus meluruskan semua ini agar tidak semakin berlarut-larut. Sakit rasanya jika dibanding-bandingkan seperti tadi dan tentu saja dia tidak bisa menerima itu. Dia bukanlah tipe perempuan yang akan diam saja menerima semua perlakukan yang menurutnya sangat tidak adil ini.
“Saya yakin sudah mengirimkan pesan itu ke kamu,” kekeh Aswin.
Pria itu masih kekeh dengan jawabannya. Dia memang tidak berbohong karena seingatnya jika pesan tersebut sudah dia kirimkan kepada Dista. Oleh karena itu, kenapa tadi dia sampai berani menuduh Dista telah menghapus pesan terlebih dahulu.
“Oh … iya? Coba buktikan! Sekarang lihat ruang obrolan aku di ponsel Kakak,” pinta Dista bernada tegas.
Perempuan itu sudah kesal dengan sikap Aswin yang terus menyanggah ucapannya. Padahal dia sudah menunjukkan jika benar-benar tidak ada pesan yang terkirim dari kontak pria tersebut.
Mendengar permintaan dari istrinya, seketika membuat Aswin pun langsung membuka ruang obrolan di aplikasi pesan singkat. Dia dengan keyakinannya jika pesan itu sudah dia kirimkan sewaktu di rumah sakit tadi.
Namun, ketika dia memeriksa pesan tersebut, ternyata pesan yang dia kira sudah terkirim, nyatanya masih tersimpan rapi di ruang obrolan tersebut tanpa pernah terkirimkan.
Raut wajah pria itu pun seketika berubah. Dia pun lantas menatap ke arah Dista dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
“Gimana?” tanya Dista lagi.
Seketika rasa bersalah menyelimuti raut wajahnya. Dia tidak pernah menduga jika ternyata pesan yang dia yakini sudah terkirim pada kenyataannya belum sama sekali.
“Sa … saya min …,” ucap Aswin dengan gugup, tapi langsung terpotong oleh suara Dista kembali.
“Kalau Kak Aswin ingin meminta maaf, aku sudah maafin Kakak meskipun kata-kata Kakak tadi siang nyakitin aku. Tapi, nggak apa-apa,” potong Dista masih dengan suara bernada tegas.
Setelah mengatakan itu ia pun langsung berlalu dan meninggalkan Aswin sendirian di ruang tengah dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Dia sudah tidak mau peduli dengan reaksi pria itu kepada dirinya.
Aswin menatap kepergian Dista dengan rasa bersalah yang bersarang di dalam hatinya. Jika dia boleh jujur, kata-kata yang dia lontarkan tadi siang adalah sebuah ketidaksengajaan karena dia yang merasa panik ketika mengetahui putrinya masih belum berada di rumah.
Namun, tanpa sadar dia malah menyakiti perasaan orang lain karena ucapannya tersebut. Apakah dia bisa menarik kembali ucapannya yang sangat menyakiti hati Dista tersebut? Tentu tidak bisa. Oleh karena itu, dia harus lebih berhati-hati lagi dalam berucap agar tidak sampai menyakiti perasaan orang lain, siapa pun itu.