Bram segera mendekati ketika mobil Samantha terparkir. Pria itu dan para rekannya diutus Leo untuk tetap menjaga rumah Mr. Smith selama di Indonesia. “Pak Leo sudah melarangmu, kan?” tanya Bram. “Tolong! Saya ingin bertemu dengan istri saya. Biarkan saya berusaha memenangkan hati kakeknya. Ini kewajiban saya untuk membawa Rose dan membahagiakannya.” “Baiklah!” Bram meminta Samantha untuk menunggu di luar sementara Bram masuk menemui Mr. Smith. Samantha berdiri di sebelah sisi cemara. Dari pijakannya dia bisa melihat jendela kamar yang tertutup gorden biru dengan pantulan lampu kamar yang menyala terang. Berpikir mungkin itu adalah kamar Rose yang berada di lantai dua. “Rose!” Samantha berteriak memanggil. Si cantik yang dia cintai itu menyibak gorden. Keduanya bertautan pandangan m

