16. Gigolo

1385 Kata
“Apa maksudmu memberitahu kakek?!” geram Saga seraya mencengkram kerah jas dokter milik adiknya, Randy. Bukannya merasa bersalah, Randy justru terkekeh pelan. “Ayolah, Kak. Lalu kakak mau memberitahu kakek kapan? Sampai anak kakak lahir?” Saga tak menghilangkan tatapan tajamnya pada sang adik. Ia belum memberitahu kakeknya karena punya alasan sendiri. “Lagipula, ini bagus, kan, supaya wanita itu berhenti menjilat kaki ayah dan ibu juga kakek agar bisa menikah denganmu,” imbuh Randy. Saga melepas cengkramannya kasar. “Harusnya kau tak perlu ikut campur,” kata Saga disertai tatapan memincing sebelum akhirnya berbalik dan memutuskan masuk ke dalam ruangan. Randy menggeleng pelan. “Ck, Kak … Kak, dasar,” ucapnya. “hm, kira-kira apa keputusan kakek, ya,” gumamnya dengan mengusap dagu. Ia memberitahu Salim bahwa Saga memilih wanitanya sendiri karena wanita itu telah hamil. Awalnya ia ragu sebab, ia tahu kakaknya tak mungkin asal celup. Tapi, saat mengetahui kakaknya sampai menyamar jadi pria biasa, ia yakin kakaknya memang telah menghamili Mara. Kembali pada Saga, ia mematung di depan pintu setelah masuk ke dalam ruangan, melihat Mara menangis. Berpikir kakeknya telah mengatakan atau melakukan sesuatu, ia segera menghampiri Mara dan melotot pada kakeknya. “Apa yang sudah kakek lakukan?!” bentak Saga. Mara mengusap air mata dan mengalihkan pandangan tak ingin Saga melihatnya menangis meski percuma, Saga sudah melihatnya. “Kakek!” bentak Saga kembali, menuntut jawaban. “apa yang sudah kakek katakan?” tanya Saga pada Mara. Salim hanya diam dan bisa melihat kepanikan di wajah Saga, seakan ia begitu takut melihat Mara meneteskan air mata. Mara hanya diam lalu bangkit dari duduknya. Ia setengah menunduk seperti sebuah penghormatan pada Salim sebelum akhirnya pergi dari sana. Saga menatap kepergian Masa dengan pandangan tak terbaca. Ia penasaran dan marah. Salim tetap tenang dan menghela napas panjang setelah Mara pergi. “Kau yakin memilih wanita itu, Kai? Dia hanya artis remahan. Sudah jadi rahasia umum artis yang kurang terkenal sepertinya, menjual diri demi hidup hedon.” Tangan Saga mengepal kuat di sisi tubuhnya, rahangnya mengeras hingga giginya bergemeretak. Meski ada banyak kata yang ingin terucap, pada akhirnya ia memilih berbalik dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Salim sendirian. Tak lama setelah Saga pergi, Randy memasuki ruangan dan disambut tatapan datar sang kakek. “Jadi, bagaimana?” tanya Randy seraya berjalan ke arah ranjang di mana kakeknya setengah berbaring. “Selera Kaisar benar-benar rendah.” Langkah Randy terhenti mendengar apa yang kakeknya katakan. “Bagaimana bisa Kakakmu bertemu dengan wanita seperti itu? Dia bahkan rela menyamar jadi pria biasa padahal, belum tentu anak yang wanita itu kandung adalah anaknya,” ucap Salim kembali. Randy tetap diam dan melanjutkan langkah hingga berdiri di sisi ranjang. “Apa kakek pikir kakak bodoh?” ucap Randy dan Salim hanya diam. “Aku pikir tadi penyakit kakek benar-benar kambuh, tapi sepertinya, hanya pura-pura, ya,” ucap Randy kembali seolah sengaja mengalihkan pembicaraan. “padahal Mara belum tahu siapa kakek, dan hubungan kakek dengan Kak Kai, tapi dia begitu panik saat kakek jatuh tadi. Jika Nadira yang ada di posisi itu, dia tidak tahu siapa kakek dan menganggap kakek miskin, apa dia akan sepanik itu?” Randy mengatakannya dengan tenang bahkan sudut bibirnya terangkat menciptakan senyuman tersirat. “Ini tidak ada hubungannya dengan Nadira,” ujar Salim. “Kakek benar. Ini adalah hubungan Kak Kai dan wanita pilihannya. Aku tahu, sebenarnya kakek tidak benar-benar tidak menyukainya, kan? Kakek hanya kesal karena dia tidak tahu siapa kakek. Padahal, kakek berharap dia mengenali kakek lalu menjilat kaki kakek seperti Nadira, maka Kak Kai akan berpikir dua kali untuk melanjutkan sandiwaranya.” Salim mendelik, matanya melotot menatap sang cucu bungsu seolah kaget dan kesal, tapi Randy justru terkekeh pelan. “Kakek ini lucu, harus berapa kali kubilang tidak semua orang mengenal kakek. Mentang-mentang kakek konglomerat, kakek pikir semua orang pasti mengenal kakek. Aih, harusnya tadi kakek bilang saja siapa kakek sebenarnya, kan? Dan kakek bisa lihat seperti apa reaksi Mara.” “Sialan. Kenapa kau membela kakakmu sampai sarkas begini pada kakek?” ucap Salim. “kakek hanya ingin melihat sekuat apa calon cucu mantu kakek. Tapi dia sangat lemah. Kakek hanya bicara sedikit dan dia menangis. Bagaimana bisa dia melawan Nadira jika cengeng begitu?” Alis Randy berkerut samar. Ia seperti menajamkan pendengaran sambil berpikir bahwa ia tak salah dengar. Di lain sisi, Saga mengejar Mara yang menuju mobilnya terparkir. “Tunggu!” ucap Saga sebelum akhirnya langkah Mara terhenti. Dengan napas terengah, Saga mendekat, berdiri di depan Mara yang telah berdiri di depan mobilnya. “Katakan padaku, apa yang kakek bicarakan,” kata Saga menuntut jawab. Mara tak segera menjawab. Ia menatap Saga selama beberapa saat. “Katakan, siapa kau sebenarnya,” ucap Mara. Saga terkejut, dan berpikir, apakah kakeknya sudah membongkar identitasnya? “Apa maksudmu? Aku hanya kurir pengantar makanan,” jawab Saga. “Lalu kenapa kau bisa di hotel?” “Apa yang kau katakan?” “Hanya pengantar makanan, tapi bisa berada di hotel yang permalamnya hampir jutaan,” kata Mara. “Sial. Kenapa kakek membongkarnya sekarang?” batin Saga. “Kakek bilang kau gigolo.” Mulut Saga nyaris terbuka dengan mata membulat. “Kakek bilang kau jadi gigolo demi membiayai pengobatannya.” Mulut Saga kian menganga. Ia tampak seperti bukan dirinya yang sebenarnya. Kepribadian dingin dan perfeksionis yang selalu ia tunjukkan pada bawahannya, kali ini benar-benar musnah. Mara mengalihkan pandangan di mana raut wajahnya tak terbaca. Sebelumnya Salim mengatakan bahwa Saga telah jadi gigolo demi membiayai pengobatannya dan adiknya, menceritakan pengorbanan Saga untuk keluarga kecil mereka yang membuatnya tak bisa menahan air mata karena iba. Namun, alasannya menangis bukan hanya itu, melainkan memikirkan ia dan bayi dalam perut jika terkena penyakit menular. Ia buru-buru pergi dengan alasan pekerjaan, sebenarnya ingin ke rumah sakit lain untuk melakukan pemeriksaan. Kembali pada Randy dan Salim, keduanya masih bicara. Randy yang penasaran, akhirnya bertanya tentang ujian yang kakeknya tadi berikan. “Jadi, apa yang kakek katakan pada calon kakak ipar?” tanya Randy. “Kakek hanya bilang Kaisar jadi gigolo demi pengobatanku.” “Hah?” Randy tak bisa menunjukkan keterkejutannya. Ia semakin penasaran, apa hubungannya dengan melawan Nadira. “Dulu aku pernah bicara pada Nadira tentang hal yang menyedihkan, tapi dia terlihat baik-baik saja. Itu artinya, mentalnya kuat. Sementara wanita tadi? Hanya dengar Kaisar jadi gigolo demi menghidupi kakek dan adiknya, dia sudah menangis. Mental yang sangat lemah, cengeng,” ujar Salim. Randy terdiam. Namun, di detik berikutnya ia memijit pangkal hidungnya. “Ya Tuhan,” batin Randy. Sejak kakeknya memasuki usia 70 tahun, kadang kali orang tua itu memang sedikit aneh. “Kek,” ucap Randy seraya menarik kursi dan duduk. “mental seseorang tidak bisa dinilai hanya dari tes yang kakek lakukan tadi. Bisa saja calon kakak ipar menangis karena ayah anaknya adalah gigolo. Mungkin juga dia cemas tertular penyakit. Kalau ingin tahu, lebih baik pertemukan saja mereka dan lihat apakah calon kakak ipar bisa melawan wanita itu atau tidak.” “Halah, saat bertatap muka, wanita itu pasti langsung minder bertemu Nadira,” cemooh Salim. Menurutnya, wanita yang gampang menangis adalah wanita bermental lemah yang artinya, lemah pula dan mudah diinjak-injak. Ia ingin punya cucu menantu yang kuat. Siapapun yang masuk jadi bagian dari keluarganya, harus punya mental baja. Meski sampai saat ini masih menjadi konglomerat, anak dan cucunya sukses, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa saja semua kekayaannya lenyap dalam sekali kedip. Ia hanya tak ingin punya keluarga bermental lemah yang tak siap jika hal itu terjadi. Nadira mungkin sangat cocok dengan kriteria yang ia cari, tapi Saga tidak menginginkannya. “Kalau seandainya kakek dan kakakmu bangkrut, dia pasti mudah putus asa dan mungkin memilih mati.” Randy kembali memijit pangkal hidungnya. “Hish,” desahnya memikirkan ucapan Salim, bagaimana bisa dia berpikir demikian. Namun, seketika ia teringat kisah neneknya yang pernah hampir mengakhiri hidup saat kakeknya bangkrut. Meski menyandang status konglomerat, tapi sebelumnya saat masih muda, kakeknya bukan siapa-siapa. Setidaknya itulah cerita yang ia dengar dari sang ibu saat ia masih anak-anak. Randy bangkit dari duduknya dan memasukkan kedua tangan ke saku jas. “Terserah kakek. Tapi kuharap ini bukan alasan kakek saja karena tak setuju Kak Kai menikah dengannya,” ucapnya sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan ruangan. Tak lama setelah Randy pergi, pintu ruangan terbuka dan muncullah wanita berambut panjang bergelombang dengan riasan tebalnya yang berjalan memasuki ruangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN