Bab 6

1376 Kata
Ruang ICU selalu punya bau yang sama—antiseptik tajam bercampur udara dingin yang membuat d**a terasa sempit. Lampu-lampu putih menyala tanpa belas kasihan, seolah menolak memberi ruang bagi harapan palsu. Di balik kaca tebal, Miranda terbaring tak bergerak. Tubuhnya terlihat rapuh di antara selang, kabel, dan monitor yang berdetak pelan. Bip… bip… bip… Bunyi itu stabil. Terlalu stabil. Seperti janji yang digantung tanpa kepastian. Zahra berdiri beberapa langkah di belakang Arvin. Tangannya saling menggenggam, jari-jarinya dingin meski ruangan itu tidak terlalu dingin. Matanya tidak lepas dari sosok Miranda—perempuan yang dulu sering duduk di hadapannya sambil tertawa, mengaduk kopi, membicarakan mimpi-mimpi besar. Sekarang Miranda diam. Sunyi. Dan Zahra merasa seolah sebagian dari dirinya ikut terbaring di ranjang itu. “Kondisinya masih sama,” kata dokter dengan suara profesional yang terlalu tenang. “Trauma kepala cukup berat. Kami masih menunggu respon.” Menunggu. Kata itu kembali menghantam Zahra seperti gelombang yang tak pernah surut. Menunggu sadar. Menunggu keajaiban. Menunggu kemungkinan terburuk. Arvin mengangguk pelan, mencoba menyerap setiap kata dokter meski pikirannya terasa penuh. “Terima kasih, Dok.” Dokter pergi, meninggalkan mereka dengan kaca tebal dan bunyi mesin yang tidak pernah berhenti. Zahra menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Bayangan sore itu kembali datang, begitu jelas, begitu hidup—seolah tidak pernah berlalu. Miranda berdiri di ambang pintu rumah mereka dengan gaun sederhana, rambutnya tergerai rapi. Tidak ada amarah di wajahnya. Tidak ada air mata. Hanya ketenangan yang aneh, menakutkan. “Aku nggak lama,” kata Miranda waktu itu, suaranya lembut. “Aku cuma mau menyerahkan ini.” Sertifikat rumah. Rumah yang selama ini ditempati Arvin dan Zahra. Rumah yang Zahra tahu—bahkan tanpa diberi tahu—dibeli Arvin dengan jerih payahnya sendiri, tapi tetap menjadi saksi hidup pernikahan Arvin dan Miranda. “Rumah itu kamu yang beli,” lanjut Miranda. “Kamu yang berhak.” Zahra ingat bagaimana tangannya gemetar saat menerima map cokelat itu. Ia ingin menolak. Ingin mengatakan bahwa ia tidak pantas menerima apa pun. Tapi Miranda hanya tersenyum—senyum tipis, dewasa, penuh kelelahan yang disembunyikan. Lalu Miranda menoleh padanya. “Aku yakin kamu bisa jadi istri yang lebih baik,” katanya pelan. “Tolong bahagiakan Mas Arvin.” Kalimat itu masih terngiang di kepala Zahra. Setiap kata seperti paku yang ditancapkan satu per satu ke dadanya. Tak ada tudingan. Tak ada makian. Dan justru itulah yang membuatnya jauh lebih menyakitkan. Miranda pergi setelah itu. Dan tak lama kemudian—telepon panik. Kecelakaan. Ambulans. Rumah sakit. Zahra mengusap perutnya pelan, refleks. Ada kehidupan kecil di sana, bergerak samar, tidak tahu apa-apa tentang dunia yang penuh kekacauan ini. “Za.” Suara Arvin membuatnya tersentak. Ia menoleh. Wajah Arvin terlihat lelah—lingkar hitam di bawah mata, rahang yang lebih sering mengeras akhir-akhir ini. “Kamu capek. Duduk dulu,” kata Arvin pelan. Zahra menggeleng. “Aku nggak apa-apa.” Padahal ia tahu itu bohong. Setiap kali nama Miranda disebut, setiap kali bunyi mesin ICU terdengar, dadanya seperti diremas. Keluarga Miranda mungkin tidak lagi berteriak atau menampar seperti hari itu di rumah sakit, tapi Zahra merasakan sesuatu yang lebih dingin—tatapan. Diam. Penilaian yang tidak perlu diucapkan. Ia melihatnya di mata ibu Miranda yang sembab. Di sikap kaku ayah Miranda yang jarang bicara. Di cara kakak Miranda memalingkan wajah setiap kali Zahra lewat. Mereka mengenalnya. Mengenal Zahra sebagai sahabat Miranda. Anak yatim piatu yang dulu sering mereka bantu. Perempuan yang pernah mereka terima dengan tangan terbuka. Dan sekarang… segalanya berubah. Dia penyebabnya. Zahra tidak pernah mendengar kalimat itu diucapkan langsung, tapi ia merasakannya di setiap helaan napas yang berat. “Kamu bukan salah siapa-siapa,” ujar Arvin lagi, seolah bisa membaca pikirannya. Tangannya menyentuh lengan Zahra dengan lembut. “Kecelakaan itu—itu bukan salah kamu.” Zahra menatapnya. Ada kelelahan di matanya yang tidak bisa disembunyikan. “Tapi kalau aku nggak ada, Mas… kalau aku bukan bagian dari hidup kamu—” “Za,” potong Arvin, suaranya sedikit mengeras. “Jangan ngomong kayak gitu.” Zahra menunduk. Bibirnya bergetar, tapi ia menahan air mata. Ia lelah menangis. Rasanya tidak ada air mata yang cukup untuk semua ini. Malam itu, rumah mereka terasa lebih sunyi dari biasanya. Zahra duduk di sofa, menatap kosong ke arah jendela. Lampu luar menyala temaram. Arvin berada di dapur, membuatkan s**u hangat, tapi bahkan suara piring dan sendok tidak mampu mengisi keheningan yang menggantung di antara mereka. Zahra merasa seperti tamu di hidupnya sendiri. Ia mencintai Arvin—itu tidak pernah berubah. Tapi rasa bersalah menumpuk seperti kabut tebal, membuat setiap kebahagiaan terasa tidak pantas. Bagaimana mungkin ia merasa bahagia sementara Miranda terbaring koma? Bagaimana mungkin ia tersenyum sementara keluarga Miranda menahan luka yang begitu besar? Arvin duduk di sampingnya, menyodorkan gelas. “Minum.” Zahra menerima, tapi hanya memegangnya. Tidak diminum. Tangannya gemetar sedikit. “Kamu mikirin Miranda lagi,” kata Arvin pelan. Zahra mengangguk. “Aku ngerasa… semua ini salah.” Arvin menarik napas panjang. “Rasa bersalah itu nggak selalu berarti kita memang bersalah.” Zahra tersenyum tipis, getir. “Aku tahu itu secara logika. Tapi perasaan nggak bisa diajak kompromi.” Malam makin larut. Mereka berbaring di ranjang yang sama, tapi tidak benar-benar tidur. Zahra memunggungi Arvin, memeluk perutnya sendiri. Arvin menatap langit-langit, pikirannya penuh. Keheningan mereka bukan karena cinta yang memudar. Justru sebaliknya—terlalu banyak cinta, terlalu banyak luka, dan tidak ada ruang yang cukup untuk menampung semuanya sekaligus. Zahra terjaga lama setelah Arvin tertidur. Ia mendengarkan napas suaminya yang teratur, lalu menutup mata sambil berdoa dalam hati. Kalau memang aku harus menanggung ini, Tuhan… beri aku kuat. Di luar sana, Miranda masih terbaring dalam diam. Dan di antara tiga kehidupan yang saling terikat oleh takdir, rasa bersalah itu belum pergi—belum tahu ke mana harus pulang. Pagi di Kafe Marigold selalu dimulai dengan aroma kopi yang baru digiling dan suara kursi yang diseret pelan. Cahaya matahari menembus kaca besar di bagian depan, memantul di meja kayu yang sudah dipoles ulang. Biasanya, Zahra menyukai momen itu—hening yang hangat, janji hari baru yang sederhana. Namun pagi ini, Zahra datang bukan untuk menikmati. Ia datang untuk bertahan. Langkahnya cepat, hampir tergesa, seolah jika ia melambat sedikit saja, pikirannya akan kembali ke tempat yang ia hindari: lorong rumah sakit, bunyi mesin ICU, wajah Miranda yang pucat dan tak bergerak. “Pagi, Mbak Zahra.” Zahra tersenyum. Senyum yang dilatih. “Pagi.” Ia meletakkan tasnya di balik meja kasir, lalu langsung membuka buku catatan. Tangannya bergerak cekatan—menulis daftar bahan, mencoret menu lama, menandai jadwal pemasok. Ia berbicara dengan kepala dapur tentang menu baru, meminta barista mengganti biji kopi, mengecek ulang progres renovasi sudut belakang kafe yang akan dijadikan ruang baca. Ia tidak berhenti. Bukan karena energinya berlebih. Tapi karena diam terlalu menakutkan. Sejak Miranda koma, Zahra menyadari satu hal yang tidak pernah ia duga: rasa bersalah punya suara. Dan suara itu akan berbicara paling keras saat dunia sunyi. Di rumah, di ranjang, di sela-sela doa—ia selalu muncul. Mungkin kalau aku tidak ada… Zahra menggeleng pelan, seperti menepis lalat yang mengganggu. Ia menyalakan kompor, ikut membantu di dapur meski keringat mulai membasahi tengkuknya. Bau rempah dan minyak panas memenuhi hidungnya, membuat kepalanya sedikit ringan. “Mbak, biar aku aja,” kata salah satu pegawai khawatir. “Mbak kan lagi hamil.” “Aku nggak apa-apa,” jawab Zahra cepat. Terlalu cepat. “Aku cuma mau pastikan racikannya pas.” Ia tahu ia memaksakan diri. Tapi setidaknya, di sini, ia berguna. Di sini, ia punya kendali. Sesuatu yang tidak ia miliki sejak kecelakaan itu terjadi. Siang menjelang, dan Zahra belum duduk sama sekali. Arvin datang tanpa memberi tahu. Ia berdiri di ambang pintu kafe, memperhatikan dari jauh. Zahra terlihat sibuk—terlalu sibuk. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya sedikit pucat, tapi matanya menyala dengan tekad yang keras kepala. Arvin menelan napas. Ia tahu ekspresi itu. Ekspresi Zahra saat menahan sesuatu sendirian. “Mas?” Zahra baru menyadari kehadirannya ketika Arvin sudah berdiri di depannya. Senyumnya muncul refleks, tapi Arvin melihat jelas—ada kelelahan di baliknya. “Kok ke sini?” tanya Zahra. “Kepikiran si baby dan kamu terus,” jawab Arvin pelan. “Aku khawatir.” Zahra tersentuh, ”Aku nggak apa-apa, Mas." “Tapi kamu kelihatan capek.” "Nggak usah khawatir, aku tahu batasku, Mas,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN