bc

Istri Rahasia Candu Sang Pengacara 2

book_age18+
48
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
fated
friends to lovers
kickass heroine
bxg
lighthearted
bold
brilliant
city
lawyer
like
intro-logo
Uraian

Warning!!! Area 21+ Mengandung adegan dewasa!!

Ia pernah menjadi istri yang sah.Kini ia hanya nama yang tersisa di masa lalu.Arvin Pratama tidak pernah berniat mencintai dua perempuan. Namun pengkhianatan, kesalahpahaman, dan sebuah jebakan kejam memaksanya hidup di antara dua dunia—yang satu penuh ambisi dan luka lama, yang lain sederhana, hangat, dan memberi rasa pulang.Zahra datang tanpa rencana. Sahabat yang berubah menjadi istri. Perempuan yang lembut, hamil, dan dicintai dengan cara yang tak pernah Arvin sadari sebelumnya. Bersamanya, Arvin belajar arti kehadiran, pengabdian, dan cinta yang tidak berisik.Sementara Miranda—perempuan kuat yang pernah berdiri di samping Arvin—harus menerima kenyataan paling pahit: cinta yang diabaikan bisa hilang tanpa suara. Ketika ia kembali dan melihat Arvin dengan wajah berkeringat di dapur, membuat rujak untuk perempuan lain, dunia yang ia kenal runtuh dalam diam.Namun luka tidak selalu berhenti pada perpisahan.Kecelakaan, dendam keluarga, dan musuh lama yang belum menyerah membuat semuanya kembali bergejolak.Di antara rahasia, kehamilan, dan cinta yang tumbuh di tempat tak terduga, satu pertanyaan menggantung:Siapa yang berhak atas kebahagiaan? Mereka yang datang lebih dulu, atau mereka yang benar-benar bertahan?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
"Za, maaf ya, nunggunya lama," Arvin muncul dari arah dapur sambil membawa nampan kecil. Wajahnya merah, keningnya basah oleh keringat, setelah dia sibuk selama beberapa menit membuat teh jahe untuk Zahra. Di atas nampan itu ada secangkir teh jahe yang uapnya masih mengepul dan sepiring biskuit gandum. Ia meletakkannya di meja dengan hati-hati, lalu duduk di samping Zahra. “Ini… pelan-pelan minumnya. Masih panas.” Zahra menatapnya sesaat, matanya melembut. Sebelah tangannya menopang perutnya yang bertambah besar di usia enam bulan. Ia meraih cangkir itu, menghirup aromanya sebelum menyesap perlahan. Rasa hangat menjalar ke tenggorokannya, tapi tak sampai semenit, ekspresinya berubah. Bibirnya sedikit manyun, alisnya berkerut. “Mas…” panggilnya lirih. Arvin langsung mencondongkan tubuh. “Kenapa? Perutmu nggak enak lagi?” “Enggak. Si Baby kayaknya mau yang lain,” Zahra berusaha tersenyum, tapi suaranya bergetar, karena rasa mualnya masih terasa. “Aku tiba-tiba pengin rujak mangga muda, sedikit pedas.” Arvin terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan sambil tersenyum pasrah. Tangannya terulur, mengusap punggung tangan Zahra dengan ibu jari yang hangat. “Sekarang juga?” Zahra mengangguk kecil. “Kalau nggak diturutin, rasanya pengen nangis, Mas” "Tenang, Mas nggak bakal biarin istri nangis." Arvin yang bersemangat bangkit lagi, mengangkat nampan kosong. Sebelum melangkah, ia menunduk dan mengecup kening Zahra lama, menenangkannya. “Duduk yang manis. Jangan ke mana-mana. Mas bikini rujak sesuai permintaan si baby.” Zahra tersenyum, mengangguk. Beberapa bulan bersama, Arvin semakin perhatian dan makin sayang. Semua yang Zahra inginkan selalu dia turuti. Arvin jadi suami yang sempurna di mata Zahra. Zahra menyandarkan punggung, menunggu sambil menyesap teh perlahan. Perasaannya tambah hangat membayangkan Arvin sibuk membuat rujak di dapur. Walaupun bumbu petisnya sudah disiapkan oleh ART dan tinggal menambahkan mangga muda, tapi membayangkan Arvin melakukan itu rasanya luar biasa. Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Zahra menarik napas, menahan perutnya yang terasa berat, lalu berdiri perlahan. “Sebentar,” katanya lirih, lebih pada dirinya sendiri. Ia melangkah ke pintu dengan langkah hati-hati dan membukanya. Miranda berdiri di sana. Zahra terdiam beberapa detik, terkejut, lalu menggeser tubuh memberi ruang. “Oh, mari silakan masuk, Mbak,” ucapnya pelan. Dalam hati bertanya-tanya apa maksud kedatangan Miranda. Ini pertama kalinya wanita itu datang ke rumah ini. "Maaf mengganggu, Za," ucap Miranda seraya melangkah masuk mengikuti Zahra. Pandangannya menyapu ruang tamu dan ruang keluarga. Ruangan rapi, hangat, dan lebih hidup. Berbeda dengan suasana rumahnya dan Arvin yang semakin hari bertambah dingin. Saat itulah Arvin muncul dari arah dapur membawa sepiring rujak. Penampilannya membuat tatapan Miranda terpaku. Lengan kemeja Arvin digulung hingga siku, kancingnya terbuka sampai da-da, rambutnya sedikit kacau, wajahnya basah oleh keringat. Ia tampak bersemangat dan bahagia. Dahi Miranda mengerut. Dadanya menegang, napasnya terasa pendek. Selama mereka bersama, Arvin tak pernah terlihat seperti ini—tak pernah berantakan karena kesibukan di dapur, tak pernah berkeringat demi hal sepele, tak pernah memancarkan kepuasan sederhana yang begitu jujur. Senyum Arvin terbit alami saat menatap Zahra, seolah dunia berhenti di titik itu. “Rujaknya sudah jadi,” kata Arvin lembut, meletakkan piring di atas meja. Dia mendongak. Menyadari kehadiran Miranda, ada keterkejutan sesaat dan senyumnya seketika meredup. Miranda merasa seperti ditampar. Yang membuat Arvin seperti ini bukan dirinya. Bukan masa lalu mereka. Bukan kenangan yang dulu ia jaga mati-matian. Yang membuat Arvin menggulung lengan, membuka kancing, menantang panas di dapur—adalah Zahra. Zahra menerima piring itu dengan senyum kecil, matanya berbinar. “Terima kasih, Mas.” Arvin mengangguk, tangannya refleks menahan siku Zahra agar tak terlalu menunduk. Gerak kecil, penuh perhatian. Miranda memalingkan wajah, menelan sesak yang tiba-tiba tertahan di tenggorokan. "Eh, maaf, sampai nggak sadar ada mbak Miranda." Zahra menatap Miranda canggung "Nggak apa-apa, Za. Lagi ngidam rujak mangga, ya?" "Iya, Mbak," Zahra tersenyum malu-malu. “Ada apa, Mir?” tanya Arvin akhirnya. Miranda menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan ke Zahra. Nada datar Arvin lagi-lagi mencubit hatinya. “Aku mau bicara. Sama kalian berdua." Ujar Miranda sambil meletakkan map yang ia bawa di atas meja. Jemarinya rapi, gerakannya tenang. “Aku mau mengembalikan ini,” katanya. Arvin mengernyit. “Apa?” Miranda membuka map. Di dalamnya, sebuah sertifikat rumah—rumah yang selama ini mereka tempati bersama sebelum semuanya runtuh. Zahra langsung tahu. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Rumah ini,” Miranda mendorong sertifikat itu ke arah Arvin, “kamu yang beli.” Arvin menatap kertas itu, lalu menatap Miranda. “Miranda—” “Dengar dulu,” potong Miranda lembut, tapi tegas. “Waktu kita menikah, aku tahu kondisi keuangan kita. Aku tahu siapa yang bekerja lebih keras. Rumah itu atas nama kita berdua, tapi uangnya… dari kamu.” Zahra menunduk. Tangannya saling menggenggam di pangkuan. “Itulah kenapa,” lanjut Miranda, suaranya tetap stabil meski matanya mulai berkaca, “aku nggak pernah mau bahas harta gono-gini saat perceraian.” Arvin menghela napas berat. “Aku nggak pernah menganggap—” “Aku tahu.” Miranda tersenyum tipis. “Makanya aku datang.” Ia menggeser kursinya sedikit, lalu menoleh ke Zahra. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kebencian di sana. Hanya kelelahan panjang. “Zahra,” panggil Miranda pelan. Zahra mengangkat wajah. “Iya, Mbak,” Miranda menatapnya lama, seolah ingin memastikan setiap kata tidak akan disalahartikan. “Aku marah,” katanya jujur. “Aku sakit hati. Dan mungkin… aku akan butuh waktu lama untuk benar-benar sembuh. Jadi aku ingin meninggalkan semuanya di belakang, sebelum melanjutkan langkahku.” Zahra menelan saliva. Ia membuka mulut, ingin menanggapi, tapi tidak ada suara yang keluar. Miranda menarik napas. “Aku yakin… kamu bisa jadi istri yang lebih baik dariku.” Zahra spontan berdiri. “Mbak Miranda, aku—” Miranda mengibaskan tangannya, “Nggak usah mikir yang enggak-enggak. Tolong bahagiakan Mas Arvin,” potong Miranda cepat. Kali ini suaranya bergetar. “Jangan ulangi kesalahanku. Jangan mencintai dengan perasaan egois.” Matanya basah, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Arvin berdiri juga. “Mir, kamu nggak perlu melakukan ini.” Miranda bangkit. Ia mengambil tasnya. “Aku perlu melakukannya, Mas. Mungkin sekarang Mas berpikir nggak perlu. Tapi nanti, saat hidup kita masing-masing sudah berlanjut, pasti akan kerasa.” Miranda berjalan ke arah pintu depan. Sebelum keluar, dia menatap Zahra sebentar. "Za, tolong bahagiakan Mas Arvin." Dia lalu berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup pelan. Zahra masih berdiri kaku. Dadanya terasa sesak. Arvin mengambil sertifikat itu, tapi tangannya gemetar. “Za,” panggilnya pelan. Zahra menoleh. Matanya basah. “Dia… terlalu baik untuk disakiti seperti ini.” Arvin tidak menjawab, tapi merangkul bahu Zahra, mengajaknya kembali duduk di sofa. "Rujaknya dimakan dulu. Jangan sampai si baby ngambek." Zahra tertawa kecil mendengarnya. Dia langsung mengambil piring rujak dengan mata berbinar. *** Mobil hitam yang menunggu Miranda di depan rumah dengan mesin menyala mulai meluncur perlahan. "Kita langsung ke bandara, Bu?" tanya sopir. "Iya." Miranda menjawab singkat. Mobil berbelok dan tak lama kemudian memasuki gerbang jalur cepat menuju bandara. Di kursi belakang, Miranda duduk tegak dengan mantel krem yang belum sempat ia kancingkan. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya pucat, tapi matanya jernih—terlalu jernih untuk seseorang yang baru saja meninggalkan rumah, pernikahan, dan hidup yang pernah ia yakini. Telepon di tangannya bergetar. Miranda menatap layar. Pesan dari Nico. Ia memejamkan mata sejenak, lalu mematikan ponsel tanpa membacanya. Ponsel itu ia masukkan ke dalam tas, seolah mengubur masa lalu bersama benda kecil itu. Ia menarik napas panjang. Ia sudah memutuskan ke Singapura, memulai hidup baru di sana. Tidak ada lagi luka yang menggerogoti harga dirinya. “Lima belas menit lagi sampai, Bu,” kata sopir dari balik kemudi. Miranda mengangguk. “Iya.” Mobil melaju menyalip truk di depannya. Hujan sedikit mengabur, wiper bergerak cepat. Di kejauhan, lampu rem menyala mendadak. Sopir mengumpat pelan dan menginjak rem. Terlambat. Benturan itu datang cepat. Suara logam beradu memekakkan telinga. Tubuh Miranda terhempas ke depan, sabuk pengaman menahan dadanya, namun kepalanya membentur sandaran kursi depan. Dunia berputar cepat, lalu runtuh dalam gelap. Di detik terakhir sebelum kesadarannya hilang, wajah Zahra terlintas di benaknya. Kalimatnya sendiri bergema pelan: 'Tolong bahagiakan Mas Arvin.' Lalu semua gelap.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
200.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
17.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.9K
bc

Kali kedua

read
218.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
77.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook