Arvin kembali ke kompor, mengaduk sayur dengan gerakan tenang dan terlatih. Wajan mendesis pelan, aroma bawang dan bumbu menyatu dengan udara pegunungan yang masuk lewat jendela terbuka. Cahaya siang jatuh di punggungnya, membuat sosok itu tampak begitu nyata—dan begitu dekat.
Di belakangnya, Zahra menatap tanpa berkedip.
Ada rasa takjub yang sulit ia jelaskan. Bukan karena Arvin sedang memasak, tapi karena kenyataan yang sedang ia jalani. Jalan takdir benar-benar aneh, pikirnya. Tidak pernah lurus, tidak pernah bisa ditebak.
Beberapa bulan lalu, laki-laki itu masih suami wanita lain. Hidup Zahra kala itu berjalan di relnya sendiri—tenang, mandiri, dengan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Ia tidak pernah membayangkan akan berdiri di titik ini. Menjadi istri Arvin. Mengandung anaknya. Berada di vila sunyi di Puncak, menyaksikan suaminya menyiapkan makan siang sambil sesekali menoleh memastikan ia baik-baik saja.
Kalau dulu ada yang bilang hidupku akan seperti ini, aku pasti tertawa, batin Zahra. Terlalu rumit. Terlalu besar.
Impian Zahra dulu sangat sederhana. Setelah kegagalan pernikahan pertamanya, ia hanya ingin satu hal: hidup yang tenang. Menikah dengan laki-laki biasa yang benar-benar mencintainya, menjadi istri yang tidak perlu bersaing dengan masa lalu, dan tetap mengelola kafe kecilnya dengan hati penuh. Tidak lebih.
Ia tidak pernah meminta kemewahan. Tidak pernah meminta kisah cinta yang dramatis.
Namun hidup memberinya Arvin—dengan segala kompleksitas, luka, dan badai yang menyertainya. Memberinya cinta yang datang bersama rasa bersalah, tatapan menghakimi, dan bayang-bayang perempuan lain yang belum sepenuhnya pergi dari hidup mereka.
Ini bukan hidup yang kuimpikan, aku Zahra dalam hati, tapi ini hidup yang kupilih.
Arvin menoleh sekilas. “Kok melamun?”
Zahra tersenyum, cepat menghapus jejak pikirannya. “Lagi mikir aja.”
“Mikir apa?” tanya Arvin sambil tetap mengaduk masakan.
“Mikir… ternyata hidup suka bercanda,” jawab Zahra ringan, tapi matanya lembut.
Arvin tersenyum kecil, seolah paham tanpa perlu penjelasan. “Dan kadang bercandanya keterlaluan.”
Zahra tertawa pelan. Tangannya kembali mengusap perutnya. Ada rasa takut yang masih tersisa, tapi juga ada keyakinan yang perlahan tumbuh—bahwa mungkin, kebahagiaan memang tidak selalu datang dengan cara yang bersih dan rapi.
Kalau ini harga dari cinta dan keluarga, batinnya, aku akan belajar menerimanya. Pelan-pelan. Dengan jujur.
Di dapur kecil itu, di antara suara wajan dan udara dingin pegunungan, Zahra merasa untuk pertama kalinya: hidupnya bukan sempurna, tapi nyata. Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.
Arvin mematikan kompor setelah memastikan masakan matang sempurna. Ia menata piring dengan rapi, gerakannya santai tapi penuh perhatian—seolah ini bukan sekadar makan siang, melainkan ritual kecil yang ingin ia kenang. Ia menoleh ke Zahra.
“Masih betah jadi penonton?” godanya.
Zahra tersenyum. “Aku menikmati pertunjukannya. Chef-nya serius banget.”
“Ini chef yang lagi berusaha bikin istrinya makan dengan lahap,” balas Arvin sambil mengangkat satu alis. “Terutama ibu dari penumpang VIP di perut itu.”
Zahra terkekeh pelan, lalu berdiri pelan-pelan. Arvin refleks mendekat, menahan siku Zahra dengan ringan. Sentuhan itu sederhana, tapi penuh makna—seperti pengingat bahwa ia tidak sendirian.
Mereka duduk berhadapan di meja makan dekat jendela besar. Kabut di luar bergerak pelan, membuka dan menutup pemandangan lembah. Zahra mencicipi masakan pertama, mengunyah perlahan. Matanya melembut.
“Enak,” katanya jujur. “Bumbu nasi goreng dari Mama kamu kerasa banget.”
Arvin tersenyum bangga. “Mama selalu percaya bumbu bisa menyelamatkan suasana.”
Zahra tertawa kecil, lalu diam sejenak. Garpu di tangannya berhenti. Arvin menangkap perubahan itu, tak langsung menyela. Ia memberi ruang.
“Aku masih ngerasa bersalah,” Zahra akhirnya berkata, suaranya rendah. “Bahkan di tempat setenang ini.”
Arvin menatapnya, tenang. “Aku tahu.”
“Aku takut… kalau aku terlalu menikmati ini, aku jadi orang yang kejam.”
Arvin menggeleng pelan. “Menikmati hidup bukan berarti melupakan rasa sakit orang lain.” Ia meraih tangan Zahra di atas meja, menggenggamnya hangat. “Kamu berhak bernapas, Zahra. Kamu berhak bahagia—meski pelan, meski belum sempurna.”
Zahra menelan ludah. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tersenyum. “Aku lagi belajar.”
“Dan aku di sini buat nemenin belajarnya,” kata Arvin, mantap.
Tiba-tiba Zahra mengernyit lagi. Tangannya refleks menekan perut. Arvin langsung siaga. “Kenapa?”
“Gerak lagi,” Zahra berbisik, antara kaget dan senang. “Kayak… nyolek.”
Arvin tertawa pelan, terharu. Ia mencondongkan badan, menempelkan telapak tangannya ke perut Zahra. “Halo,” ucapnya lirih, nyaris khidmat. “Ayah di sini.”
Zahra menahan napas. Ada getar kecil di bawah telapak Arvin. Matanya melebar. “Kamu ngerasa?”
Arvin mengangguk, suaranya serak. “Iya.”
Untuk beberapa detik, dunia seakan berhenti. Tidak ada orang lain, dan semua urusan yang sudah mereka tinggalkan di belakang. Hanya mereka—dan kehidupan kecil yang sedang tumbuh.
Arvin mengangkat pandangannya. “Terima kasih,” katanya tiba-tiba.
Zahra terkejut. “Untuk apa?”
“Untuk bertahan. Untuk tetap memilih kita,” jawab Arvin jujur.
Zahra tersenyum, air mata akhirnya jatuh. “Aku juga memilih kita.”
Di luar, kabut kembali turun. Di dalam, hangat itu menetap—rapuh, jujur, dan nyata.
Setelah makan siang, Arvin membereskan meja tanpa banyak bicara. Zahra sempat menawarkan bantuan, tapi Arvin hanya menggeleng sambil mendorong kursinya pelan. “Tugas kamu sekarang satu,” katanya lembut. “Istirahat.”
Zahra menurut. Ia merebahkan tubuh di sofa dekat jendela, bantal kecil menyangga punggungnya. Kabut mulai naik perlahan dari lembah, seperti tirai tipis yang ditarik setengah. Suasana sore menyusup pelan, menenangkan.
Arvin keluar-masuk dapur sebentar, lalu menghampiri Zahra. “Aku mau bikin teh jahe. Dingin.”
“Kayak kamu perhatian banget hari ini,” goda Zahra setengah mengantuk.
Arvin tersenyum. “Hari ini? Aku selalu perhatian.”
Zahra mendengus pelan, tapi senyumnya bertahan. Ia memejamkan mata sebentar, membiarkan tubuhnya benar-benar beristirahat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kantuk datang tanpa diburu rasa cemas.
Tak lama, Arvin menyentuh pundaknya dengan lembut. “Za… bangun. Sorenya cantik.”
Zahra membuka mata, sedikit bingung, lalu bangkit perlahan. Arvin sudah menyiapkan syal tipis dan jaket rajut. Ia menyampirkannya ke bahu Zahra dengan gerakan hati-hati, seperti menata sesuatu yang rapuh.
Mereka melangkah ke teras. Udara sore menyapa dengan dingin yang lembut. Langit bergradasi jingga dan abu-abu, matahari perlahan turun di balik bukit. Kabut menggantung rendah, membuat pemandangan terlihat seperti lukisan yang bergerak pelan.
Zahra berdiri di tepi teras, kedua tangannya memegang pagar kayu. Ia menarik napas dalam-dalam.
“Indah,” katanya lirih.
Arvin berdiri di sampingnya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. “Aku pengin kamu lihat ini tanpa harus mikir apa-apa.”
Zahra mengangguk. “Aku lagi belajar berhenti mikir… walau susah.”
“Pelan-pelan,” jawab Arvin. “Nggak ada target.”
Angin berembus, membuat rambut Zahra tergerai. Ia menoleh pada Arvin. “Terima kasih sudah ngajak aku ke sini.”
Arvin menatapnya, serius. “Aku ngajak kamu bukan buat lari. Tapi buat ngingetin—hidup kamu nggak cuma tentang rasa bersalah.”
Zahra terdiam. Dadanya menghangat, matanya kembali berkaca-kaca. Ia mengangguk, lalu bersandar ringan di lengan Arvin.
Arvin menyesuaikan posisinya, satu tangannya menopang Zahra, satu lagi bertumpu di pagar. Mereka berdiri dalam diam yang nyaman, membiarkan sore menutup hari pertama mereka di Puncak.
Di kejauhan, matahari akhirnya tenggelam. Dan untuk sesaat, Zahra merasa—ia boleh berharap.
***
Tanpa ragu, Nico melangkah cepat melewati lobi langsung menuju ruang ICU. Setelan gelapnya rapi, wajahnya dipasang dengan ekspresi tenang yang nyaris sendu. Di tangannya, sekeranjang buah dan bunga lili putih—pilihan yang aman, sopan, dan tidak berlebihan.
Di depan ruang ICU, keluarga Miranda sudah berkumpul. Mereka mengenali Nico sejak pandangan pertama. Mantan pacar Miranda. Nama itu tidak pernah benar-benar hilang dari lingkaran keluarga mereka.
“Nico…” gumam ibu Miranda pelan.
Nico mendekat, menundukkan kepala dengan hormat. “Tante… Mas Reno…” sapanya satu per satu, suaranya lembut, penuh empati. Tidak ada kecanggungan yang dibuat-buat. Hubungan mereka dulu memang tidak pernah berakhir dengan konflik terbuka—hanya perpisahan yang dibiarkan menggantung oleh keadaan.
“Aku dengar keadaannya masih sama,” lanjut Nico pelan, menaruh keranjang di meja. “Aku benar-benar khawatir.”
Ia duduk tanpa diminta, menjaga jarak yang sopan. Tatapannya beberapa kali jatuh ke pintu ICU, seolah ingin menembus dinding kaca itu dan memastikan sendiri kondisi Miranda.
“Miranda selalu keras kepala,” ujar Nico lirih, seperti mengenang. “Tapi hatinya lembut. Dia nggak pernah pantes dapet semua ini.”
Kata-kata itu membuat suasana semakin berat. Ibu Miranda terisak pelan. Reno mengepalkan tangan, rahangnya mengeras sebelum akhirnya bicara.
“Kalau saja Miranda dulu nikah sama kamu,” katanya getir, “dia mungkin nggak bakal ada di ruangan itu sekarang.”
Nico menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Jangan begitu, Mas. Hidup nggak bisa diulang. Aku cuma berharap dia sadar… dan baik-baik saja.”
Ia menunduk, menyembunyikan kilat kepuasan yang nyaris lolos dari matanya. Di hadapan mereka, Nico adalah laki-laki yang kehilangan, bukan yang bersalah. Tidak satu pun dari mereka tahu—atau mau tahu—bahwa di balik sikap santun itu, ada masa lalu yang kotor, rencana yang disusun rapi, dan rasa iri yang tak pernah benar-benar padam.
Nico tinggal lebih lama dari yang seharusnya. Menemani, mendengarkan, menawarkan bantuan kecil. Semua dilakukan dengan ketenangan yang meyakinkan.
Ibu Miranda pamitan pulang ke rumah, Nico tetap menunggu.
Nico berdiri beberapa langkah dari bangku tunggu keluarga. Jasnya rapi, wajahnya terlihat letih namun tetap terlihat tenanh. Ia menarik napas dalam sebelum kembali mendekat, sikapnya hati-hati, nyaris sungkan.
“Mbak… Mas…” ujarnya pelan, menunduk sopan ke arah kakak Miranda dan anggota keluarga lain. “Saya tahu posisi saya bukan siapa-siapa lagi, tapi bolehkah saya masuk sebentar? Saya ingin melihat Miranda.”
Ruangan seketika hening. Nico melanjutkan dengan suara rendah dan penuh penyesalan, “Apa pun yang terjadi di masa lalu, dia pernah sangat berarti buat saya. Saya cuma ingin mendoakan dari dekat. Lima menit saja.”
Kakak Miranda menatapnya lama, menimbang. Wajah Nico terlihat tulus—mata sedikit merah, rahang mengeras menahan emosi. Akhirnya, kakak Miranda mengangguk kecil.
“Sebentar saja,” katanya tegas. “Jangan lama-lama.”