Suasana makan malam kali ini terasa canggung karena kejadian tadi siang. Namun, semuanya dapat dilalui dengan lancar karena ada Serra yang seakan bisa mencairkan suasana canggung tersebut.
Setelah menyelesaikan acara makan malamnya, ketiga orang itu beralih ke ruang tengah dan melanjutkan acaranya untuk menonton televisi yang kini sedang menayangkan acara edukasi anak-anak yang dikemas dalam sebuah film. Tentu saja cara pengemasan yang menarik itu membuat anak-anak seusia Serra sangat menyukainya.
“Mama …,” panggil Serra dengan tiba-tiba.
Suara gadis kecil itu sontak membuat Dista dan Aswin mengarahkan tatapannya kepada Serra secara bersama-sama.
“Iya, Sayang. Ada apa?” tanya Dista dengan suara yang terdengar lembut.
Tampak dengan jelas betapa sayangnya perempuan itu kepada Serra. Bagi siapa saja bisa melihat ketulusan dari sikap dan tatapan perempuan cantik tersebut.
“Mama sama Papa kan udah nikah, ya?” tanya Serra.
Tentu saja pertanyaan gadis kecil itu membuat sepasang suami istri itu pun saling berpandangan untuk sesaat. Entah kenapa putrinya bertanya seperti itu, bukankah Serra juga sudah tahu ketika mereka menikah waktu itu.
“Emm … udah, memangnya kenapa?” tanya Dista balik.
Entah kenapa tiba-tiba saja perempuan itu merasa ada bahaya yang sudah mengintainya di depan mata. Alarm di kepalanya juga berbunyi seakan menandakan jika dirinya harus waspada.
Berbeda dengan Aswin yang masih menunggu putrinya melanjutkan perkataannya. Dia tahu pasti ada sesuatu yang hendak ditanyakan oleh gadis kecil tersebut kepada para orang dewasa karena ada sesuatu yang membuatnya tidak mengerti.
“Bukannya kalau orang yang sudah menikah itu tidurnya satu kamar, ya? Kok Serra lihat Papa sama Mama tidurnya di kamar yang beda? Dulu Papa sama Mama Kalista tidur satu kamar dan tidurnya barengan, ya …,” tanya Serra dengan polosnya.
Gadis itu hanya ingin tahu kenapa papa dan mamanya tidak tidur di kamar yang sama seperti yang dulu dilakukan oleh papa dan mendiang mamanya. Pemikirannya yang polos hanya menginginkan alasan dari orang tuanya saja, tidak lebih.
Mendengar perkataan yang baru saja terlontar dari bibir mungil putrinya, seketika membuat Dista dan Aswin pun membeku. Sepasang suami istri itu tidak pernah menduga jika ternyata putrinya memperhatikan setiap gerak geriknya.
Memang semenjak kepindahan Dista ke rumah ini, perempuan itu menempati kamar yang terpisah dengan Aswin hingga detik ini. Mereka masih belum bisa menerima satu sama lain sebagai pasangan dan maka dari itu lebih baik mereka tidur di kamar yang berbeda agar suasana tidak semakin canggung.
Dista harus bisa memutar otak cerdasnya. Dia harus bisa menemukan jawaban yang masuk akal bagi anak seusia Serra. Begitu pun juga dengan Aswin, pria itu juga harus mempersiapkan jawaban yang bisa masuk ke dalam logika anak-anak.
“Itu karena … karena ranjang di kamarnya Papa rusak, jadi hanya bisa menopang satu orang saja yang tidur di sana. Terus Papa juga nggak bisa tidur kalau bukan di kamarnya sendiri. Makanya Mama dan Papa terpaksa untuk sementara tidur di kamar yang terpisah,” jawab Dista dengan asal.
Di pikirannya memang terlintas sebuah ranjang rusak. Karena mana mungkin dia akan memberikan alasan yang membuat anak sekecil Serra bingung untuk mencernanya. Biarlah untuk sementara gadis kecil itu beranggapan sama seperti dirinya. Untuk ke depannya akan dia pikirkan nanti.
Serra yang mendengarkan penuturan dari mamanya seketika menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia bisa mencerna ucapan wanita dewasa itu dengan sangat baik.
“Oh … gitu. Hampir aja Serra mau tanya ke Opa sama Oma atau Akung sama Uti, kenapa Papa dan Mama tidurnya sendiri-sendiri,” balas Serra dengan polosnya.
“Jangan …!” pekik Dista dan Aswin secara bersamaan.
Tentu saja sepasang suami istri itu sangat kaget mendengat penuturan sang anak. Apa jadinya jika para orang tua sampai mengetahui masalah ini. Pasti keduanya akan kembali didudukkan dan mendapatkan nasihat yang panjang.
“Jangan teriak! Serra kaget …,” sahut gadis kecil itu sambil melotot ke arah orang tuanya.
Dia melotot karena sangat terkejut dengan teriakan papa dan mamanya. Padahal orang tuanya bisa berkata baik-baik dengan nada suara normal, menurutnya. Bahkan, tubuh mungilnya juga sempat berjengkit karena sangking kagetnya.
“Ma … maaf, Sayang!” ujar Dista sambil meraih tubuh Serra dan membawanya ke dalam pelukan.
Perempuan berparas cantik itu merasa menyesal karena sudah kelepasan. Padahal Serra tidak tahu apa-apa, tapi kenapa mereka sampai harus berteriak kepada gadis kecil tersebut.
“Serra jangan bilang-bilang sama Akung, Uti, Opa, dan Oma ya, kalau Papa sama Mama tidurnya misah,” sahut Aswin.
Akhirnya pria itu pun bersuara. Di dalam hatinya juga terbersit sebuah kekhawatiran sendiri jika putrinya sampai mengatakan hal itu kepada para orang tua. Lebih baik dia yang meminta pada putri kecilnya untuk menutup mulutnya.
Kemudian Serra pun melepaskan pelukannya dari dekapan sang mama dan menatap ke arah papanya yang saat ini juga tampak sedang menatap dirinya. Gadis kecil itu masih bingung kenapa papanya memintanya untuk tidak mengatakannya kepada kakek dan neneknya.
“Emangnya kenapa kalau Serra bilang?” tanya Serra kembali.
Kali ini tatapan polos disertai dengan rasa ingin tahu. Ya … gadis itu memang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dia akan bertanya jika tidak mengerti. Itulah kenapa ia sangat cerdas jika dibandingkan dengan anak seusianya.
Aswin kembali harus memeras isi kepalanya. Dia harus mencari alasan yang tepat agar tidak membuat putrinya semakin penasaran. Mungkin dengan kalimat sederhana akan bisa membuat bocah perempuan itu langsung paham dengan ucapannya.
“Eemm … nanti kalau Serra sampai bilang, Papa sama Mama bakalan dimarahin sama mereka. Memangnya Serra mau lihat Papa sama Mama dimarahin?” tanya Aswin balik.
Mendengar perkataan yang baru saja diucapkan oleh papanya seketika membuat gadis itu pun mengerti. Lantas ia pun langsung menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Tentu saja dia tidak ingin orang tuanya dimarahi oleh kakek dan neneknya.
“Serra nggak mau kalau Papa sama Mama sampai dimarahin. Serra janji nggak bakalan bilang, asalkan Papa sama Mama tidurnya bareng kayak waktu sama Mama Kalista dulu,” sahut Serra tanpa disangka-sangka.
Tentu saja permintaan Serra membuat sepasang suami istri pun tertegun. Bahkan, keduanya tampak saling berpandangan satu sama lain seperti sama-sama ingin bertanya.
Setelah beberapa saat tertegun, akhirnya Aswin pun menganggukkan kepalanya seakan menyanggupi permintaan dari sang anak. Untuk saat ini dia harus bisa membuat gadis kecil itu bisa menutup mulutnya terlebih dahulu, sedangkan untuk tidur bersama dengan Dista nanti dia akan mencari alasan lagi, menurutnya.
“Iya … nanti Papa sama Mama bakalan tidur bareng, tapi setelah ranjang Papa selesai diperbaiki, ya?” tanya Aswin balik setelah menjawab pertanyaan sang putri.
“Oke … Serra akan ingat janji Papa,” balas bocah itu dengan santainya.
Dista yang mendengar ucapan Aswin seketika melebarkan matanya dengan sempurna. Bahkan, dengan cepat dia menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakannya.
Namun, respon perempuan itu tidak dihiraukan oleh Aswin. Lebih tepatnya pria itu memang tidak ingin berdebat dengan istrinya karena saat ini masih ada Serra di antara mereka berdua.
“Kalau gitu Serra mau ke kamar dulu, soalnya sudah ngantuk,” ujar gadis kecil itu dengan tiba-tiba.
Kemudian kaki mungilnya melangkah menuju kamarnya setelah bangkit dari duduknya terlebih dahulu. Matanya memang sudah terasa mengantuk dan dia sudah tidak bisa untuk menahannya lagi.
Setelah kepergian Serra, Dista pun juga beranjak dari duduknya dan berjalan melewati Aswin begitu saja. Sekarang sudah tidak ada Serra di tengah-tengah mereka, jadi buat apa dia tetap bertahan di sana, bukan?
“Saya minta maaf atas ucapan saya tadi siang,” ujar Aswin dengan tiba-tiba.
Mendengar ucapan yang baru saja keluar dari bibir suaminya, seketika membuat perempuan itu menghentikan langkahnya. Kemudian dia membalikkan tubuhnya sambil menatap lelaki yang kini berada di depannya.
“Aku maafin! Dan untuk ucapan Kakak tadi, aku sama sekali nggak setuju karena dari awal kita menikah baik Kakak ataupun aku menolak untuk tidur dalam satu kamar!” balas Dista masih dengan nada yang sama pada siang tadi.
Setelah mengatakan itu, ia pun berbalik dan melanjutkan langkahnya kembali dan meninggalkan Aswin sendirian. Pria itu tampak terdiam karena memikirkan ucapan sang istri karena apa yang dikatakan oleh perempuan itu memang benar.