14. Gara-gara Hubungan Intim

1259 Kata
Dokter itu terkekeh pelan saat duduk berhadapan dengan Saga setelan memeriksa Mara sebelumnya. “Apa ada yang lucu?” tanya Saga dengan tatapan tajam. Ia sudah sangat khawatir dan segera membawa Mara ke klinik terdekat, tapi dokter itu justru seperti menertawakannya. “Maaf. Begini, kehamilan istri anda masih sangat muda. Sebenarnya tidak ada larangan untuk berhubungan intim, tapi anda harus lebih berhati-hati dan mengontrol diri,” ujar dokter tersebut. Ia lalu menoleh pada Mara yang telah duduk di tepi ranjang. “tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kram perut ini wajar setelah berhubungan intim, kecuali disertai dengan keluarnya darah, atau cairan, dan nyeri tak tertahankan,” imbuhnya memberi penjelasan. Mara hanya diam dan menunduk sambil memegangi perut. Sementara Saga, wajahnya terlihat merah, mungkin karena malu. Saga mendesah berat dan menutup wajahnya dengan satu tangan. Setelah ini, ia harus lebih bisa menahan diri. Tak lama kemudian, Saga dan Mara telah dalam perjalanan pulang. Saga yang mengemudi sesekali melirik Mara yang sejak keluar dari klinik, terus saja diam. “Semua ini salahmu,” ucap Mara dengan suara pelan di mana ia menunduk menatap perut ratanya. Ia lalu mengangkat kepala dan melotot pada Saga. “semua ini salahmu!” bentaknya. Napas Mara tak terkendali. Ia menyandarkan punggungnya dan memijit kepala yang berdenyut. Selain berpesan agar melakukan hubungan intim dengan hati-hati, dokter juga berpesan agar Mara mengurangi banyak pikiran dan stres, karena itu juga bisa berpengaruh pada kehamilannya. “Ya. Setelah ini aku akan hati-hati,” kata Saga. Ia menyadari kesalahannya, tapi sisi lain dirinya tak mau sepenuhnya disalahkan. Ia menganggap yang dilakukannya wajar karena ia dan Mara sudah menikah. Selain itu, pria mana yang bisa menahan diri dari wanita yang membuatnya tertarik? Untuk saat ini Saga akan menggunakan kalimat itu bahwa ia hanya tertarik pada Mara, bukan cinta. “Hati-hati? Haruskah itu kau katakan? Harusnya kau tidak akan melakukannya lagi,” kata Mara yang berusaha menahan emosi. Kemarin harinya sudah sangat buruk, jika ia tak bisa menahan emosi kali ini, mungkin ia akan benar-benar stress. “Mana mungkin? Aku normal, dan kita suami istri,” balas Saga seraya melirik Mara sekilas lewat ekor mata. Mara melotot menatap Saga yang serius pada kemudinya. Rasanya ia menyesal melakukan pernikahan sungguhan dengan Saga. Harusnya saat itu ia buat buku nikah palsu saja. “Kau sudah dengar kata dokter tadi. Tidak boleh terlalu lelah dan hindari stress. Sebaiknya kurangi pekerjaanmu,” ucap Saga. Mata Mara kian melotot. “Kau hanya suami bayaran. Jangan mengaturku!” “Lalu kau ingin wanita itu yang mengaturmu? Dia masih di rumah sakit.” Mara terdiam, ia sampai lupa tentang Famela. “Antar aku ke rumah sakit,” ucap Mara seraya menghadap depan dan bersedekap d**a. Saga kembali melirik Mara sekilas dan hanya diam. Ia ingin melarang, tapi Mara pasti tak menggubris ucapannya. Dengan terpaksa ia pun mengantar Mara ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Mara tak bisa menahan air mata melihat Famela belum juga sadar. Dokter mengatakan Famela koma. “Jika melihatnya membuatmu menangis. Aku tak akan membiarkanmu melihatnya lagi,” ucap Saga. Ia dan Mara berada di luar ruang ICU sekarang, melihat Famela dari dinding kaca. Tangan Mara mengepal, ia lalu menatap Saga dengan kebencian yang terpancar. “Mara.” Tiba-tiba sebuah suara terdengar, berasal dari ibunda Famela, Winda yang berjalan menghampiri Mara. Mara menghapus jejak air mata. “Iya, Tan,” ucapnya. “Ada yang ingin Tante bicarakan,” ucap Winda sambil sesekali melirik Saga. Mara mengangguk kemudian bersama Winda berjalan menuju kursi tunggu. “Mar, pria tadi itu siapa?” tanya Winda setelah ia dan Mara duduk berdampingan. “Ah, dia ….” Mara menggantung ucapannya, mencari jawaban yang tepat. “dia … menggantikan Famela untuk sementara, Tan,” jawabnya. “Apa? Kau menggantikan Famela? Tapi tidak selamanya, kan, Mar? Hanya karena Famela masih koma, kan?” tanya Winda sambil memegangi pergelangan tangan Mara. “Ah, i- iya, Tan,” jawab Mara sambil menahan ringisan. Remasan tangan Winda cukup kuat membuat kuku panjangnya menggores tangan. “Hah, syukurlah. Tolong jangan gantikan Famela, ya, Mar. Kalian kan sudah bersahabat lama. Tante yakin Famela akan segera sadar dan sembuh lalu bisa kembali bekerja padamu,” ujar Winda. Mara menarik tangannya perlahan setelah cengkraman Winda mengendur. “Jadi, Tante ingin bicara apa?” tanya Mara. “Begini, Mar, tante ingin minta tolong. Tolong bantu biaya pengobatan Famela, ya,” jawab Winda. Mara terima sejenak. Ia sudah menebak akan hal itu dan ternyata, benar. “Iya, Tan, tenang saja. Biaya pengobatan Famela, akan aku tanggung,” ujar Mara. “Syukurlah. Terima kasih, ya, Mar,” ucap Winda seraya memeluk Mara. “kau memang sahabat terbaik Famela,” imbuhnya sebelum akhirnya melepas pelukan. “oh, ya, sebenarnya ada lagi yang ingin Tante katakan. Tante boleh pinjam uang? Minggu depan om Famela harus cuci darah. Kau tahu sendiri selama ini Famela yang membiayai om-nya. Selain itu, Tante juga harus bayar cicilan mobil dan rumah. Biasanya Famela akan memberi Tante uang setelah gajian, tapi sekarang Famela seperti ini, Tante tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membayar tanggungan Tante.” Mara hanya diam tenggelam dalam pikirannya sendiri. Selama ini ia tahu semua beban yang harus Famela tanggung. Orang tua Famela hingga omnya menjadikan Famela sumur uang mereka. Jika Famela berhenti memberi uang atau terlambat memberi uang walau sehari, mereka akan marah hingga mengecapnya sebagai anak durhaka. Mara pikir, dengan keadaan Famela yang seperti ini, ibunya akan melakukan sesuatu, memikirkan cara memenuhi kebutuhannya sendiri tapi nyatanya, kini semua beban justru dibebankan padanya. “Mar,” panggil Winda membuat Mara 2tersadar dari tenggelamnya pikiran. “Ah, iya, Tan.” “Bagaimana, kau bisa tolong Tante, kan? Tolong, Mar. Tante tidak tahu harus minta tolong pada siapapun lagi,” ucap Winda mengiba dengan mata berkaca-kaca sambil kembali meremas tangan Mara. “I- iya, Tan. Mara akan membantu Tante,” ucap Mara dengan sedikit terpaksa. Senyum Winda mengenang. Ia tersenyum sumringah. “Terima kasih, Mar. Kau memang anak yang baik. Andai saja kau yang jadi anak Tante, Tante pasti akan lebih bahagia.” Tubuh Mara kaku sesaat. Kata-kata ibunda Famela terasa meremas jantungnya apalagi dikatakan saya keadaan Famela seperti sekarang ini. Mara setengah menundukkan kepala dan tersenyum kecut. Rasa hati ingin berteriak di depan wajah Winda, mengatakan betapa tertekannya Famela selama ini. Namun, ia seolah paham bahwa bicara seperti apapun, bahkan hingga mulutnya berbusa sekalipun, Winda tak akan mengerti. Tak lama kemudian, Mara duduk sendiri setelah Winda pergi. Bukannya menemani sang putri, wanita itu seakan enggan berada di sana, sekarang tak peduli dengan keadaan Famela. “Apa yang wanita itu inginkan?” tanya Saga saat ia duduk di samping Mara. “Tidak ada hubungannya denganmu,” jawab Mara yang melamun. Saga menatap Mara dari posisi. “Jadi, di mana dia sekarang?” Mara hanya diam lalu mengambil ponselnya. “Halo, Bi Harti.” “Mara? Iya, ada apa, Mar?” “Apa Bi Harti bisa menolong Mara? Famela kecelakaan dan koma sekarang. Bisakah Bi Harti menunggunya di rumah sakit?” “Apa? Kecelakaan? Ya Tuhan, dia sampai koma? Iya, Bibi bisa. Bibi ke sana sekarang?” “Iya, Bi.” Setelah mengatakan itu, Mara mengakhiri panggilan. Bi Harti adalah mantan tetangga Mara. Wanita itu janda tanpa anak yang kesehariannya berjualan. Mara sengaja meminta bantuannya karena hubungan mereka cukup dekat. “Siapa?” tanya Saga. Mara menghela napas lalu menoleh. “Kenapa kau sangat ingin tahu?” “Tentu saja karena aku–” “Hanya suami bayaran,” potong Mara sebelum Saga selesai bicara. Saga mendengus sampai tiba-tiba perasaannya mulai tidak enak. Dan benar saja, samar-samar ia mendengar suara yang datang mendekat dan saat ia menoleh, matanya melebar seketika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN