Rose meraih test pack tersebut. Sebelumnya dia meminta seorang pelayan untuk membelikannya di apotek. Rose memandang ragu pada alat tes kehamilan itu. ‘Sebelumnya aku berpikir mungkin saja aku hamil. Sekalipun memang hamil, tapi saat kondisi tertekan dan hari-hari yang kujalani di dalam penjara, apa janin ini bisa bertahan?’ Rose meraba sisi perutnya. Kehamilan adalah anugerah terpenting untuk seorang ibu. Apalagi, kandungannya ini adalah buah cintanya dengan Samantha di bawah ikrar pernikahan. Rose tersenyum dengan sudut matanya yang mengembun. “Tolong bertahan, ya. Demi mama dan papamu.” Tak ingin menunggu lagi, Rose harus putar otak untuk bisa keluar dari kungkungan sang kakek. Kebetulan dilihatnya Leo datang dan mobil sudah terparkir di luar. Lekas dia turun untuk menemui sang peng

