Pemikiran Serra

1295 Kata
Hari pun berganti. Seperti pagi-pagi sebelumnya, keluarga kecil Aswin tengah melakukan sarapan dalam keadaan tenang. Di ruang makan tersebut hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring. Mereka memang terbiasa untuk tidak berbicara ketika sedang berhadapan dengan makanan. Sampai orang yang melakukan makan pagi itu selesai, barulah mereka bisa mengeluarkan suaranya. “Mama … Papa,” panggil Serra dengan tiba-tiba. Suara gadis kecil itu berhasil membuat kedua orang dewasa yang dipanggil itu pun secara bersama-sama langsung menatap ke arahnya. Mereka ingin tahu apa yang diinginkan oleh Serra. “Kenapa, Sayang?” sahut Dista. “Serra lupa bilang, kalau hari ini ada pertemuan antara orang tua dan guru di sekolah. Mama sama Papa bisa datang ke sekolah?” tanya Serra sambil menatap ke arah kedua orang tuanya secara bergantian. “Serra … maafin Papa, ya. Hari ini Papa ada beberapa jadwal operasi di rumah sakit. Jadi, Papa nggak bisa datang ke sekolah,” sahut Aswin. Pria itu juga menatap ke arah putrinya dengan tatapan penuh penyesalan. Dia tidak bisa membatalkan jadwal operasi begitu saja karena ada nyawa seseorang yang bisa menjadi taruhannya. “Nggak apa-apa kok, Pa. Serra ngerti. Papa tetep kerja aja karena mereka lebih butuh Papa di sana. Mereka juga butuh pertolongan Papa. Kan masih ada Mama iya, kan?” jawab Serra sambil beralih menatap ke arah Dista dengan tatapan yang penuh harap. Seketika Dista pun langsung menyunggingkan senyumannya. Putrinya ini sangat pintar dan juga pengertian. Di saat anak seusianya yang ingin selalu dikabulkan setiap keinginannya, tapi tidak dengan Serra. Kalista telah berhasil mendidik bocah perempuan itu menjadi pribadi yang penuh kasih. Rasa peduli memang sengaja ditanamkan oleh Kalista semenjak usia dini karena dia tidak ingin putrinya tumbuh menjadi gadis yang egois. Apalagi mengingat pekerjaan sang papa yang memang harus berangkat jika ada panggilan sewaktu-waktu dari rumah sakit yang membutuhkan pertolongan. Di samping memang resiko pekerjaan, Aswin juga tidak bisa menolak jika ada seseorang yang membutuhkan pertolongannya sebagai seorang dokter. “Iya … nanti Mama aja yang datang ke sekolahnya Serra. Mama hari ini nggak ke mana-mana, kok!” sahut Dista. Seketika senyum Serra semakin lebar. Wajahnya juga terlihat berseri-seri hingga itu menular kepada Dista. Senyum perempuan itu juga terlihat cerah, secerah sinar matahari pagi. “Tuh … kan, Pa! Selama masih ada Mama, Papa tenang aja, hehee … Papa nggak usah merasa bersalah, Serra ngerti kok pekerjaan Papa kayak gimana,” tutur Serra. Bocah itu seakan dituntut untuk dewasa sebelum waktunya. Namun, nyatanya bukan seperti itu. Kalista memang sering mengajaknya berbicara layaknya orang dewasa yang mengerti dengan topik pembahasan. Kalista memang ingin memberi pengertian kepada putrinya mengenai pekerjaan papanya. Dia tidak ingin Serra merasa berbeda dengan teman-temannya yang memiliki orang tua bukan berprofesi seorang dokter. Mereka akan bisa pergi ke mana-mana sewaktu-waktu tanpa ada gangguan panggilan dari rumah sakit dengan tiba-tiba. Bahkan, mengharuskan liburan mereka batal karena ada nyawa seseorang yang berada di ujung tanduk. “Serra malah bangga punya Papa seorang dokter yang bisa mengobati dan nyembuhin orang. Serra juga malah kepingin jadi dokter kayak Papa, supaya Serra bisa nyembuhin orang,” tambah Serra dengan panjang lebar. Seketika Aswin pun langsung menyunggingkan senyumnya setelah mendengar penuturan dari putrinya. Anaknya itu memang selalu berpikiran bijak. Lagi-lagi dia teringat dengan mendiang istrinya. Ya … tanpa bimbingan dari Kalista mana mungkin Serra bisa memiliki pemikiran yang luas seperti itu. Perempuan yang telah membawa separuh jiwanya itu memang selalu bisa membuatnya bangga. “Kal … lihatlah putri kita! Pemikiran dia sudah bijak layaknya orang dewasa. Terima kasih, Sayang. Kamu sudah berhasil membuat putri kita memiliki pemikiran yang berbeda dari anak-anak seusianya,” ucap Aswin dalam hati. Hati pria itu rasanya campur aduk. Ada rasa bangga dan sesak yang bercampur menjadi satu. Dia bangga karena mendapati putrinya yang mengerti akan resiko pekerjaannya. Namun, di sisi hati yang lainnya, Aswin juga merasa bersalah karena sering melewatkan acara putrinya di sekolah. Sejak dulu memang Kalista-lah