Arvin dan Zahra sedang duduk di ruang tengah ketika bel rumah mereka berbunyi. Zahra yang sedang membuat catatan untuk ditinggalkan di kafe selama mereka pergi ke puncak, menoleh ke arah Arvin.
“Siapa ya, Mas?” tanyanya.
Arvin sudah lebih dulu bangkit. Begitu pintu dibuka, udara malam bercampur aroma familiar langsung menyergap—aroma sambal, daun jeruk, dan minyak panas yang seolah ikut terbawa dari dapur rumah masa kecilnya.
“Ma?” Arvin terkejut setengah tertawa.
Ibu Arvin berdiri di ambang pintu dengan senyum puas, kedua tangannya memeluk sebuah keranjang besar yang ditutup kain batik. Di belakangnya, sopir keluarga menurunkan satu tas tambahan.
“Masuk dulu, Ma,” kata Arvin cepat, reflek mengambil keranjang itu. Lengannya langsung terasa berat. “Ini… isinya apa semua?”
Ibu Arvin hanya terkekeh kecil. “Nanti lihat sendiri.”
Zahra muncul dari dalam kamar, wajahnya cerah begitu melihat ibu mertuanya. “Ibu datang malam-malam?”
“Ya iyalah,” jawab wanita itu lembut. “Besok kalian mau ke Puncak. Masa aku biarin menantuku kelaparan di vila?”
Keranjang itu diletakkan di atas meja makan. Ibu Arvin membuka kain penutupnya satu per satu, seperti memperlihatkan harta karun.
Stoples pertama: kering tempe, cokelat keemasan, renyah.
Stoples kedua: sambal terasi, warnanya merah gelap, aromanya tajam sampai bikin Zahra menelan ludah.
Lalu bumbu nasi goreng yang sudah ditumis setengah matang, sambal cumi hitam, kue nastar, kastengel, lidah kucing—semuanya tersusun rapi.
Arvin menatap takjub, lalu tertawa kecil sambil mengusap tengkuknya.
“Ini cukup buat bekal dua minggu, Ma.”
Ibu Arvin mendecak pelan. “Ya nggak apa-apa. Siapa tahu Zahra ngidam tengah malam.”
Zahra terdiam sejenak, lalu tersenyum haru. Tangannya menyentuh salah satu stoples, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Bu… repot-repot.”
Ibu Arvin mendekat, meraih tangan Zahra dengan hangat. “Buat apa repot sama menantu sendiri? Kamu lagi hamil, lagi capek pikiran. Liburan itu harus benar-benar liburan.”
Arvin memperhatikan mereka, dadanya menghangat. Ada sesuatu yang menenangkan melihat ibunya berdiri di sana—tenang, tanpa menghakimi, tanpa bertanya tentang luka lama.
“Mas,” ibu Arvin menoleh padanya, “kamu jaga Zahra baik-baik. Jangan kebanyakan kerja. Empat hari itu buat istrimu, bukan buat laptop.”
Arvin mengangguk patuh. “Siap, Ma.”
Sebelum pulang, ibu Arvin sempat menoleh sekali lagi. “Kalau sambalnya kurang pedas, telepon. Ibu masih punya stok.”
Pintu tertutup, rumah kembali sunyi—tapi kehangatan itu tertinggal, memenuhi ruang.
Zahra menghela napas pelan. “Mas… aku beruntung ya.”
Arvin merangkul bahunya dari belakang. “Bukan cuma kamu.”
Dan malam itu, sebelum mereka berangkat ke Puncak, Zahra tidur dengan satu perasaan yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini: aman.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah saat matahari baru naik setinggi bahu langit. Cahaya pagi menyelinap di antara gedung-gedung, memantul di kaca depan, lalu perlahan memudar ketika mereka keluar dari kepadatan kota. Arvin menyetir dengan kedua tangan mantap di setir, bahunya tegak, sorot matanya fokus ke jalan. Sesekali, tanpa benar-benar menoleh, ia melirik Zahra di sampingnya—memastikan istrinya nyaman.
Zahra duduk dengan sabuk pengaman terpasang rapi, kedua tangannya bertumpu di perutnya yang mulai membulat. Bibirnya tersenyum tipis setiap kali Arvin melempar komentar ringan tentang lalu lintas atau rencana mereka di vila. Namun senyum itu terasa seperti upaya—bukan pantulan hati.
“Udah dingin ya,” kata Arvin pelan ketika udara mulai berubah. Ia menurunkan sedikit kecepatan, membiarkan angin pegunungan yang sejuk menyusup lewat ventilasi.
“Iya,” Zahra mengangguk. “Enak.”
Pepohonan pinus mulai berderet rapi, hijau tua dan tinggi, menggantikan papan reklame dan deru klakson. Jalanan berkelok, menanjak perlahan. Kota terasa jauh, seperti cerita yang ditutup halaman terakhirnya. Tapi di kepala Zahra, ada satu halaman yang terus terbuka—wajah Miranda.
