Bab 9

1836 Kata
Arvin menekan tombol interkom di mejanya. Zahra sudah bersedia pergi berlibur, sekarang dia harus membuat persiapan yang matang. “Masuk, Mas,” ujarnya singkat begitu ada jawaban dari seberang. Dimas muncul beberapa detik kemudian, membawa tablet dan raut waspada khas seorang asisten yang sudah hafal ritme kerja Arvin. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Arvin bersandar ke kursinya, menautkan jari. “Aku mau semua agenda sidang, rapat klien, dan berkas yang masih terbuka dibereskan dalam dua hari ke depan.” Dimas mengerjap. “Dua hari?” “Iya.” Arvin menatapnya lurus. “Setelah itu, kosongkan empat hari berikutnya. Jangan ada yang mengganggu, kecuali darurat.” Dimas menangkap sesuatu yang jarang ia lihat: Arvin yang memilih berhenti dari semua kesibukan ini. Dimas tahu, bukan karena Arvin jenuh atau karena lelah fisik—tapi karena seseorang di rumah jauh lebih membutuhkan kehadirannya daripada dunia hukum yang terus menuntut. "Kamu ngerti, kan?" “Baik, siap, Pak,” jawab Dimas akhirnya. “Saya akan atur. Mau saya alihkan klien baru ke partner lain sementara?” “Lakukan itu jika mereka sudah mendesak. Dan kirimkan ringkasan progres ke email pribadiku setiap malam selama dua hari ini. Setelah itu… aku off.” Dimas mengangguk, “Liburan, Pak?” Arvin tersenyum tipis. “Iya. Istri saya butuh udara segar.” "Oh. Semoga semua lancar, Pak" "Insyaallah, Mas. Karena itu aku butuh banget bantuan kamu." "Siap, Pak. Saya bakal atur semuanya sebaik mungkin. Empat hari free, dan kalau mau nambah, bisa dikondisikan." Dimas sangat bersemangat. Dia senang melihat binar di mata bosnya. Selama ini Arvin dan mantan istrinya terlalu sibuk. Belum pernah liburan, dan Arvin belum pernah terlihat sebahagia ini. Setelah menuliskan beberapa hal lain, Dimas keluar. Begitu pintu tertutup, Arvin menghembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Keputusan itu sederhana, tapi maknanya besar. Zahra sudah terlalu lama bertahan dengan caranya sendiri—menyibukkan diri, menekan rasa bersalah, berpura-pura kuat. Dengan liburan ini, Arvin berharap Zahra bisa lebih santai. Ruang kantor itu mulai lengang, hanya tersisa suara pendingin udara dan cahaya sore yang masuk dari balik tirai kaca. Dimas bekerja keras, dan.langsung melaporkan hasilnya pada sang bos yang sedamg membuka-buka info penyewaan vila. “Pak Arvin,” Dimas melangkah mendekat. “Empat hari ke depan agenda sudah saya kosongkan. Kebetulan belum ada sidang lanjutan. Pertemuan dengan klien-klien baru saya jadwalkan ulang. Kalau ada yang memaksa, saya yang hadapi.” Arvin mengangguk singkat. “Bagus.” Dimas tersenyum kecil. “Liburan kemana, Pak?” Arvin tidak langsung menjawab. Ia berjalan kembali ke kursinya, lalu duduk. Jarinya menyalakan laptop, layar terbuka dengan cepat. “Bukan sekadar liburan,” katanya pelan, tanpa mengangkat kepala. “Aku butuh suasana tenang, agar istriku bisanbenar-benar istirahat.” Nada suaranya membuat Dimas menatap bosnya lebih la. Ia mengenal bosnya cukup lama untuk tahu: ketika Arvin bicara seperti itu, artinya ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar off. “Ke mana, Pak?” “Puncak.” Dimas mengangguk. “Pilihan tepat. Udaranya masih bagus. Tapi akhir pekan biasanya—” “Makanya aku nggak mau setengah-setengah,” potong Arvin. “Aku nggak mau tempat ramai, afa bising suara kendaraan dan orang lalu-lalang.” Ia mulai mengetik, membuka beberapa laman sekaligus. Villa, pemandangan, ketinggian lokasi. Tatapannya tajam, penuh pertimbangan. Dimas mendekat, berdiri di sisi meja. “Pak Arvin cari vila?” “Yang view-nya paling bagus,” jawab Arvin singkat. “Kalau bisa, yang paling sepi.” Dimas menghela napas kecil, setengah bercanda. “Standar Pak Arvin memang nghak pernah rendah.” Arvin berhenti sejenak, lalu melirik asistennya. “Ini bukan soal standar, Mas. Ini soal wanita yang akan menjadi ibu anak-anakku.” Kalimat itu membuat Dimas terdiam. Arvin kembali menatap layar. Jarinya berhenti pada satu foto—hamparan perbukitan hijau, kabut tipis menggantung di antara pepohonan, balkon kayu menghadap lembah yang luas. “Ini,” gumamnya. Dimas ikut melihat. “Wah… ini bagus sekali. Lokasinya agak ke atas.” Arvin sudah menekan nomor kontak pengelola vila. Nada sambung terdengar. Tak lama, suara pria paruh baya menjawab. “Selamat sore, Pak.” “Sore,” Arvin menjawab singkat namun sopan. “Saya mau tanya ketersediaan vila untuk empat hari ke depaan.” Dimas bisa melihat alis Arvin sedikit terangkat. “Masih kosong?” ulang Arvin. “Empat malam?” Ia mendengarkan sebentar, lalu mengangguk meski lawan bicara tak bisa melihatnya. “Baik. Saya ambil.” Dimas tersenyum tanpa sadar. “Bukan musim liburan, ya.” Arvin menutup panggilan, lalu bersandar di kursinya. “Kadang waktu yang tepat datang justru saat nggak banyak orang mencarinya.” Ia menatap Dimas. “Tolong pastikan tidak ada satu pun urusan kantor yang menyusul ke sana.” “Siap, Pak,” jawab Dimas mantap. “Nikmati waktunya bersama Ibu Zahra.” Arvin mengangguk pelan. Untuk sesaat, ketegangan di wajahnya mengendur. Di balik kesibukan, di balik semua konflik yang belum selesai, ia hanya ingin satu hal: melihat Zahra bisa bernapas tanpa beban, meski hanya untuk beberapa hari. Arvin kembali menatap tumpukan map di meja kerjanya. Ia menarik satu map biru, membuka pembatasnya, lalu mencocokkan tanggal sidang dengan agenda di tablet. Sidang praperadilan—minggu depan. Kasus perdata—dua minggu lagi. Tidak ada yang jatuh di empat hari itu. Arvin menghela napas perlahan. Baru ketika ia yakin tidak ada satu pun jadwal yang bertabrakan, dadanya terasa sedikit lebih lega. Ia beralih ke laporan kasus yang sudah selesai. Membaca ulang ringkasan putusan, tanda tangan hakim, catatan penutup. Kasus-kasus itu seharusnya memberinya rasa puas—kemenangan, reputasi, nama baik. Tapi sore ini, semua terasa tidak terlalu penting. Empat hari. Hanya empat hari. Aku ingin benar-benar ada untukmu, Zahra, batinnya. Ponselnya di atas meja bergetar. Nama Dimas muncul di layar. “Maaf, Pak,” suara Dimas terdengar begitu panggilan diangkat, “saya sudah konfirmasi ulang ke pengadilan. Nggak ada perubahan jadwal mendadak.” “Bagus,” jawab Arvin. Ia menutup map terakhir dan menyusunnya rapi. “Klien lama?” “Sudah saya hubungi semua. Mereka mengerti Bapak nggak bisa dihubungi empat hari.” Arvin tersenyum tipis. “Terima kasih.” Sambungan terputus. Kantor kembali sunyi. Arvin bersandar di kursinya, menatap foto pernikahannya dengan Zahra di atas meja. Foto itu baru dia pajang dua hari lalu. Tidak terlalu besar, tapi mengisi meja kerjanya dengan caranya sendiri. Di benaknya, wajah Zahra muncul begitu jelas—senyum kecil yang dipaksakan akhir-akhir ini, tatapan matanya yang sering melayang entah ke mana. Ia tahu Zahra berusaha kuat. Terlalu kuat, bahkan. Dia hamil enam bulan, pikir Arvin. Seharusnya dia memikirkan dirinya sendiri. Bayinya. Bukan menanggung luka orang lain. Namun bayangan lain menyusup, tak diundang. Tatapan dingin keluarga Miranda. Kata-kata yang tajam, disampaikan tanpa perasaan dan ia tahu, sangat melukai. Rahang Arvin mengeras. Seharusnya aku berbicara lebih keras, monolognya berdenyut. Seharusnya aku tidak membiarkan satu kalimat pun menyentuhmu. Ia memejamkan mata sejenak. Ada rasa bersalah yang menekan—bukan karena ia ragu pada pilihannya, melainkan karena Zahra ikut menanggung konsekuensi dari masa lalu yang bukan sepenuhnya miliknya. Arvin meraih ponselnya lagi, membuka pesan terakhir dari Zahra siang tadi. Mas, aku di kafe. Jangan lupa makan ya. Kalimat sederhana. Tidak ada keluhan. Tidak ada cerita tentang betapa lelahnya ia hari ini. Hangat menjalar di da-da Arvin. Hangat yang bercampur dengan tekad. “Aku akan membuatmu lupa, meski hanya sebentar,” gumamnya pelan, seolah Zahra duduk di hadapannya. “Aku akan pastikan empat hari itu milik kita.” Ia berdiri, merapikan jas yang tersampir di sandaran kursi. Sebelum pergi, Arvin menoleh sekali lagi ke meja kerjanya—ke dokumen, ke map-map kasus yang selama ini menyita hidupnya dan tatapannya terpaku lebih lama di foto sebelum melangkah keluar. Langkahnya mantap saat keluar dari kantor. Di luar, senja telah jatuh sempurna. Dan di balik segala konflik yang belum selesai, Arvin membawa satu harapan sederhana: melihat Zahra tersenyum tanpa beban, meski hanya untuk empat hari yang ia perjuangkan sepenuh hati. Dan entah sejak kapan, setelah semua rencana liburan itu beres, rindu justru datang begitu saja. Rindu yang sederhana—ingin melihat Zahra, memastikan ia baik-baik saja, ingin mendengar suaranya tanpa jeda. Arvin langsung berkendara menuju kafe Marigold. Lalu lintas sore itu cukup padat, tapi pikirannya terlalu penuh oleh satu nama hingga ia nyaris tak peduli. Setiap lampu merah terasa lebih lama dari seharusnya. Begitu mobilnya berhenti di depan kafe, Arvin turun tanpa ragu. Aroma kopi dan kayu manis menyambutnya begitu pintu dibuka. Suasana kafe hangat, beberapa meja terisi, alunan musik pelan mengalir di udara. Dan di sana—Zahra. Ia duduk di balik meja kasir, sedikit menyamping, sedang berbicara dengan seorang karyawan sambil mencatat sesuatu di buku kecil. Wajahnya tampak lebih cerah dibanding pagi tadi. Rambutnya diikat sederhana, beberapa helai jatuh membingkai pipinya. Arvin berdiri beberapa detik, hanya untuk menatap. Begini rupanya rindu bekerja, pikirnya dengan senyum kecil. “Untuk bahan minggu depan, pastikan pesan yang—” suara Zahra terhenti. Matanya terangkat, bertemu dengan tatapan Arvin. “Mas?” panggilnya pelan, nada suaranya penuh keterkejutan. Namun keterkejutan itu hanya sekejap. Bibir Zahra langsung melengkung, matanya berbinar senang seperti anak kecil yang tiba-tiba melihat hadiah. Arvin mendekat. “Senyumnya kelihatan sampai ke parkiran.” Zahra tertawa kecil, refleks menutup buku catatannya. “Mas ngapain ke sini? Bukannya masih di kantor?” “Kukira aku sudah bilang,” Arvin berhenti tepat di depannya, menurunkan suara, “aku tidak mau kerja setengah-setengah hari ini.” Karyawan di samping Zahra tersenyum canggung. Zahra berdeham pelan. “Eh… kamu bisa lanjut, nanti laporannya aku cek lagi.” Begitu karyawan itu menjauh, Zahra berdiri. “Mas, ini jam sibuk sore. Kalau mau ngopi, aku—” Arvin memotongnya lembut. “Aku mau menjemput istriku.” Zahra tertegun. “Menjemput?” “Iya.” Arvin menatapnya penuh arti. “Dan memaksanya pulang lebih awal.” Zahra mengernyit, tapi senyumnya belum pudar. “Mas, aku belum selesai—” “Sudah,” potong Arvin lagi, kali ini sambil mengangkat tangannya ke arah perut Zahra yang mulai membulat. “Yang satu ini juga sudah capek.” Zahra refleks menutup perutnya dengan telapak tangan, ekspresinya melunak. “Cuma sebentar lagi.” Arvin mencondongkan tubuhnya sedikit. “Zahra,” panggilnya pelan, membuat perempuan itu otomatis menatapnya. “Aku kangen.” Kalimat sederhana itu membuat napas Zahra tercekat sesaat. Wajahnya memerah tipis. “Mas…” suaranya melembut tanpa ia sadari. Arvin tersenyum puas. “Tuh. Lihat? Aku benar-benar harus menculikmu sebelum kamu lupa caranya pulang.” Zahra tertawa, kali ini lebih lepas. “Kamu lebay.” “Mungkin.” Arvin mengangkat bahu ringan. “Tapi hari ini aku menang di pengadilan, dapat vila buat liburan, dan… rasanya semua itu kurang kalau kamu pulang malam.” Zahra menatapnya lama. Ada kehangatan di sana, bercampur lelah yang belum sempat ia akui. Akhirnya ia mengangguk kecil. “Oke. Sepuluh menit.” Arvin mengulurkan tangan. “Lima.” Zahra memukul lengannya pelan. “Dasar.” Namun ia tetap meraih tangan Arvin, jari-jari mereka bertaut. Dan di tengah kafe yang hangat itu, untuk sesaat, rasa bersalah dan beban yang menghimpit d**a Zahra seakan mundur beberapa langkah—dikalahkan oleh satu hal yang sederhana: perasaan senang karena dia dicari dan dirindukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN