Arvin sedang menandatangani berkas ketika ponselnya bergetar keras di atas meja. Nama yang muncul membuat tangannya berhenti di udara.
Ibu Mertua.
Ibunya Miranda. Dia bahkan belum mengganti nama kontaknya.
Jantung Arvin berdetak lebih cepat. Ia mengangkat telepon.
“Vin,” suara itu terdengar gemetar, nyaris tak dikenali. “Miranda kecelakaan.”
Kata-kata itu menghantam seperti palu.
“Apa?” Arvin bangkit dari kursinya. “Di mana, Bu? Kondisinya bagaimana?”
“Di jalan tol menuju bandara. Sekarang sudah dibawa ke rumah sakit. Kamu ke sini. Sekarang.”
Nada itu bukan permintaan. Itu perintah yang dilapisi kepanikan.
“Aku segera datang, Bu,” jawab Arvin cepat.
Telepon terputus.
Arvin berdiri kaku beberapa detik, lalu meraih jaketnya. Tangannya gemetar saat mengancingkannya. Otaknya berputar cepat, mencoba mencerna. Miranda kecelakaan di jalan menuju Bandara. Ia hendak pergi. Pergi dari hidup mereka semua.
Dan beberapa menit lalu dia bahkan masih di sini, berbicara dengan mereka.
“Mas?”
Suara Zahra terdengar dari ambang pintu.
“Ada apa?”
Arvin menoleh. Matanya gelap oleh kecemasan. “Miranda kecelakaan.”
Zahra tertegun. “Ya Allah…”
“Aku harus ke rumah sakit sekarang.”
Zahra mengangguk cepat. “Aku ikut, Mas,”
Arvin ragu sepersekian detik. Menatap wajah Zahra. Menatap perutnya. “Kamu—”
“Aku kuat, kok Mas,” potong Zahra tegas, meyakinkan. “Mbak Miranda sahabatku, aku perlu tahu keadaannya.”
***
Aroma antiseptik menyambut mereka begitu pintu rumah sakit terbuka. Tajam dan dingin, menyusup sampai ke da-da.
Langkah Arvin terhenti beberapa detik. Dadanya masih naik-turun tak teratur sejak menerima telepon beberapa menit lalu.
Suara ibu Miranda terdengar bergetar, bukan hanya cemas, tapi ada ketakutan.
Bagaimana kondisi Miranda sekarang? Apakah kecelakaannya berat?
Pertanyaan itu terus memenuhi benaknya.
Arvin merasakan cengkeraman tangan Zahra di lengannya menguat. Dia tahu, istrinya merasakan kecemasan yang sama.
"Kita berdoa saja, semoga Miranda baik-baik saja." ucap Arvin sambil menepuk punggung tangan Zahra.
"Iya, Mas,"
Mereka sudah mendapat informasi dari resepsionis rumah sakit bahwa korban kecelakaan yang baru tiba tadi sudah dibawa ke ruang operasi.
Arvin menggenggam tangan Zahra erat, merela terus menyusuri lorong menuju ruang operasi.
Tanpa diduga, suatu hal mengejutkan menyambut mereka.
“ITU DIA!”
Suara itu melengking, memantul di dinding putih rumah sakit. Arvin menoleh refleks.
Atika, kakak tertua Miranda berdiri di ujung lorong. Wajahnya merah, matanya sembab, napasnya terengah seperti baru berlari jauh. Di sisi kirinya ibunya berdiri dengan wajah sedih, mata memerah, tanda habis menangis.
Di sisi kanan, ada sang ayah yang berdiri kaku—bahu tegap, bibir terkatup rapat, sorot matanya gelap dan dingin. Dua orang paman Miranda dan seorang sepupu membentuk setengah lingkaran di belakang mereka, menciptakan tembok sunyi yang penuh permusuhan.
Arvin tercekat. 'Ada apa?'
“Mas Arvin…” bisik Zahra pelan di sampingnya. Jemarinya mencengkeram lengan baju Arvin tanpa sadar.
Belum sempat Arvin melangkah mendekat, ibu Miranda sudah bergerak cepat. Langkahnya berat, penuh emosi yang tak lagi terkendali. Tangannya terangkat—
PLAK!
Tamparan itu mendarat telak di pipi Arvin. Suaranya nyaring, memecah lorong. Dunia seperti berhenti berputar.
Arvin terpaku. Kepalanya sedikit menoleh ke samping akibat benturan. Pipinya panas, telinganya berdenging. Tapi yang paling menyakitkan bukan rasa sakit di fisiknya—melainkan tatapan memusuhi di sekeliling mereka. Perawat yang terdiam, para pengunjung rumah sakit yang menyaksikan penuh rasa ingin tahu. Bisik-bisik yang mulai berdesir.
“Kamu puas sekarang?” teriak ibu Miranda. Suaranya bergetar antara marah dan histeris. Air mata mengalir tanpa ia pedulikan. “Anakku hampir mati karena kamu!”
Arvin menelan ludah, mulai memahami kemana arah kemarahan ini. Tenggorokannya kering.
Dia berusaha menjelaskan, “Bu… saya ti—”
“JANGAN PANGGIL AKU IBU!” bentaknya nyaring. “Kamu nggak layak. Sekarang kamu bukan siapa-siapa lagi buat keluarga kami!”
"Ya! Kamu LAKI-LAKI BAJING@N!!" Atika ikut meneriaki Arvin.
Zahra tersentak. Ia refleks melangkah maju. “Tolong, Bu, Mbak… mohon jangan salahkan Mas Arvin—”
“KAMU DIAM!”
Atika menatap Zahra penuh kebencian. Telunjuknya tertuju ke arah Zahra tanpa ragu.
“Pelakor ini,” katanya lantang, suaranya menggema. “Dia yang menghancurkan rumah tangga Miranda, Mam. Miranda terlalu baik, dia menyembunyikan ini dari kita, ”
Zahra membeku.
“Pelakor yang membuat Arvin menceraikan Miranda,” lanjutnya, jarinya masih terancung, “dan akhirnya Miranda memutuskan pergi ke Singapura!”
Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti bensin yang disiramkan ke api.
Arvin melihat perubahan di wajah ibu Miranda. Amarah yang semula meledak kini berubah menjadi kemarahan yang lebih liar. Tangannya gemetar. Napasnya memburu.
“Kamu!” ibu Miranda melangkah mendekat ke Zahra kali ini. “Perempuan.tidak tahu diri!”
Zahra mundur satu langkah. Wajahnya pucat pasi.
“Kamu sahabat Miranda!” teriak wanita itu. “Kami menolong kamu! Kami percaya sama kamu! Tapi begitu balasannya?”
Setiap kalimat seperti cambuk.
“Aku—” suara Zahra bergetar, nyaris tak terdengar. “Aku nghak pernah berniat—”
“Nggak berniat?” Kakak Miranda tertawa sinis. “Kamu tidur dengan suami Miranda sampai hamil. Lalu bilang nggak berniat?”
Arvin bergerak cepat. Ia berdiri di depan Zahra, tubuhnya menjadi tameng. Tangannya sedikit terbuka, refleks protektif yang tak bisa ia kendalikan.
“Cukup!” suaranya meninggi. “Jangan seret Zahra ke masalah ini. Miranda tahu persis apa penyebabnya. Jangan menyalahkan—”
“DIAM KAMU!” bentak salah satu paman Miranda. “Kamu sudah cukup merusak hidup keponakanku!”
Arvin diam, bukan karena takut, tapi memilih diam karena tidak ada gunanya berbicara dengan orang-orang yang sudah terlanjur emosi.
Sementata Ayah Miranda masih berdiri di tempatnya. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi tatapannya menusuk, berat, seperti palu yang siap dijatuhkan kapan saja. Rahangnya mengeras. Urat di lehernya menegang.
“Anakku masuk ruang operasi!” ibu Miranda terisak. “Dan kamu datang ke sini dengan… dengan perempuan itu!”
Kata itu meluncur tajam.
Zahra menunduk. Pandangannya kabur. Tangannya mencengkeram perutnya sendiri, seolah butuh pegangan agar tidak runtuh. Kepalaya mulai berputar, napasnya pendek, agak tersengal. Dunia terasa menyempit, lorong putih itu seperti menekan dari segala arah.
Arvin menoleh cepat. “Zahra?”
“Aku nggak apa-apa,” bisik Zahra, meski suaranya lemahnya menunjukkan ia tidak baik-baik saja.
Perawat berlari mendekat. “Mohon tenang, Pak, Bu. Ini rumah sakit. Tolong jaga ketertiban.”
Kakak Miranda tertawa pendek. Pahit. Tanpa humor. “Tenang?” ulangnya. “Adik perempuanku hampir mati.”
Arvin menatap wanita itu. “Mbak… aku datang karena khawatir. Miranda—”
“Khawatir?” Kakak Miranda memotong. “Khawatir atau memastikan dia benar-benar pergi dari hidupmu?”
Itu pukulan lain.
Arvin terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia baru menyadari betapa berbeda wajah-wajah ini dari keluarga yang dulu menyambutnya hangat. Dari orang-orang yang pernah menyebutnya anak sendiri.
Kini… ia orang asing.
Dan Zahra—lebih buruk lagi.
“Lihat dia,” Atika menyeringai pahit. “Masih berani berdiri di sini.”
“Dia istriku,” kata Arvin pelan tapi tegas. “Dan dia sedang hamil. Tolong jangan menekannya.”
Kalimat itu membuat lorong kembali senyap.
Beberapa detik berlalu sebelum ibu Miranda menjerit, lebih keras dari sebelumnya.
“Kalau begitu, semoga kamu menanggung semuanya!”
Tangisnya pecah.
Dan di tengah kekacauan itu—
“Cukup.”
Suara itu datar, rendah, tapi berwibawa.
Seorang dokter keluar dari ruang operasi. Maskernya masih tergantung di leher. Tatapannya menyapu mereka satu per satu, berhenti sejenak pada Arvin dan Zahra yang berdiri berhadapan dengan badai.
“Kita bicara nanti,” katanya singkat. “Sekarang, pasien membutuhkan ketenangan.”
Lorong kembali dipenuhi napas berat, isak tertahan, dan dendam yang belum selesai.
Zahra bergoyang pelan, seperti kehilangan pusat gravitasi.
Arvin melihatnya bukan sebagai satu kejadian tiba-tiba, melainkan rangkaian tanda yang terlambat ia sadari—warna wajah Zahra yang memudar seperti kertas basah, bibirnya yang kehilangan rona, jemarinya yang gemetar saat mencoba menarik napas.
“Za?” panggil Arvin lirih.
Zahra menoleh, tapi matanya tidak benar-benar fokus. Ada kilap basah yang tertahan di sana, seperti kaca retak yang sebentar lagi pecah. Tangannya meraba udara, lalu tanpa sadar mencengkeram lengan Arvin lebih kuat dari sebelumnya.
“Aku… Mas…” suaranya putus. “Aku pusing.”
Kata itu belum selesai ketika tubuh Zahra limbung ke depan.
Arvin refleks meraih pinggangnya. Jantungnya menghantam d**a. “Zahra!” Ia memeluknya erat, menopang seluruh berat tubuh istrinya.