yang selalu menghadirinya karena kesibukannya. Pekerjaan Aswin sebagai seorang dokter membuat waktunya untuk bertemu dengan sang buah hati ataupun berkumpul dengan keluarga menjadi berkurang. Bahkan, terkadang di hari libur sekalipun dia akan pergi ke rumah sakit jika pasien yang menjadi tanggung jawabnya dalam kondisi kritis. “Kalau Serra pingin jadi dokter kaya Papa, berarti Serra harus rajin belajar dan nggak boleh malas. Kunci keberhasilan itu berasal dari kita sendiri, Nak. Kalau kita sendiri aja malas untuk melakukan sesuatu, gimana kita bisa berhasil untuk mencapai keinginan itu,” ujar Aswin menasihati. Tentu saja sebagai seorang ayah, dia sangat bangga dengan keinginan sang putri. Dia akan selalu mendukung apa pun yang menjadi keinginan putrinya selama itu positif. Dia ingin Serra bisa menjadi pribadi yang kuat dan bermanfaat bagi lingkungannya. “Iya, Pa! Serra ngerti, kok,” balas gadis kecil itu. Dista tampak tersenyum haru melihat pembicaraan antara ayah dan anak itu. Di dalam hati perempuan itu juga ikut merasa bangga karena Serra telah tumbuh menjadi pribadi yang positif. “Lihatlah, Kak! Kau telah berhasil mendidiknya,” batin Dista dengan haru. “Papa minta maaf ya, Sayang. Papa nggak bisa menghadiri pertemuan antara guru dan orang tua di sekolah kamu,” tambah Aswin kepada sang putri. “Iya, Pa. Nggak apa-apa, kok,” sahut Serra dengan senyum yang menghiasi bibir mungilnya. Lagi-lagi Dista dibuat tersenyum ketika melihat interaksi antara ayah dan anak itu. Bahkan, di dalam hati perempuan itu juga merasa terharu dengan pemikiran Serra yang sangat dewasa, menurutnya. Di saat anak-anak seusia Serra masih menuntut banyak hal, tapi tidak dengan gadis kecil itu. Dia melihat sesuatu dari sisi kacamata orang dewasa. Akhirnya Aswin pun berangkat ke kantor bersama dengan Serra. Seperti biasanya jika pria itu akan mengantarkan putrinya ke sekolah terlebih dahulu sebelum dia melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Sementara Dista sambil menunggu waktu, dia memeriksa beberapa rancangan pesanan para klien-nya. Dia tidak ingin mengecewakan mereka dan maka dari itu dia harus teliti pada setiap detailnya. Baginya kepuasan klien-nya merupakan kepuasan tersendiri. Di dapur si bibi sudah sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Entah saat ini apa yang dia lakukan karena Dista sedang berada di dalam kamar. Sementara si mbak sedang beres-beres rumah. Ya … di rumah Aswin ada dua orang ART yang bertugas membantu. Namun, untuk menyiapkan makanan dan keperluan Serra, tetap akan dilakukan oleh Dista sendiri karena itu merupakan tanggung jawabnya. Kecuali keperluan pribadi Aswin, dia tidak akan ikut campur karena mengingat pernikahannya yang sampai saat ini masih sulit untuk dia terima. Sebenarnya bukan hanya dirinya saja, tapi Aswin pun juga demikian. Semua mereka lakukan demi menghormati Kalista dan Serra saja, tidak lebih. Jika tidak melihat itu semua, mana mungkin Dista akan menerima pernikahan ini, bukan? Akhirnya waktu pun tiba. Kini Dista sudah siap berangkat untuk menuju ke sekolah Serra. Namun, baru saja dia keluar dari kamar si bibi sudah menghampirinya. “Bu, itu dagingnya mau diapakan?” tanya di bibi. “Di rebus dulu aja, Bi. Nanti ngolahnya nunggu saya datang aja. Masukkan dagingnya setelah air mendidih dan jangan terlalu lama merebusnya, cukup tujuh menit aja,” pinta Dista kepada wanita yang berusia empat puluh tahunan tersebut. “Baik, Bu!” sahut si bibi. Mereka tahu siapa Dista sebelumnya karena memang mereka sudah bekerja di rumah Aswin cukup lama. Sejak Kalista hamil Serra si bibi dan mbak sudah bekerja di rumah tersebut. Aswin juga meminta kepada kedua ART-nya tersebut untuk menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tidak akan memberikan toleransi sekecil apa pun jika kedua perempuan yang berbeda usia itu sampai membocorkan apa pun yang terjadi di dalam rumah itu, termasuk mengenai dirinya dan Dista yang tidur di kamar terpisah. “Kalau gitu saya berangkat ke sekolah Serra dulu ya, Bi,” pamit Dista pada perempuan yang ada di hadapannya itu. “Baik, Bu. Hati-hati di jalan,” pesan perempuan itu dengan tulus. Dia tahu jika Dista adalah perempuan yang baik. Sama seperti Kalista yang tidak pernah membeda-bedakan mereka. Sungguh majikan idaman, bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN