Keesokan harinya, Rose dibawa pulang kembali ke rumah Atmadja setelah setengah jam sebelumnya, sang kakek telah berangkat ke Inggris dengan penerbangan pertama pagi itu. “Han!” Samantha berlari mendekati sahabatnya yang sedang membawa keranjang kain si kecil Morgan. Rose tersenyum di samping Narendra yang bergantian membimbingnya duduk di sofa. “Gue bakal jadi bapak, Han!” seru Samantha sambil meloncat memeluk Han. “Ya, kan, emang lo udah jadi bapak,” geram Han, menjauhkan Samantha yang tadinya berhambur melupakan emosi yang membuncah di dadanya. “Bukan gitu.” Samantha menunjuk pada Rose. Garis bibirnya terukir cantik membentuk bulan sabit. Hatinya bergumam syukur. “Bini gue hamil lagi. Alhamdulillah.” Kebahagiaan Samantha menghiasi rumah keluarga Atmadja. Meski tanpa Alexander, rum

