Bab 10

1832 Kata
Cici yang sejak tadi pura-pura sibuk merapikan struk di dekat kasir akhirnya berdehem keras, sengaja menarik perhatian. “Ehem… ehem,” katanya dengan nada menggoda. “Mbak Zahra bisa pulang sekarang, kok. Urusan kafe serahin padaku.” Zahra menoleh cepat, wajahnya langsung memerah. “Cici!” Arvin terkekeh pelan, jelas menikmati situasi itu. Zahra menyilangkan tangan di da-da, memasang ekspresi pura-pura tersinggung. “Jadi aku diusir dari kafe milikku sendiri, nih?” Cici mengangkat kedua telapak tangannya, berpura-pura defensif. “Bukan diusir, Mbak. Diamankan. Demi kesehatan ibu dan calon bayi.” “Dan demi Pak suami yang kelihatan nggak sabaran,” tambah Cici sambil melirik Arvin. Sejak mereka menikah, Arvin lebih sering datang ke kafe, dan para karyawan Zahra pun menjadi akrab. Terlebih Cici, yang agak cerewet. Arvin sama sekali tidak membantah. “Bukan nggak sabaran juga, Ci. Tapi itu kewajiban suami.” Zahra mendengus kecil, tapi sudut bibirnya tak bisa menyembunyikan senyum. “Lihat? Sekarang Mas yang nambah-nambahin.” Cici tertawa kecil. “Nggak apa-apa, Mbak. Mau kewajiban atau bulan, kelihatan banget Pak Arvin ini lagi jatuh cinta parah.” Zahra melirik Arvin, hendak menyanggah—namun tatapan pria itu lembut, nyaris tanpa penyangkalan. “Cici,” Zahra akhirnya menyerah sambil meraih tasnya, “kalau kafe ini berantakan besok, kamu yang tanggung jawab.” “Siap, Bos Besar,” jawab Cici cepat. “Pergi sana, nikmati diculik suami sendiri.” Arvin mengulurkan tangannya lagi. Zahra menghela napas kecil, lalu menyambutnya. “Awas saja kalau mas sampai bikin aku ketagihan dimanja.” Arvin tersenyum puas. “Itu rencananya.” Arvin menggenggam tangan Zahra lebih erat saat mereka melangkah keluar dari kafe. Zahra kembali melempar pandangan ke arah pintu masuk Kafe. “Kafemu aman, Ibu Cantik,” ujar Arvin, menangkap arah pandang Zahra. “Cici kelihatannya lebih galak dari mandor.” Zahra terkekeh pelan. “Dia memang begitu. Kadang aku mikir, siapa sebenarnya pemilik kafe ini.” Arvin tertawa. Ia membukakan pintu mobil untuk Zahra. Tangannya refleks menahan kepala Zahra agar tidak terbentur. Gerakan kecil, tapi cukup membuat Zahra terdiam sesaat. Ia menatap Arvin, lalu tersenyum tipis. “Mas kenapa sih hari ini?” tanya Zahra begitu mereka duduk dan sabuk pengaman terpasang. “Tiba-tiba menjemput, tiba-tiba manis.” Arvin menyalakan mesin, lalu melirik Zahra sekilas. “Aku kangen.” Jawaban itu terlalu jujur, terlalu sederhana. Zahra menoleh cepat, menatap Arvin seolah mencari tanda-tanda bercanda. Namun wajah pria itu tenang. “Kita baru pisah beberapa jam lho, Mas,” gumam Zahra. “Dan itu sudah cukup bikin rindu setengah mati,” balas Arvin tanpa ragu. "Gombal!" Zahra tertawa lepas. Arvin tidak menyanggah, tapi termotivasi untuk membuktikan. Mobil melaju meninggalkan kafe. Beberapa menit mereka terdiam. Zahra memandangi jalanan, tangannya sesekali mengusap perutnya yang mulai membesar. Senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan ekspresi yang lebih murung. Arvin menangkap perubahan itu. “Capek?” Zahra menggeleng. “Enggak. Aku cuma… masih kepikiran.” Arvin tahu. Ia tidak perlu bertanya kepikiran siapa. “Lupakan aja, Za. Kita nggak bisa maksa orang yang pikirannya nggak mau terbuka untuk kebenaran." Zahra menarik napas panjang. “Pengennya gitu. Tapi aku merasa bersalah kalau aku tertawa, Mas. Seolah-olah aku nggak pantas bahagia sementara Mbak Miranda masih terbaring di rumah sakit.” Arvin memarkir mobil di tepi jalan, membuat Zahra terkejut. Ia mematikan mesin, lalu menoleh sepenuhnya pada istrinya. “Zahra,” ucapnya serius. “Kalau kamu terus menghukum diri sendiri, itu nggak akan menyembuhkan siapa-siapa. Termasuk Miranda.” Zahra menunduk. “Aku tahu. Tapi rasanya… berat.” Arvin meraih tangan Zahra, menggenggamnya dengan hangat. “Makanya aku jemput kamu. Makanya aku ajak pulang lebih awal. Kamu butuh istirahat.” Zahra menatap Arvin, matanya sedikit berkaca-kaca. “Mas Arvin nggak capek menghadapi aku yang seperti ini?” Arvin tersenyum lembut. “Nggak. Karena seumur hidup itu lama. Nggak kebayang hidup kita kalau hanya hal kecil ini saja udah bikin aku capek.” Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam tepat di da-da Zahra. Ia menggenggam balik tangan Arvin, lebih erat. "Terima kasih, Mas," Zahra tidak menyadari sejak kapan ia dan Arvin jadi sedekat ini. Tapi dia senang Arvin mulai berubah lebih perhatian dan lebih romantis. “Langsung pulang? Atau mau mampir kemana gitu?” tanya Arvin lagi. Zahra mengangguk. “Pulang.” Zahra menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dengan lebih rileks. Rasa bersalah itu belum pergi—tapi setidaknya, untuk beberapa saat, ia tidak harus menanggungnya sendirian. Di tengah perjalanan, saat mobil melambat karena lampu merah, Zahra tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Matanya menatap lurus ke depan, tapi jelas pikirannya melayang ke tempat lain. “Mas…” panggilnya pelan. Arvin melirik. “Ya. Kenapa?” Zahra menggigit bibir, ragu sesaat, lalu berkata, “Kita lewat Jalan Melati, ya?” Alis Arvin terangkat sedikit. “Kenapa harus ke sana?” Zahra menoleh, matanya berbinar. “Aku kepikiran nasi goreng cetarnya Aa Ilham. Pedas bikin nagih, Mas,” Arvin tertawa kecil. “Kayaknya rujak mangga bakal punya saingan berat nih?Apa pedasnya bisa bikin kamu nangis kayak pedesnya rujak kesukaanmu itu?” “Bukan nangis,” sanggah Zahra cepat. “Itu… refleksi kebahagiaan.” Lampu merah berubah hijau. Arvin menggeleng sambil tersenyum, lalu membelokkan setir. “Terakhir makan kapan? Kok nggak pernah ngasih tahu aku?” Zahra bersandar lagi. “Udah lama, Mas. Waktu itu diajak sama Mas Gilang, ditunjukin tempatnya.” Nama itu keluar begitu saja, tanpa sengaja. Zahra langsung terdiam, menyesal. Jari-jarinya saling bertaut di pangkuan. Selama ini dia tidak pernah menyebut nama laki-lqki lain di hadapan Arvin. Arvin tidak langsung merespons. Ia hanya mengangguk pelan. “Itu memang sudah lama.” “Iya,” sahut Zahra lirih. “Tapi entah kenapa, malam ini pengin banget. Kayak… kangen rasa itu.” “Ya udah, nanti kita beli dua,” kata Arvin akhirnya. Zahra menoleh cepat. “Oh, Mas mau juga?” “Iyalah, Za. Aku nggak mau kalau cuma jadi penonton. Yaa setidaknya kalau nasi gorengnya secetar itu, kita bisa nangis bareng.” "Mas ini..." Zahra tertawa. Tangannya terulur, mencubit pinggang suaminya. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di pinggir jalan. Gerobak nasi goreng Aa Ilham masih di tempat yang sama, dengan lampu bohlam kuning yang menggantung miring. Aroma bawang putih dan kecap langsung menyusup ke dalam mobil saat Arvin turun. Zahra menurunkan kaca jendela, matanya berbinar. “Hmmm... Baunya aja udah bikin ngiler.” ujarnya sambil memejamkan mata, menikmati aroma sedap itu. Arvin tersenyum melihat tingkah lucu istrinya. Dia lalu mendekat dan memesan dua porsi—satu super pedas, satu pedas biasa. Saat kembali ke mobil membawa dua piring nasi goreng. “Aku pesan buat kamu yang pedas biasa.” kata Arvin sambil menyerahkan satu piring ke Zahra. "Kasihan bayi kita kalau sampai ikut nangis,” Zahra tertawa, membuka bungkusnya perlahan. Uap panas mengepul, aroma nasi goreng cetar itu membuat matanya berkaca-kaca—kali ini bukan karena pedas. “Makasih, Mas,” Mereka menikmati nasi goreng di mobil, karena pengunjung cukup ramai. Biar tidak berdesakan. Arvin duduk di samping istrinya setelah kembali membawa dua teh botol. Zahra menyendok nasi gorengnya pelan-pelan, meniup uap panas sebelum memasukkannya ke mulut. “Masih sama,” gumamnya. “Pedasnya enak.” Arvin terkekeh. “Kamu bilang refleksi kebahagiaan.” “Seharusnya. Tapi kayaknya malam ini udah jadi refleksi penderitaan yang dinikmati,” sahut Zahra sambil terkekeh. Tentu saja ia hanya bercanda. Ia terlihat sangat menikmati. Matanya menyipit menahan pedas. Arvin memperhatikannya diam-diam. Cara Zahra bercanda, caranya makan, tertawa kecil, lalu berhenti sejenak untuk minum—hal-hal sederhana yang entah kenapa membuat dadanya terasa lebih hangat. “Kamu kelihatan lebih ringan malam ini,” kata Arvin akhirnya. Sendok Zahra terhenti. “Oh ya?” “Iya.” Arvin menatap lurus ke depan. “Mungkin karena kamu akhirnya mau berhenti sebentar.” Zahra terdiam. “Aku capek, Mas,” ujarnya jujur. “Capek mikir, capek ngerasa bersalah, capek pura-pura kuat.” Kata-kata itu keluar begitu saja, seperti nasi goreng pedas yang terlalu lama ditahan. Arvin menoleh, ekspresinya berubah serius namun lembut. Ia menghela napas, lalu meraih tangan Zahra di konsol tengah. Hangat, sedikit bergetar. “Makanya aku ngajak kamu pergi,” katanya pelan. “Ke Puncak. Cuma kita. Nggak ada kesibukan kafe, nggak ada suara orang lain. Cuma kamu, aku, sama udara dingin.” Zahra menoleh cepat. “Puncak?” Arvin mengangguk. “Empat hari. Aku sudah kosongin jadwal.” Mata Zahra membesar. “Empat hari?” lalu berubah cemas. “Tapi kaf—” “Sudah ada Cici,” potong Arvin lembut. “Dan kamu perlu istirahat.” Zahra menunduk, menatap nasi gorengnya yang tinggal separuh. “Kamu selalu begitu,” katanya lirih. “Begitu gimana?” “Selalu bisa nenangin aku, bahkan sekalipun aku lagi berantakan.” Arvin tersenyum kecil. “Itu bukan kebetulan, Za. Itu pilihanku dan janjiku pada Allah, untuk selalu menjaga kalian berdua.” "Makasih, Mas," Zahra sampai ingin menangis karena terharu. ** Di rumah, Zahra langsung menuju kamar dan meletakkan tas kecilnya di atas meja. Gerakannya melambat, seolah tubuhnya baru sekarang menyadari kelelahan yang sedari tadi ditahan. Arvin memperhatikannya dari ambang pintu, lalu menutup pintu dengan hati-hati. “Zahra,” panggilnya lembut. Zahra menoleh. “Hm?” “Kamu mandi dulu. Aku bikinin teh hangat.” Zahra tersenyum kecil. “Kamu kayak suami idaman di sinetron.” Arvin mengangkat alis. “Kurang idaman apa lagi?” “Kurang dramatis,” sahut Zahra sambil tertawa pelan, lalu melangkah ke kamar. Beberapa menit kemudian, aroma teh melati memenuhi ruang keluarga. Arvin duduk di sofa, memeriksa ponselnya sebentar—hanya untuk memastikan tak ada pesan darurat—lalu meletakkannya terbalik. Empat hari. Ia benar-benar ingin empat hari itu bersih. Zahra keluar dari kamar dengan rambut masih lembap, mengenakan piyama sederhana. Ia berhenti sejenak melihat Arvin yang menunggunya, lalu duduk di sebelahnya. “Ini,” Arvin menyodorkan cangkir. Zahra menerimanya, kedua tangannya menghangatkan diri di sekeliling cangkir. “Terima kasih.” Mereka terdiam. Bukan canggung—lebih seperti tenang yang jarang mereka miliki belakangan ini. “Mas,” Zahra membuka suara pelan. “Kalau nanti di Puncak… aku tiba-tiba pengen nangis tanpa alasan, kamu bakal risih nggak?” Arvin menoleh, menatapnya penuh. “Aku bakal ambilin tisu.” Zahra tertawa kecil, lalu terdiam lagi. “Aku serius.” “Aku juga,” jawab Arvin. “Kamu nggak perlu alasan buat ngerasa.” Zahra mengangguk. Ada sesuatu yang runtuh di dadanya—bukan menyakitkan, justru melegakan. Ia menyandarkan kepala di bahu Arvin. Arvin meraih rambut Zahra, mengusap pelan. Aku harap liburan ini cukup, batinnya. Cukup buat bikin kamu bernapas lagi. “Kita berangkat lusa,” katanya. “Besok kamu nggak ke kafe.” Zahra mengangkat kepala. “Aku bisa—” “Zahra,” potong Arvin lembut tapi tegas. “Percaya sama aku.” Zahra menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Baik.” Malam semakin larut. Teh di cangkir tinggal setengah, tapi kehangatan di antara mereka penuh. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Zahra merasa—meski masalah belum selesai—ia tidak sendirian menghadapinya. Dan Arvin, dengan istrinya bersandar di bahu, tahu satu hal pasti: empat hari ke depan bukan sekadar liburan. Itu adalah usaha menyelamatkan hati yang ia cintai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN