Wanita itu tersenyum lemah dan menyandarkan kepala di d**a Nico, tanpa tahu apa yang sebenarnya berputar di kepala pria itu. Ia mendekatinya dua bulan lalu bukan karena kebetulan. Bukan karena tertarik semata. Ia mengamati lebih dulu. Mempelajari jadwalnya. Mengetahui kapan wanita itu lembur sendirian di kantor. Mengetahui kapan Arvin terlalu sibuk untuk memperhatikan detail kecil di sekitarnya. Pendekatan itu halus. Diawali dengan perhatian kecil penuh jerat. Dengan ketampanannya, Nico membuat semua itu mudah. Obrolan ringan yang terasa kebetulan. Hingga akhirnya menjadi rutinitas. Dan kini— Wanita itu berada di apartemennya. Bukan hanya sekali, tapi sudah berkali-kali selama dua bulan teralhir. Wanita itu menganggap Nico tempat bersandar. Tanpa tahu ia sedang berdiri di atas
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


