Bab 4

1421 Kata
Arvin membungkuk, mencium punggung tangan Zahra dengan lembut. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi satu hal pasti—aku akan tetap di sini. Bersamamu.” Zahra mengangguk kecil. Napasnya kembali teratur. Kelopak matanya perlahan menutup. Arvin tetap duduk di sana, menatap wajah istrinya, menyerap setiap detik keheningan itu. Di luar ruangan, dunia mungkin masih ribut—dengan tuduhan, kemarahan, dan luka lama yang belum sembuh. Namun di dalam ruang UGD itu, Arvin membuat satu keputusan sunyi: apa pun badai yang datang, ia akan menjadi tempat Zahra berteduh. Malam turun perlahan, seperti selimut berat yang dijatuhkan tanpa izin. Arvin masih duduk di sisi ranjang Zahra ketika jam dinding UGD menunjukkan hampir tengah malam. Lampu diredupkan. Suara langkah kaki tak lagi tergesa, berganti dengan ritme pelan—bisikan perawat jaga, bunyi monitor yang setia berdetak, dan dengung AC yang membuat udara terasa lebih dingin dari seharusnya. Zahra tertidur lelap. Napasnya stabil. Wajahnya yang pucat perlahan mendapatkan sedikit warna, meski lingkar hitam di bawah matanya tak bisa disembunyikan. Arvin menatapnya lama, seakan ingin menghafal setiap detail—garis alisnya, ujung bulu mata yang bergetar halus, dan perutnya yang belum terlalu besar, tapi sudah mengubah segalanya. Ia meraih ponsel, menatap layar tanpa benar-benar membaca. Ada beberapa panggilan tak terjawab. Dari kantor. Dari Gilang. Bahkan satu pesan singkat dari Miranda—tertanggal pagi tadi, sebelum semuanya pecah. Terima kasih sudah menjadi bagian hidupku. Jaga dirimu. Arvin menutup mata. Dadanya terasa sesak. Pintu UGD diketuk pelan. Arvin menoleh. Seorang perawat memberi isyarat agar ia keluar sebentar. Dengan hati-hati, ia melepaskan genggaman tangannya dari jemari Zahra, menutupinya dengan selimut, lalu berdiri. Di lorong, ia mendapati ibu Miranda duduk di bangku plastik. Wajah wanita itu pucat dan sembab, jauh dari sosok penuh amarah beberapa jam lalu. Tangannya menggenggam tas kecil, jari-jarinya gemetar. Arvin berhenti beberapa langkah darinya. “Miranda masih koma,” kata wanita itu lirih, seolah takut suaranya memecahkan sesuatu yang rapuh. “Dokter bilang… trauma kepalanya cukup berat.” Arvin mengangguk pelan. “Saya mendoakan yang terbaik.” Wanita itu menunduk. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di lorong tadi, tidak ada teriakan. Tidak ada tuduhan. “Aku marah,” katanya tiba-tiba, suaranya parau. “Karena aku seorang ibu. Aku melihat anakku hancur, dan aku mencari siapa pun untuk disalahkan.” Arvin diam. Membiarkannya bicara. “Tapi melihat Zahra pingsan tadi…” napas wanita itu tersendat. “Aku lupa satu hal. Dia juga perempuan. Dan dia hamil.” Arvin mengangkat wajahnya. Ada kilat emosi di matanya—bukan kemarahan, melainkan kelelahan yang terlalu lama ditahan. “Apa pun yang Ibu rasakan,” katanya pelan tapi tegas, “tolong jangan sakiti istri saya lagi. Dia sudah cukup menderita.” Ibu Miranda menutup mata. Air mata jatuh tanpa suara. “Aku tidak menjanjikan bisa memaafkan. Tapi… aku akan berhenti menyalahkannya.” Itu bukan permintaan maaf. Tapi bagi Arvin, itu cukup—untuk malam ini. Tak lama kemudian, ayah Miranda datang menghampiri. Ia berdiri di antara mereka, seperti penyangga yang menahan dua emosi bertabrakan. “Pulanglah dulu,” katanya kepada Arvin. “Istrimu butuh istirahat. Kami akan mengabari kalau ada perkembangan.” Arvin ragu. “Saya ingin tetap di sini.” “Kamu tidak akan membantu siapa pun jika kamu jatuh sakit,” jawab pria itu singkat. “Besok… mungkin akan lebih berat.” Kata-kata itu terasa seperti peringatan. Arvin kembali ke dalam UGD. Ia membangunkan Zahra dengan lembut. “Sayang,” bisiknya. “Kita pindah ke kamar rawat inap, ya.” Zahra membuka mata perlahan. Masih lelah, tapi sadar. “Miranda…?” “Masih dirawat,” jawab Arvin jujur. “Kita doakan.” Zahra mengangguk. Tidak ada air mata kali ini. Hanya tatapan yang dalam dan tenang—ketenangan yang lahir setelah badai. Di kamar rawat inap, Zahra kembali tertidur. Arvin duduk di kursi dekat jendela. Dari sana, lampu kota terlihat berpendar seperti bintang palsu. Indah, tapi dingin. Ponselnya bergetar. Nama Gilang muncul di layar. “Vin,” suara di seberang terdengar hati-hati. “Aku dengar kabar kecelakaan. Kalian di mana?” “Rumah sakit,” jawab Arvin singkat. “Aku ke sana.” “Besok saja,” Arvin menahan. “Zahra butuh tenang.” Ada jeda. “Baik. Tapi kalau ada apa-apa, kabari.” Setelah panggilan berakhir, Arvin menatap layar kosong. Ia tahu—ini belum selesai. Keluarga Miranda belum benar-benar menerima. Luka lama belum sembuh. Dan Zahra… masih harus menghadapi hari-hari kehamilan dengan bayang-bayang rasa bersalah yang bukan miliknya. Arvin berdiri, mendekati ranjang Zahra. Ia menunduk, berbisik pelan—entah pada istrinya, pada anak yang belum lahir, atau pada dirinya sendiri. “Aku tidak akan lari. Tidak kali ini.” Di luar kamar, malam terus berjalan. Di ruang ICU, Miranda terbaring tak sadar, terjebak di antara masa lalu dan masa depan yang belum ia pilih. Dan di antara dua perempuan yang sama-sama terluka itu, Arvin berdiri—menyadari bahwa besok, ia harus belajar berjalan di atas garis yang lebih rapuh dari sebelumnya. Malam turun perlahan, seperti selimut berat yang dijatuhkan tanpa izin. Arvin masih duduk di sisi ranjang Zahra ketika jam dinding UGD menunjukkan hampir tengah malam. Lampu diredupkan. Suara langkah kaki tak lagi tergesa, berganti dengan ritme pelan—bisikan perawat jaga, bunyi monitor yang setia berdetak, dan dengung AC yang membuat udara terasa lebih dingin dari seharusnya. Zahra tertidur lelap. Napasnya stabil. Wajahnya yang pucat perlahan mendapatkan sedikit warna, meski lingkar hitam di bawah matanya tak bisa disembunyikan. Arvin menatapnya lama, seakan ingin menghafal setiap detail—garis alisnya, ujung bulu mata yang bergetar halus, dan perutnya yang belum terlalu besar, tapi sudah mengubah segalanya. Ia meraih ponsel, menatap layar tanpa benar-benar membaca. Ada beberapa email masuk dari klien dan rekan pengacara. Lalu ada pesan dari ibunya, yang baru masuk sekitar sejam yang lalu, menanyakan kondisi Zahra. Sejak awal Arvin menceritakan soal Zahra, ibunya sudah menyukai wanita yang sekarang sudah jadi istrinya itu. Lalu ada pesan dari dokter kandungan, sahabatnya, yang mengingatkan soal emosi Zahra yang tidak stabil. Fisiknya juga rentan, karena emosi yang tidak stabil itu. Sebagai suami, Arvin diminta untuk lebih peka dan menjaga istrinya baik-baik. Arvin menutup mata. Dadanya terasa sesak. Pintu UGD diketuk pelan. Arvin menoleh. Seorang perawat memberi isyarat agar ia keluar sebentar. Dengan hati-hati, ia melepaskan genggaman tangannya dari jemari Zahra, menutupinya dengan selimut, lalu berdiri. Arvin pergi sebentar keruang ICU, ingin mengetahui kondisi Miranda. Di lorong, ia mendapati ibu Miranda duduk di bangku plastik. Wajah wanita itu pucat dan sembab, jauh dari sosok penuh amarah beberapa jam lalu. Tangannya menggenggam tas kecil, jari-jarinya gemetar. Arvin berhenti beberapa langkah darinya. “Miranda masih koma,” kata wanita itu lirih, seolah takut suaranya memecahkan sesuatu yang rapuh. “Dokter bilang… trauma kepalanya cukup berat.” Arvin mengangguk pelan. “Saya mendoakan yang terbaik.” Wanita itu menunduk. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di lorong tadi, tidak ada teriakan. Tidak ada tuduhan. “Aku marah,” katanya tiba-tiba, suaranya parau. “Karena aku seorang ibu. Aku melihat anakku hancur, dan aku mencari siapa pun untuk disalahkan.” Arvin diam. Membiarkannya bicara. “Tapi melihat Zahra pingsan tadi…” napas wanita itu tersendat. “Aku sadar, aku telah melupakan satu hal. Dia juga perempuan. Dan dia sedang hamil.” Arvin mengangkat wajahnya. Ada kilat emosi di matanya—bukan kemarahan, melainkan kelelahan yang terlalu lama ditahan. “Apa pun yang Ibu rasakan,” katanya pelan tapi tegas, “tolong jangan sakiti istri saya lagi. Dia sudah cukup menderita.” Ibu Miranda menutup mata. Air mata jatuh tanpa suara. “Aku tidak menjanjikan bisa memaafkan. Tapi… aku akan berhenti menyalahkannya.” Itu bukan permintaan maaf. Tapi bagi Arvin, itu cukup—untuk malam ini. Tak lama kemudian, ayah Miranda datang menghampiri. Ia berdiri di antara mereka, seperti penyangga yang menahan dua emosi bertabrakan. Arvin pamitan dan kembali ke ruang UGD. Dia menunggu di depan pintu. Beberapa menit kemudian, suster dan dokter keluar. Arvin langsung berdiri. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Dokter menatap wajahnya yang cemas. "Pasien sudah stabil, Pak. Malam ini juga bisa pindah ke ruang perawatan untuk observasi." "Baik, terima kasih, Dok," Arvin masuk ke dalam ruangan, menemui Zahra yang terbaring lemah. Ia memanggilnya lembut. “Sayang,” bisiknya. “Kita pindah ke kamar rawat inap, ya.” Zahra membuka mata perlahan. Masih lelah, tapi sadar. “Mbak Miranda… gimana keadaannya, Mas?” “Masih dirawat,” jawab Arvin jujur. “Kita hanya bisa doakan yang terbaik. Sekarang, kamu fokus untuk pulih, ingat bayi kita,” Zahra mengangguk. Tidak ada air mata kali ini. Hanya tatapan yang dalam dan tenang—ketenangan yang lahir setelah badai. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN