“Malam ini pemeriksaan terakhir, Pak. Tapi selama sebulan, Pak Alex masih harus rutin meminum obatnya. Takut dia kambuh lagi.” Narendra mengangguk mendengar saran dari psikiater itu. “Baik, Dok.” Dua bulan sudah terpenjara di rumah sakit jiwa, sudah saatnya Alexander menghirup udara kebebasan. Narendra tersenyum saat sang psikiater pergi, lalu mendekati Alexander yang duduk tenang di sisi kasur sambil menatap jendela kamar. Langit cerah di suasana sore beradu dengan hembusan angin yang sejuk. “Tadi Ruby minta ikut, tapi papa larang. Takutnya dia nanti berkeras mau tidur di sini karena nggak mau dipisahkan dari kamu.” Narendra duduk di sisi sofa di hadapan Alexander. Tatapan putranya itu sudah lebih hidup sekarang. Garis bibirnya mulai tersenyum saat selama dua bulan ini, sang ayah be