Ia teringat senyum tenang itu. Cara Miranda menyerahkan sertifikat rumah seolah melepaskan sesuatu yang seharusnya dipertahankan. Kata-kata terakhirnya yang ikhlas namun pahit. Semua itu menempel, menekan d**a Zahra sampai napasnya terasa pendek.
“Mas,” Zahra membuka suara, lalu terhenti.
Arvin menoleh cepat. “Kenapa?”
“Nggak… nggak apa-apa.” Zahra menggeleng, memaksa senyum. “Aku cuma… mikir.”
Arvin mengangguk pelan. Ia tidak mengejar penjelasan. Beberapa detik berlalu dalam sunyi yang tidak canggung, hanya suara mesin dan desiran angin. Lalu Arvin berbicara lagi, suaranya hangat, seperti selimut tipis.
“Kita nggak harus ngapa-ngapain di sana,” katanya. “Kalau mau tidur seharian, ya tidur. Kalau mau bengong sambil minum teh jahe, juga nggak apa-apa.”
Zahra tertawa kecil. “Mas kayak lagi menenangkan anak kecil.”
“Ya memang,” balas Arvin ringan. “Anak kecil plus dua penumpang ekstra di perut.”
Zahra tersenyum lebih lebar, tapi kemudian sorot matanya kembali meredup. Ia menoleh ke luar jendela. Kabut tipis mulai turun, menyelimuti jalan seperti tirai halus. Ia menurunkan kaca sedikit, membiarkan udara dingin menyentuh wajahnya.
“Mas…,” Zahra akhirnya berkata, suaranya nyaris tenggelam oleh angin. “Apa aku egois?”
Arvin mengerem perlahan saat kendaraan di depan melambat. “Egois kenapa?”
“Liburan,” Zahra menelan ludah. “Aku merasa… belum pantas untuk merasa senang.”
Arvin memarkir mobil sebentar di bahu jalan yang aman. Ia menoleh sepenuhnya, menatap Zahra dengan serius namun lembut.
“Pantas menurut siapa?”
Zahra terdiam. Matanya berkaca-kaca. “Menurut aku sendiri.”
Arvin meraih tangan Zahra, menggenggamnya erat. “Zahra, rasa bersalah itu bukan hukuman seumur hidup. Kamu peduli, kamu menyesal, kamu ingin berdamai. Itu bukan dosa.”
“Tapi Miranda—”
“Miranda membuat pilihannya sendiri,” potong Arvin pelan, bukan keras. “Dan kamu juga berhak hidup.”
Zahra menarik napas dalam-dalam, bahunya bergetar. “Aku cuma takut… kebahagiaan ini diambil lagi.”
Arvin mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. “Kalau pun hidup kejam, aku tetap di sini. Empat hari ini… biarin aku yang jaga.”
Mobil kembali berjalan, menembus kabut yang makin tebal. Zahra menatap ke depan, lalu ke luar jendela. Di ketinggian itu, ia membayangkan rasa bersalahnya tertinggal—jatuh perlahan, mengendap di bawah, sementara ia terus naik.
Ia tidak yakin bisa benar-benar lepas. Tapi untuk pertama kalinya, ia ingin mencoba.
Vila itu berdiri seolah menyatu dengan kontur bukit, bertengger tenang di ketinggian, menghadap hamparan hijau yang berlapis-lapis hingga ke lembah. Kabut bergerak perlahan, seperti napas alam yang sedang beristirahat. Begitu Arvin mematikan mesin dan membuka pintu mobil, Zahra ikut turun—lalu berhenti.
Ia tidak langsung melangkah.
Angin pegunungan menyapu wajahnya, dingin tapi bersih, membawa aroma tanah basah dan getah pinus. Rambut Zahra sedikit terangkat, gaunnya berdesir. Ia menghirup udara dalam-dalam, seolah paru-parunya baru sekarang belajar bekerja dengan benar.
“Mas…” suaranya nyaris berbisik. “Indah banget.”
Arvin menyandarkan punggung ke mobil, mengamati Zahra tanpa menyela. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya—senyum orang yang tidak butuh dipuji karena rencananya berhasil. Ia sengaja memilih vila ini: jauh dari keramaian, jauh dari vila-vila lain, dengan jendela besar yang menghadap alam tanpa penghalang.
“Katanya view-nya paling enak kalau pagi sama sore,” ujarnya ringan. “Kalau hujan, kabutnya bisa masuk sampai teras.”
Zahra menoleh, matanya berbinar. “Serius?”
“Serius. Tapi jangan keluar sendirian ya. Licin.”
Zahra mengangguk patuh, lalu berjalan masuk ketika Arvin membuka pintu vila. Begitu berada di dalam, langkahnya melambat. Lantai kayu yang hangat, aroma bersih bercampur kayu pinus, cahaya lembut yang masuk dari jendela-jendela besar—semuanya terasa menenangkan. Ia menyentuh sandaran sofa, mengusap meja kayu, seperti memastikan tempat ini nyata.
Ia berhenti di depan jendela besar yang menghadap lembah. Kabut bergerak perlahan di bawah sana, seperti laut putih yang tenang. Zahra berdiri lama, kedua tangannya kembali bertumpu di perutnya. Matanya berkaca-kaca.
Arvin berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia tidak mendekat. Tidak memeluk. Tidak berkata apa-apa. Ia tahu, momen ini tidak butuh interupsi.
“Aku… lama nggak ngerasain kayak gini,” kata Zahra akhirnya, suaranya lirih. “Tenang. Tanpa rasa dikejar.”
Arvin mendekat satu langkah. “Kamu nggak harus kejar apa-apa di sini.”
Zahra mengangguk, setitik air mata jatuh, tapi bibirnya tersenyum. “Terima kasih, Mas.”
Arvin menatap punggung istrinya—wanita yang begitu kuat sampai lupa caranya berhenti. Dalam hati, ia berdoa sederhana: semoga vila ini menjadi jeda. Ruang aman. Tempat Zahra boleh rapuh tanpa merasa bersalah. Tempat ia boleh bernapas… dan untuk sementara, disembuhkan oleh sunyi.
Arvin tidak memberi Zahra waktu lama untuk tenggelam dalam lamunannya. Begitu koper-koper diletakkan rapi dan jaket digantung, ia langsung membuka kulkas vila yang sudah terisi bahan makanan.
“Duduk,” katanya singkat sambil menoleh ke arah Zahra.
“Hah?”
“Duduk manis. Hari ini kamu tamu.” Nada suaranya tidak bisa dibantah, tapi matanya hangat.
Zahra tertawa kecil, lalu menurut. Ia duduk di kursi dekat meja dapur, posisi yang pas untuk melihat Arvin bergerak. Dari sana, ia bisa menyaksikan suaminya membuka baju luar, menggulung lengan kemeja, lalu mulai sibuk seperti koki sungguhan. Pisau memotong bawang, wajan dipanaskan, aroma bumbu perlahan memenuhi ruangan.
Zahra menyandarkan punggung, satu tangannya otomatis naik ke perutnya yang mulai membulat jelas. Ada rasa hangat mengalir di dadanya—pemandangan sederhana, tapi terasa intim dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.
“Mas kelihatan cocok jadi chef,” godanya.
Arvin mendengus. “Ini chef karena keadaan. Dan demi istri hamil.”
Zahra tersenyum, lalu tiba-tiba mengernyit. Tangannya menekan perutnya pelan, refleks.
Arvin langsung menoleh. “Kenapa?”
Zahra menghela napas, wajahnya berubah bingung sekaligus heran. “Kayaknya… bergerak.”
Alis Arvin terangkat. Ia mematikan kompor sebentar dan mendekat. “Udah mulai terasa, ya?”
“Iya,” Zahra mengangguk pelan. “Barusan. Kayak… dorongan kecil.”
Arvin berjongkok di depan Zahra, ragu sejenak sebelum meletakkan telapak tangannya di perut istrinya. Gerakannya hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang sangat berharga.
“Kandungannya udah enam bulan,” gumam Zahra. “Sebentar lagi masuk tujuh. Dokter bilang, bayinya tambah sehat dan kuat.”
Mereka diam. Lalu—sebuah sentuhan kecil terasa di bawah telapak tangan Arvin.
Mata Arvin membesar. “Itu… barusan?”
Zahra tertawa kecil, kali ini lebih ringan. “Iya.”
Arvin mengusap perut itu perlahan, senyumnya pecah tanpa ia sadari. “Hai,” katanya lirih, entah pada siapa. “Ayah lagi masak buat mama kalian.”
Zahra menatapnya, d**a terasa penuh oleh perasaan yang campur aduk—haru, cinta, dan ketakutan yang perlahan luruh. Untuk pertama kalinya sejak lama, rasa bersalah tidak sepenuhnya mendominasi. Ada kehidupan baru yang menuntutnya untuk hadir, bukan tenggelam di masa lalu.
“Mas,” panggil Zahra pelan.
“Hmm?”
“Terima kasih… sudah bikin aku merasa aman.”
Arvin menoleh, menatap wajah Zahra yang lembut diterpa cahaya siang. “Itu tugasku,” jawabnya tenang. “Sekarang dan seterusnya.”
Ia kembali ke kompor, melanjutkan masakannya. Di belakangnya, Zahra menatap punggung suaminya dengan senyum kecil—senyum seorang wanita yang, meski belum sepenuhnya sembuh, mulai percaya bahwa kebahagiaan tidak selalu datang tanpa luka, tapi bisa tumbuh di tengahnya.