Bab 3

1464 Kata
Da-da Zahra naik-turun cepat, napasnya pendek-pendek, seolah udara di lorong itu mendadak habis. Di belakang mereka, suara dokter masih terdengar—menjelaskan dengan nada profesional tentang operasi yang panjang, tentang trauma berat di kepala Miranda, tentang kondisi koma yang belum bisa dipastikan kapan berakhir. Kata-kata itu mengalir, penjelasan teknis dan datar. Namun bagi Arvin, semuanya tak lagi jelas, karena fokusnya sudah teralihkan. Pandangannya hanya tertuju pada wajah Zahra. Wajah yang sebelumnya sudah pucat, sekarang makin bertambah pucat. Butiran keringat mengembun di dahinya. Arvin meraba dahi Zahra. Dingin. Tidak seperti biasanya. Hatinya mencelos. Zahra sedang hamil. Tubuhnya sedang bekerja dua kali lipat. Dan ia baru saja dihantam makian, tuduhan, kebencian—di tempat yang seharusnya steril dari kekerasan. “Mas… jangan… aku nggak apa-apa…” Zahra mencoba tersenyum, tapi bibirnya bergetar. Senyum itu runtuh sebelum sempat terbentuk. Arvin tak menunggu lebih lama. “Maaf,” katanya singkat, bukan kepada siapa pun secara khusus. Bukan kepada dokter. Bukan pula kepada keluarga Miranda. “Istri saya butuh pertolongan.” Ia membungkuk, menyelipkan satu tangan ke bawah lutut Zahra dan satu lagi menopang punggungnya. Tubuh Zahra terasa ringan—terlalu ringan untuk seseorang yang menanggung kehidupan lain di dalam rahimnya. Begitu Arvin menggendongnya, Zahra tak lagi menahan. Isak kecil pecah di dadanya. Tangisan itu tidak keras. Tidak histeris. Justru itulah yang mengiris hati Arvin. "Sst, nggak usah nangis." Bujuk Arvin dengan napas memburu. Zahra masih terisak. Isakan yang tertahan, seolah Zahra berusaha menelan semua luka sendirian. Wajahnya disembunyikan di da-da Arvin. Napasnya tersengal, bahunya bergetar. “Aku di sini,” bisik Arvin berulang-ulang, seperti mantra. “Aku di sini, Za. Dengar aku. Kamu aman.” Ia berjalan cepat menyusuri lorong, ia membawa Zahra ke UGD. “Dokter!” panggil Arvin, tegang. “Tolong, istri saya sedang hamil. Dia syok.” Perawat berlari. Pintu otomatis terbuka. Cahaya putih menyambut mereka, lebih terang, lebih dingin. Begitu Zahra dibaringkan di atas brankar, Arvin masih menggenggam tangannya. Jemari Zahra dingin, basah oleh keringat dan air mata. “Mas…” suara Zahra serak. Dia merasakan nyeri di bawah perutnya. “Aku takut bayinya kenapa-napa, Mas,” Satu kalimat itu mematahkan sisa ketegaran Arvin. Ia menunduk, dahi hampir menyentuh rambut Zahra. “Nggak usah takut, Sayang. Bayi kita kuat. Dia pasti sekuat ibunya,” katanya pelan, berusaha mengendalikan getar di suaranya. Dokter UGD datang, memeriksa tekanan darah, memasang alat pemantau. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan—usia kehamilan, riwayat medis, keluhan terakhir. Arvin menjawab semuanya dengan cepat, presisi, meski pikirannya berisik. Zahra terus menangis, kali ini lebih pelan. Tangis yang menyerupai rengekan tertahan, seperti anak kecil yang kelelahan setelah terlalu lama menahan sakit. “Aku… aku udah salah, Mas,” katanya di sela isak. “Mereka benci aku…” Arvin menelan ludah. Dadanya terasa sesak, seperti ada tangan tak kasatmata yang meremas jantungnya. “Ini bukan salahmu,” katanya tegas, meski ia tahu kalimat itu tak akan cukup. “Bukan kamu yang salah.” “Tapi mereka…” Zahra terisak. “Mereka bilang aku menghancurkan segalanya.” Arvin memejamkan mata sejenak. Ia bisa merasakan luka Zahra— nyeri itu terasa nyata, merambat ke dadanya sendiri. Luka karena dicintai lalu dibenci oleh orang-orang yang dulu menolongnya. “Dengar aku,” Arvin membuka mata, menatap Zahra dengan sungguh-sungguh. “Yang paling penting sekarang kamu dan anak kita. Dunia boleh ribut. Mereka boleh berteriak. Tapi kamu jangan menyalahkan diri sendiri.” Zahra mengangguk kecil, tapi air matanya belum berhenti. Seorang perawat mendekat. “Pak, mohon menunggu di luar sebentar. Kami perlu observasi.” Arvin ragu. Tangannya enggan melepas. “Saya di sini saja.” “Kami janji akan langsung panggil Bapak begitu selesai,” kata perawat itu lembut. Arvin akhirnya melepaskan genggaman itu, perlahan, seperti takut Zahra akan menghilang begitu saja. Ia melangkah mundur satu langkah, lalu dua. Pintu tirai ditarik. Begitu Zahra tak lagi terlihat, kekuatan Arvin runtuh. Ia berdiri di lorong UGD, menyandarkan punggung ke dinding dingin. Tangannya mengepal, lalu membuka, lalu mengepal lagi. Napasnya berat. Kepalanya tertunduk. Sekarang ia teringat suara dokter dari kejauhan—tentang Miranda, tentang trauma berat yang menyebabkan Miranda koma. Namun Arvin tidak memikirkannya lebih jauh, karena dia hanya memikirkan Zahra. Dia belum bisa tenang dan memikirkan hal lain. Hanya Zahra. Perempuan yang ia cintai. Perempuan yang mengandung anaknya. Perempuan yang baru saja dihancurkan dengan kata-kata kejam, lalu berusaha tetap berdiri. Arvin menutup wajahnya dengan kedua tangan. Di antara bau antiseptik dan suara monitor medis, ia berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi setelah ini, ia akan selalu berdiri di depan Zahra, melindunginya. Waktu di lorong UGD terasa berjalan sangat lambat. Arvin masih menunggu dengan perasaan seperti diremas ketakutan. Zahra pasti merasakan sesuatu, makanya dia menangis. Tapi Arvin terus menguatkan hatinya, dia yakin Zahra kuat. Arvin duduk di bangku besi, siku bertumpu di lutut, tangan saling menggenggam kuat seolah jika dilepas, semuanya akan runtuh. Lampu putih di atas kepalanya bersinar terang. Setiap kali tirai UGD bergerak, jantung Arvin ikut melonjak. Ia berdiri, lalu duduk lagi. Menghela napas, lalu menghembuskannya dengan kasar. Pikirannya berantakan—wajah Zahra yang pucat, isakan tertahan di dadanya, tatapan penuh ketakutan yang berusaha disembunyikan dengan senyum rapuh. Semua itu terus berputar, menindih satu sama lain. Tak lama kemudian, langkah kaki mendekat. Ayah Miranda berdiri beberapa meter darinya. Pria itu tidak lagi tampak marah. Wajahnya keras, datar, seperti batu yang sudah terlalu lama menahan hujan dan panas. “Dokter bilang kondisinya stabil,” kata pria itu akhirnya. Suaranya rendah. “Tapi masih koma, dan dokter masih memantau dengan ketat.” Arvin mengangguk pelan. “Saya harap… Miranda bisa melewati ini.” Tidak ada jawaban. Ayah Miranda hanya menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. Ada kelelahan di sana—kelelahan yang tak butuh kata. Beberapa detik berlalu dalam keheningan canggung. “Kamu tahu,” ujar pria itu lagi, tanpa menoleh, “kami menyayangi Zahra dulu.” Kalimat itu membuat da-da Arvin mencelos. “Dia seperti anak sendiri di rumah kami,” lanjutnya lirih. “Miranda selalu membelanya. Selalu.” Arvin menelan ludah. “Saya tahu, Pak.” “Tapi hari ini…” napas pria itu berat. “Semua jadi kabur.” Arvin tidak membela diri. Tidak juga menyerang. Ia hanya menunduk, menerima kata-kata itu seperti menerima hujan—dingin, tak bisa dihindari. "Kami dijebak oleh mantan pacar Miranda di sebuah pesta,” kata Arvin akhirnya. “Zahra hamil anakku, dan sebagai laki-laki bertanggung jawab, aku menikahinya.” Ayah Miranda menoleh, menatapnya lama. Tidak ada amarah di sana. Hanya luka yang seolah terbuka kembali. Dia belum mendengar cerita sebenarnya dari putrinya, Miranda. Itu membuatnya belum percaya sepenuhnya pada penjelasan pria yang pernah menjadi menantunya ini. “Tanggung jawab, kamu sudah melakukan hal yang benar,” katanya, lalu melangkah pergi. Arvin memejamkan mata. Beberapa menit kemudian, tirai UGD terbuka. Seorang perawat keluar sambil membawa papan catatan. “Pak Arvin?” Arvin langsung berdiri. “Istri saya bagaimana?” “Kondisinya lebih stabil,” jawab perawat itu. “Tekanan darahnya sempat turun karena syok emosional dan kelelahan. Kami beri cairan dan obat penenang ringan. Bayinya aman, tapi perlu observasi ketat.” Kata aman membuat lutut Arvin nyaris lemas. “Boleh saya masuk?” “Sebentar lagi. Tunggu dokter kandungan selesai.” Arvin mengangguk cepat. “Terima kasih.” Ia kembali duduk, kali ini dengan napas sedikit lebih teratur. Namun rasa bersalah mulai menyelinap—perasaan yang datang diam-diam, tapi menghantam telak. Ia memikirkan Miranda. Tentang sertifikat rumah yang diserahkan dengan tangan gemetar. Tentang senyum lelah dan kata-kata terakhirnya: Tolong bahagiakan Mas Arvin. Tentang mobil yang melaju menjauh—dan kecelakaan yang menghapus rencana hidup barunya. Hatinya terbelah dua. Satu bagian dipenuhi kecemasan pada Zahra dan anak mereka. Bagian lain diliputi duka yang tak tahu harus diletakkan di mana. Tak lama, dokter kandungan keluar. “Pak Arvin, silakan.” Arvin masuk perlahan. Zahra terbaring di ranjang, wajahnya masih pucat, tapi napasnya lebih teratur. Selang infus terpasang di tangannya. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya terpejam. Arvin mendekat, duduk di sisi ranjang. Tangannya meraih jemari Zahra, kali ini lebih hangat. “Mas…” suara Zahra lirih, nyaris berbisik. Matanya membuka perlahan. “Aku di sini,” jawab Arvin cepat. “Jangan bicara dulu.” Zahra tersenyum tipis, senyum yang rapuh tapi jujur. “Aku mimpi buruk,” katanya pelan. “Mereka marah. Semua orang marah.” Arvin menggeleng, menahan emosi. “Sekarang istirahat. Yang lain biar aku urus.” Zahra menatapnya lama, seolah ingin memastikan sesuatu. “Miranda… bagaimana?” Pertanyaan itu menusuk. Arvin menarik napas dalam. “Dia masih koma. Tapi kondisinya stabil.” Zahra memejamkan mata, air mata mengalir lagi—bukan deras, tapi jatuh satu per satu. “Aku tidak pernah ingin semua ini terjadi.” “Aku tahu,” kata Arvin tegas. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyalahkanmu lagi.” Zahra menggenggam tangannya lebih erat. “Mas… apa kita akan baik-baik saja?” Pertanyaan itu sederhana, tapi sarat ketakutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN