Bab 5

1709 Kata
Pagi hari, Arvin terbangun di sofa. Semalam Zahra dipindah ke ruang perawatan reguler. Dia bisa tidur lebih tenang. Arvin ikut tidur di sofa dengan perasaan lega. Arvin melihat Zahra di atas ranjang, juga sudah terbangun. Matanya tertuju keluar jendela. "Ehemm...." Arvin berdehem pelan dan mendekat. "Gimana perasaanmu? Masih ada yang terasa sakit? Nggak enak?" Zahra membiarkan tangannya digenggam suaminya. Hatinya trenyuh melihat wajah lelah dan bayangan gelap di bawah matanya. Dia pengacara hebat, yang penampilannya selalu terjaga. Tapi sekarang Arvin terlihat kacau. "Aku baik-baik aja, Mas." Zahra tersenyum, menenangkan suaminya. "Masalahnya cuma satu, aku kelaparan," "Oh!" Arvin tertegun, baru sadar. "Chef rumah sakit mungkin bangun kesiangan, makanya makanan pasien telat diantar," ujarnya, mencandai Zahra. Berhasil. Zahra tertawa. "Memang harusnya bangun jam berapa? Ini saja baru jam lima subuh, Mas, mereka pasti masih sedang masak, " "Harusnya lebih cepat, biar jam lima subuh pasien yang kelaparan boleh langsung makan," Zahra makin tergelak. "Mas ini, ngaco!" Arvin mengusap kepala Zahra, merasa senang sekali mendengar tawa istrinya. "Ya udah, aku pesan sarapan," Arvin menelepon asistennya. Dan tak butuh waktu lama, Dimas datang membawa sarapan enak dan bergizi untuk mereka. *** Zahra semakin membaik. Pagi itu dia sudah diijinkan pulang. Namun, mereka diarahkan untuk berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter kandungan sebelum pulang. Mereka menunggu di ruangan dokter. Setelah beberapa menit menunggu, dokter kandungan akhirnya datang. Arvin dan Zahra duduk berdampingan di ruang periksa kecil yang dingin, bau antiseptik menusuk hidung. Zahra menggenggam ujung tasnya, jemarinya dingin meski suhu AC diruangan tak terlalu dingin. “Bu Zahra,” suara dokter perempuan itu tenang, profesional, “kita lakukan USG sebentar, ya.” Zahra mengangguk. Arvin berdiri di samping ranjang, matanya tak lepas dari wajah istrinya. Ia mencoba tersenyum, tapi rahangnya kaku—ketegangan yang tertahan sejak keributan di lorong tadi belum benar-benar pergi. Gel dingin menyentuh perut Zahra. Ia meringis kecil, lalu memejamkan mata ketika layar monitor dihidupkan. Detik-detik terasa melambat. Arvin menahan napas tanpa sadar. Dadanya berdebar-debar, selalu begitu setiap kali Zahra di USG. “Ini bayinya,” ujar dokter sambil menunjuk layar. Ada denyut kecil, ritmis. Suara detak jantung yang cepat memenuhi ruangan—halus, tapi semakin terdengar jelas. Sesuatu yang terasa mencengkeram kuat di da-da Arvin mengendur. Ia menelan ludah, matanya terasa panas. “Alhamdulillah,” gumamnya tanpa suara. Dokter melanjutkan pemeriksaan, wajahnya serius. “Ada tanda kontraksi ringan karena stres dan syok. Itu sebabnya Bu Zahra sempat goyah. Tapi kabar baiknya, tidak ada pendarahan. Kandungan masih bisa dipertahankan. Jagoan kita seorang pejuang sejati.” Jagoan? Arvin tertegun. Apakah bayinya laki-laki? Ah! Dia tidak ingin bertanya soal jenis kelamin bayinya. Karena baginya tidak masalah bayi laki-laki atau perempuan, itu anugerah dari Allah. Zahra membuka mata, bertanya dengan suara terbata. “Ja-jadi… bayi saya—” “Kondisinya sangat baik,” potong dokter lembut. “Dengan catatan, Ibu harus banyak istirahat, hindari stres, dan minum obat yang saya resepkan. Sebaiknya hindari aktivitas berat dulu.” Arvin mengangguk cepat. “Kami akan ikuti semuanya, Dok.” Dokter menuliskan resep, lalu menatap mereka bergantian. “Secara medis, Bu Zahra sudah cukup stabil untuk pulang. Tapi tolong, jaga agar lingkungan rumah selalu tenang, karena itu sangat membantu kesehatan serta perkembangan bayi dan Ibu. Dukungan emosional itu penting.” Kata-kata itu terasa seperti nasihat yang lebih ditujukan pada Arvin. "Baik, Dok. Terima kasih." Arvin menjabat tangan dokter. Seorang calon bapak yang sangat bersemangat. Mereka keluar dari ruangan dokter. Arvin menggenggam tangan istrinya erat. Zahra menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil—lelah, tapi merasa lega bayinya baik-baik saja. “Aku takut sekali tadi.” Arvin meraih tangannya. “Aku tahu. Maaf… aku bawa kamu ke situasi yang—” “Bukan salahmu,” Zahra memotong pelan. “Itu keadaan yang nggak bisa kita cegah. Lupakan saja, Mas. Aku hanya… ingin bayi ini baik-baik saja.” Arvin menunduk, keningnya menyentuh punggung tangan Zahra. “Dia akan baik-baik saja. Kita akan menjaganya.” Beberapa jam kemudian, setelah administrasi beres dan obat-obatan di tangan, mereka berjalan pelan menyusuri lorong. Langkah Zahra hati-hati. Arvin menggenggam tangan Zahra lebih erat, memastikan istrinya bisa melangkah tanpa takut jatuh. “Mas,” Zahra bersuara pelan, ragu. “Sebelum pulang… boleh kita mampir ke ICU sebentat?” Arvin berhenti. Dadanya mengencang. Ia tidak menduga akan mendengar permintaan itu. Ia juga tahu, menolak akan meninggalkan lubang di hati Zahra—dan di hatinya sendiri. “Boleh,” katanya akhirnya. “Sebentar saja.” Untung saja yang berjaga di luar ruangan adalah ayah Miranda. Walaupun awalnya keberatan, namun akhirnya mengijinkan. "Waktu kalian paling lama 10 menit." katanya memperingatkan. "Baik, Pak. Kami nggak akan lama." Pintu kaca ICU dingin saat disentuh. Di dalam, suasana lebih hening, lebih berat. Mesin-mesin berbunyi lirih, ritmis, seolah menjaga waktu tetap berjalan. Miranda terbaring di ranjang, wajahnya pucat, rambutnya tersisir rapi. Selang oksigen terpasang, monitor menunjukkan garis-garis kehidupan yang stabil namun rapuh. Zahra berdiri di ambang pintu, tidak berani melangkah lebih dekat. Tangannya kembali melindungi perutnya, refleks yang tak ia sadari. Ia menatap Miranda—sahabatnya, wanita yang menjadi sosok kakak baginya, wanita yang pernah ia kagumi—kini terdiam tak berdaya di atas ranjang itu. “Dia masih koma,” bisik Arvin, menarik Zahra mendekat. Mata Zahra berkaca-kaca. “Bertahanlah, Mbak. Kami semua mendoakanmu.” Ia menutup mata sejenak. Dalam diam, bibirnya bergerak. Tidak ada kata-kata yang terdengar, hanya niat yang dititipkan pada sunyi. Saat ia membuka mata, air mata jatuh satu-satu, cepat ia seka. Ia memegang tangan Miranda yang dingin. "Mbak Miranda wanita yang kuat. Aku yakin Mbak akan sembuh. Maaf kita harus berada dalam situasi tak nyaman. Aku nggak pernah menginginkan itu, Mbak. Itu jalan takdir." Arvin memeluk punggung Zahra. "Miranda sudah menyatakan sikapnya, Za. Dia juga sudah ikhlas." Bahu Zahra bergetar. Rasa bersalah masih terasa merajam dadanya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Matanya yang masij berkabut oleh air mata menatap wajah pucat Miranda, matanya yang tertutup. Masa depan terasa seperti kabut: ada jalan, tapi tidak terlihat ujungnya. Mereka berdiri beberapa saat, tanpa berkata apa pun lagi. Lalu Arvin menuntun Zahra menjauh. Pintu ICU menutup perlahan di belakang mereka, meninggalkan bunyi mesin dan doa-doa yang tertinggal. Di parkiran, udara terasa lebih segar. Zahra menarik napas dalam-dalam. “Kita pulang, Mas?” tanyanya dengan suara lebih ringan. “Yupz! Silakan naik, Ibu Zahra,” jawab Arvin. Ia membantu Zahra masuk ke mobil, memastikan sabuk pengaman terpasang dengan hati-hati. Saat mesin menyala, Arvin menatap kaca spion. Gedung rumah sakit menjulang, menyimpan terlalu banyak cerita yang belum selesai. Mobil melaju pelan. Di kursi penumpang, Zahra memejamkan mata, tangannya tetap di perut. Arvin menggenggam setir, menatap jalan ke depan—membawa pulang kehidupan yang harus ia lindungi, sementara bayang-bayang masa lalu belum sepenuhnya melepaskan mereka. Begitu mobil berhenti di halaman rumah, senja sudah turun sepenuhnya. Lampu teras menyala, memantulkan cahaya hangat di lantai keramik yang basah oleh embun malam. Arvin turun lebih dulu, mengitari mobil dengan langkah cepat, lalu membuka pintu penumpang. “Pelan-pelan, ya,” katanya, satu tangan terulur. Zahra mengangguk, menerima bantuan itu. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi langkahnya stabil. Baru beberapa langkah menuju pintu, daun pintu terbuka dari dalam. “Arvin?” Suara itu lembut, namun penuh kekhawatiran. Ibu Arvin berdiri di ambang pintu. Di tangannya masih tergenggam tas belanja kecil. “Lho, Zahra kenapa?” tanyanya, matanya langsung menangkap wajah pucat menantunya. Zahra tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Bu. Cuma capek.” Belum sempat Arvin menjawab, ibunya sudah mendekat, memegang lengan Zahra dengan hati-hati. “Capek kok sampai wajahnya begini? Arvin, kalian ke mana aja semalaman? Katanya kalian nggak pulang,” Nada suaranya naik setingkat, bukan marah—lebih pada cemas yang meletup. “Ma…” Arvin menghela napas pendek. “Semalam Zahra sempat masuk UGD.” “Apa?” Ibu Arvin menutup mulutnya, mata membesar. “Astaghfirullah. Kenapa kamu nggak telepon Mama? Kan Mama bisa bantu-bantu, ikut ngurus Zahra,” Zahra refleks hendak bicara, tapi Arvin lebih dulu menyela. “Bukan sesuatu yang serius, Ma. Dokter bilang cuma kelelahan. Kami sudah cek, sudah di-USG juga.” “USG?” Ibu Arvin menatap Zahra lebih teliti, lalu menghela napas panjang. “Masuk dulu. Jangan berdiri di luar begini.” Mereka masuk ke ruang tamu. Ibu Arvin menuntun Zahra duduk di sofa, menyelipkan bantal kecil ke punggungnya dengan gerakan yang penuh perhatian. “Kamu perlu minum,” katanya tegas, lalu pergi mengambil gelas air hangat. Arvin dan Zahra hanya bisa bertatapan, sambil tersenyum pasrah. The power of calon nenek. “Pelan-pelan.” ujar wanita baik hati itu sambil menyodorkan gelas air hangat. "Terima kasih, Bu," Zahra menerima gelas itu dan langsung meminumnya hingga separuh. Perutnya terasa lebih enak setelah minum air hangat. Arvin berdiri agak jauh, menyandarkan punggung ke dinding. Ia memperhatikan ibunya mengomel dengan nada tetap lembut—kombinasi khas yang selalu membuatnya merasa kembali menjadi anak kecil. “Kamu ini ya, Arvin. Istri lagi hamil, malah dibawa ke sana kemari tanpa kabar. Mama bukan orang asing,” kata ibunya, merasa seolah diabaikan. “Kalau ada apa-apa, kamu harusnya bilang sama Mama.” “Iya, Ma. Maaf,” jawab Arvin singkat. Ibunya menoleh. “Kenapa bisa sampai masuk UGD?” Arvin ragu sepersekian detik, lalu berkata, “Tadi malam kami ke rumah sakit karena Miranda… kecelakaan.” “Apa? Kecelakaan?” Ibu Arvin sangat terkejut. “Iya. Mobilnya tabrakan dalam perjalanan ke bandara,” jawab Arvin. “Kondisinya… cukup berat. Setelah itu Zahra kelelahan. Kami khawatir, jadi langsung ke UGD.” Tidak ada cerita tentang lorong rumah sakit, tentang tamparan, tentang kata-kata yang melukai. Arvin memilih menyimpannya rapat-rapat. Ibu Arvin duduk di kursi seberang Zahra. “Ya Allah…” Ia menghela napas, lalu menatap Zahra dengan mata berkaca-kaca. “Kamu pasti kaget.” Zahra mengangguk. “Iya, Bu. Tapi dokter bilang aku harus banyak istirahat.” “Betul,” sahut ibunya tegas. “Mulai sekarang, kamu nggak boleh terlalu capek. Arvin, kamu dengar?” “Iya, Ma,” jawab Arvin. Ibunya bangkit. “Ibu buatkan teh hangat dan sup. Kalian harus makan, dan Zahra harus minum obat.” Zahra tersenyum kecil. “Terima kasih, Ma.” Saat ibunya menuju dapur, Arvin mendekat, berlutut di depan Zahra. “Kamu baik-baik saja?” Zahra mengangguk. “Iya, Mas. Terasa lebih baik sekarang, karena ada Ibu di sini.” Arvin mengangguk. Ia tahu—kehangatan itu akan membantu Zahra pulih. Ia juga tahu, beberapa hal memang lebih baik disimpan dulu. Untuk sementara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN