15. Bertemu Kakek Saga

1510 Kata
Mara terkesiap saat Saga tiba-tiba menggenggam tangannya lalu menariknya. “Apa yang kau lakukan?!” bentak Mara saat bokongnya terangkat karena tarikan tangan Saga. Saga hanya diam tanpa melepas genggam tangan sambil terus menarik Mara, tapi Mara menahan kakinya. Ia tak tahu apa yang ingin Saga lakukan. “Mau ke mana?” Tubuh Saga menegang mendengar suara berat kakeknya, menghentikan keinginannya membawa Mara pergi. Sementara Mara menoleh dan menemukan kakek-kakek membawa tongkat berjalan ke arahnya. Saga melepas genggaman tangannya pada tangan Mara dan menghela napas berat. Ia lalu menoleh dan bersiap menghadapi kakeknya. Ia yakin Randy yang sudah memberitahu kakeknya. “Kalian mau ke mana?” tanya Salim setelah berdiri di hadapan Saga dan Mara. “Kakek … mengenal kami?” tanya Mara hati-hati sambil melirik Saga. “Kau tidak mengenalku?” Bukannya menjawab pertanyaan Mara, Salim justru balik bertanya. Mara hanya diam dengan wajah bingung. Tentu ia tidak mengenal Salim. “Sepertinya Anda salah orang,” sahut Saga lalu menggenggam tangan Mara berniat mengajaknya pergi. Namun, sebelum ia melangkah, Salim menggunakan tongkatnya memukul kaki Saga. “Akh!” “Dasar anak kurang ajar. Berani kau bicara begitu?” marah Salim sambil terus memukul kaki Saga. Mara tak bisa tinggal diam. Meski kesal dan jengkel pada Saga, tapi menurutnya kakek tua itu sudah keterlaluan apalagi jika mereka tidak saling kenal. “Kek, tolong maafkan dia,” ucap Mara seraya menahan Salim kembali memukul Saga. “apa mungkin kakek tersesat? Mari, saya akan bantu menemukan keluarga kakek.” Salim menatap Mara dengan pandangan tak terbaca. “Kau benar-benar tidak tahu siapa aku?” Mara tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menggeleng. “Dan dia. Kau juga tidak tahu siapa dia?” tanya Salim kembali sambil menunjuk Saga dengan tongkatnya. Mara menoleh sejenak menatap Saga yang masih meringis memegangi kakinya. “Dia … Saga, suamiku, Kek. Apa kakek … mengenalnya?” Mara terpaksa mengatakan itu, mengatakan bahwa Saga adalah suaminya. Ia pikir Salim kakek pikun yang tersesat dan akan lupa ucapannya barusan. Ia juga pikir Salim tak mengenalnya sebagai seorang artis. Untuk saat ini ia hanya berpikir agar Salim tak memukul Saga. “Apa? Suami?” Mara terkejut melihat reaksi Salim. ‘Apa aku salah?’ batinnya, berpikir pilihannya menyebut Saga adalah suaminya adalah sebuah kesalahan. “Pria b******k itu telah berjanji akan menikahi cucuku,” kata Salim sambil kembali menunjuk Saga dengan ujung tongkatnya. Mara melebarkan mata, begitu terkejut dengan apa yang ia dengar. Ia seketika melotot ke arah Saga. Saga menepuk wajahnya, dan saat ia menurunkan tangan, Mara telah berada tepat di depannya. “Apa yang dikatakan kakek itu benar?” tanya Mara menuntut jawab. Bukan ia cemburu, jika tahu Saga telah bertunangan dengan wanita lain, ia tak akan memaksa menjadi suami bayarannya. “Tentu saja tidak. Bagaimana bisa kau percaya pada orang yang baru kau temui?” “Lalu kau ingin aku percaya pada orang yang belum lama aku kenal?” Saga memijit pangkal hidungnya lalu mengarah pandangan pada sang kakek, memberinya tatapan tajam. Ia tak tahu apa yang kakeknya inginkan, tapi jika kedatangannya untuk membuat masalah, ia tak akan tinggal diam. “Ehm.” Salim berdehem membuat Mara menoleh. Saga menggenggam tangan Mara lalu mengajaknya berdiri berhadapan dengan Salim. “Hanya dia yang aku inginkan,” ucap Saga tegas. Salim hanya diam di mana netra yang serupa milik Saga itu saling tatap cukup lama. Mara menatap Saga dan Salim bergantian dan merasa adanya kemiripan dari wajah keduanya. Tiba-tiba Salim memegangi dadanya membuat Mara begitu terkejut. Dan saat Salim tiba-tiba terhuyung hampir jatuh, ia segera mengambil langkah, menahan tubuh tuanya. Tak lama kemudian, Mara dan Saga telah berada di sebuah ruangan di mana Salim terbaring di atas ranjang rumah sakit. Pria tua itu pingsan dan mau tak mau Mara dan Saga harus menemaninya. “Kenapa kau tak mengatakan apapun sebelumnya?” tanya Mara. “walau aku tak bertanya, harusnya kau bicara,” imbuhnya. Ia duduk di sofa, bersedekap d**a menatap Saga yang berdiri di depannya, mengarah pandangan pada Salim yang belum siuman. Saga hanya diam. Memejamkan mata sejenak, ia menghela napas lalu membalikkan badan menghadap Mara yang telah berdiri. “Aku ada jadwal live,” ucap Mara sebelum akhirnya mengambil langkah. “Aku antar,” kata Saga seraya menahan tangan Mara. Alis Mara berkerut menatap tangan Saga yang menahan tangannya. Ditariknya tangannya hingga tangan Saga terlepas dan mengatakan, “Dan kau mau membiarkan kakek pacarmu sendirian?” “Bisakah jangan asal bicara? Dia kakekku,” kata Saga. Pada akhirnya ia mengatakannya meski belum mengatakan identitasnya. “Jadi kau dan cucunya sudah menikah? Dasar sinting. Aku akan urus perceraian sekarang,” kata Mara dan berniat pergi. Namun, lagi-lagi Saga menahannya, mencengkram pergelangan tangannya lebih kuat dari sebelumnya hingga membuat Mara meringis. “Jika kau bicara perceraian lagi, namamu akan lenyap dari dunia hiburan,” ucap Saga di mana wajahnya tepat berada di depan wajah Mara dan memberinya tatapan yang begitu dingin dan suram. Tubuh Mara meremang seakan embusan angin kutub menerpa tubuhnya. Ia terdiam seakan tak mampu membalas ucapan dingin Saga. Saga bak bayangan hitam besar yang merengkuhnya hingga ia kehilangan kata dan tak sanggup bergerak. “Apa yang kulakukan?” batin Mara mengepalkan tangan kuat. Ia ingin membalas Saga tapi keberaniannya seolah lenyap. Salim membuka mata dan mengarah pandangan pada Saga dan Mara. Ia lalu bangun dengan hati-hati sambil memegangi d**a. “Kaisar.” Saga tersentak. Ia segera menoleh dan menemukan kakeknya menunjuknya. “Ke sini, bawa istrimu ke sini,” ucap Salim. Mara yang sebelumnya terdiam kaku, seperti tengah mencerna apa yang baru saja ia dengar. ‘Kaisar?’ batinnya. Ia pun mencoba mengingat, berpikir mungkin Kaisar adalah nama belakang Saga, tapi ia tak mengingatnya karena memang tak terlalu memperhatikan nama Saga. Saga menghela napas berat lalu menarik tangan Mara mendekat menghampiri Salim. “Kau benar-benar tidak tahu aku?” Saga menepuk jidat. Kakeknya kembali mengulang pertanyaan yang sama. Mara terlihat bodoh dari raut wajahnya. Pertanyaan Salim ketiga kalinya membuatnya terus bertanya-tanya, kenapa. Ia sampai berpikir, apa mungkin Salim mantan presiden? Jika benar, sangat memalukan dirinya tak mengenalinya. “Kek, tidak semua orang mengenalmu,” ucap Saga. “dan jangan panggil aku Kaisar,” sambungnya dengan suara pelan. “Hah … kakek pikir Randy membohongi kakek, tapi ternyata tidak.” “Kek, bisa berhenti membicarakan ini? Sebaiknya kakek pulang jika sudah baikan.” Mara memperhatikan interaksi Saga dan Salim bergantian, bukan hanya sedikit mirip tapi interaksi mereka seperti sudah lama mengenal. Mungkinkah itu berarti kakek itu benar kakek Saga? pikir Mara. “Aku akan pulang jika aku ingin. Lebih baik kau keluar, biarkan aku bicara dengannya,” kata Salim mengarah pandangan pada Mara. “Kek–” “Keluar, atau aku tak akan merestui kalian,” potong Salim dengan tatapan memincing. Rahang Saha mengeras. Namun, pada akhrinya ia kelair. Bukan ia takut dengan tatapan kakeknya, tapi takut tak mendapat restu darinya. Setelah Saga pergi, suasana begitu hening. Mara tak tahu harus mengatakan apa, sementara Salom hanya diam memperhatikannya. “Sebenarnya aku kakeknya dan aku sangat miskin. Aku sampai memaksanya menikah dengan anak orang kaya,” ucap Salim. “kudengar kau seorang artis. Meski aku tidak pernah melihatmu di tv, tapi apa kau tidak malu punya kakek mertua miskin dan jelek sepertiku?” Salim sengaja terbatuk lalu kembali mengatakan, “Aku juga penyakitan. Setiap Minggu harus berobat dengan biaya yang tidak sedikit. Uhuk, uhuk!” Mara hanya diam, tak tahu harus mengatakan apa. “Apa kau mau membantu menanggung biaya berobatku? Bagaimana nanti jika orang-orang mengejekmu karena punya orang tua jelek dan miskin seperti ini?” Mara tetap hanya diam. Rasanya ia ingin jujur tentang pernikahannya dengan Saga, bahwa pernikahan mereka hanya kontrak, bahwa ia membayar Saga menjadi suaminya. Namun, ia khawatir hal itu akan melukai Salim. Bagaimana jika pria tua itu terkena serangan jantung setelah ia bicara jujur dan meninggal nanti? Mara yang sebelumnya berdiri, menarik kursi di bawah ranjang kemudian duduk. Dengan tenang, ia mengatakan, “Selama aku bisa membantu, aku akan melakukannya. Aku juga yakin Saga juga akan melakukan segalanya untuk kakek karena kakek adalah kakeknya.” Salim hanya diam, mendengarkan dengan seksama apa yang Mara katakan. “Sejujurnya, aku dulu juga bukan siapa-siapa, jadi untuk apa aku malu jika orang tahu kondisi kakek? Tapi, untuk sekarang aku belum bisa mengatakan pada semua orang tentang Saga dan kakek.” “Karena kami orang miskin?” “Ah, tidak, Kek, bukan begitu. Aku hanya … khawatir Saga akan mendapat komentar buruk jika tahu dia hanya seorang kurir makanan. Kakek tahu sendiri betapa tajamnya jari netizen.” “Lalu kenapa kau mau menikah dengannya?” “Ah, itu … kalau soal itu ….” Mara menggantung ucapannya. Ia tak bisa mengatakan cinta karena memang tidak. Ia tidak tengah syuting sekarang, sulit baginya berpura-pura di hadapan kakek tua, merasa berdosa jika membohonginya lebih dalam. Ia sudah berbohong tentang alasannya tidak mengekspose Saga. Di luar, Saga berjalan mondar-mandir di depan ruangan, merasa gusar apa yang kakaknya bicarakan dengan Mara. “Sial. Semua ini gara-gara sialan itu,” batin Saga. Di saat yang sama, seseorang berjalan ke arah Saga dan saat pandangan mereka tak sengaja bertemu, Saga seolah siap menelan orang itu hidup-hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN