Zahra merasakan kehangatan memenuhi dadanya. Itu pujian sekaligus pembelaan yang tidak ia duga akan diucapkan oleh lelaki sehebat itu. “Tahun ini, saya belajar menjadi bukan hanya pengacara yang lebih tegas. Tapi juga pria yang lebih sadar akan arti komitmen.” Arvin mengangkat plakat itu sedikit. “Jika dua tahun lalu saya berdiri di sini sebagai individu yang berambisi, maka tahun ini saya berdiri sebagai suami dan calon ayah yang belajar dari kesalahan.” Tepuk tangan perlahan terdengar. Awalnya ragu. Lalu menguat. Bukan tepuk tangan euforia. Tapi tepuk tangan hormat. Arvin menutup pidatonya singkat. “Terima kasih atas kepercayaan dan dukungan Anda semua.” Arvin mengakhiri pidatonya dan menggenggam tangan Zahra erat. Saat mereka turun dari panggung, Zahra menatapnya dengan mata b

