Bab 13

1783 Kata
Nico mengangguk cepat. “Terima kasih. Terima kasih banyak.” Ia lalu mendekati suster yang berjaga di depan pintu ruang ICU. “Suster, saya sudah dapat izin keluarga Ibu Miranda. Boleh saya masuk sebentar?” Perawat sempat ragu ketika Nico meminta izin masuk. Jam kunjungan sebenarnya sudah hampir habis. Namun setelah melihat wajahnya yang pucat, mata yang tampak lelah, dan sikapnya yang begitu sopan, ia akhirnya mengangguk pelan. “Jangan lama-lama ya, Pak.” Nico mengucapkan terima kasih dengan suara rendah, lalu melangkah masuk ke ruang ICU. Mata Nico bertemu dengan mata ayah Miranda yang sedang berjaga di samping ranjang. "Asalamualaikum, Pak. Maaf, saya mau lihat Miranda sebentar," sapa Nico santun. "Waalaikumsalam. Silakan, tapi tolong jangan berisik," jawab ayah Miranda datar. "Baik, Pak!" Nico mengangguk, melangkah mendekat di sisi lain ranjang. Ruangan itu sunyi, hanya diisi bunyi mesin yang berdetak teratur. Miranda terbaring tak bergerak, wajahnya pucat, tubuhnya tampak lebih rapuh dari terakhir kali Nico melihatnya. Selang dan kabel menempel di tubuhnya, membuat pemandangan itu terasa kejam. Nico duduk perlahan di sisi ranjang. Ia meletakkan keranjang bunga di meja kecil, lalu menggenggam tangan Miranda dengan hati-hati, seolah takut menyakitinya. “Mir…” suaranya bergetar, nyaris seperti bisikan. “Kamu harus bangun.” Ia menunduk, bahunya sedikit bergetar. Dari luar, siapa pun yang melihat akan mengira Nico adalah lelaki yang benar-benar hancur. Matanya berkaca-kaca, napasnya berat. Jari-jarinya mengerat di tangan Miranda, hangat, protektif. “Aku di sini,” lanjutnya lirih. “Aku nggak ke mana-mana. Kamu selalu keras kepala, ingat? Jadi… bangun. Jangan ninggalin aku kayak gini.” Ia menempelkan keningnya sebentar ke punggung tangan Miranda. Drama itu sempurna—cukup untuk membuat siapa pun yang mengintip dari balik kaca merasa iba. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Kakak Miranda muncul, menepuk pelan bahu Nico. “Waktunya habis,” katanya pelan. "Oh. Maaf waktunya tidak terasa. Bolehkah saya minta waktu berdua saja dengan Miranda? Hanya satu menit," pinta Nico dengan wajah memohon. "Oke." Kakak perempuan Miranda mengijinkan dengan berat hati. Dia berbalik, mengajak ayahnya yang saat itu sedang berdiri di sudut ruangan keluar. Ayah Miranda menoleh sejenak pada Nico, lalu mengikuti anak sulungnya itu. 'Apakah dia mantan pacar Miranda yang Arvin ceritakan?' Hati ayah Miranda bertanya-tanya. Namun melihat sikap pria itu yang santun, pertanyaan itu perlahan mengendap. Di dalam ruangan, Nico tinggal berdua saja dengan Miranda. Ia menatap Miranda lama, tanpa emosi yang tadi dipamerkannya. “Kasihan kamu, Mir,” gumamnya pelan. “Selalu jadi alasan orang lain bahagia.” Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum—lebih mirip garis tipis yang mengandung niat buruk. “Arvin,” ucapnya perlahan, seolah menyebut nama itu saja sudah cukup membuat darahnya mendidih. “Dia berani merebut apa yang seharusnya jadi milikku.” Nico membungkuk sedikit, mendekat ke telinga Miranda yang tak bisa mendengar. “Tenang,” bisiknya, suaranya rendah dan berbahaya. “Aku akan menghancurkan dia. Semua yang dia punya. Reputasinya, kariernya dan rumah tangganya, akan jadi debu.” Tangannya mengepal pelan di sisi ranjang. “Semua yang pernah kamu sukai dari dia… akan kulenyapkan satu per satu.” Ia berdiri, merapikan jasnya, kembali menjadi Nico yang rapi dan tenang. “Dia mengambil milikku,” lanjutnya dingin. “Maka aku akan mengambilnya kembali. Dengan caraku.” Nico keluar dari ruang perawatan dengan langkah pelan. Begitu melihat keluarga Miranda yang masih menunggu, ia segera merapikan ekspresinya. Wajahnya kembali lembut, mata terlihat berkaca-kaca, seolah menahan kelelahan dan emosi yang bercampur. Ia mendekat dan menunduk sopan. “Terima kasih sudah mengizinkan saya masuk,” ucapnya tulus. “Miranda… kelihatannya tenang. Saya doakan dia cepat sadar.” Kakak Miranda mengangguk singkat. Nico lalu menambahkan, nadanya hangat dan penuh perhatian, “Kalau ada apa-apa, tolong kabari saya. Saya nggak bisa lepas tangan begitu saja. Dia pernah jadi bagian penting hidup saya.” Ia menarik napas, tersenyum kecil—senyum yang rapi dan menenangkan. “Saya pamit dulu. Jangan lupa jaga kesehatan juga. Kalian pasti capek.” Beberapa anggota keluarga membalas dengan anggukan, ada yang tersenyum tipis. Nico kembali menunduk sopan sebelum berbalik pergi, meninggalkan kesan sebagai pria dewasa yang penuh empati. “Terima kasih sudah datang.” Nico mengangguk, masih mempertahankan wajah sendunya. Ia berdiri perlahan, melepaskan tangan Miranda dengan enggan, seolah itu keputusan yang menyakitkan. "Permisi, Pak." dia mengangguk pada ayah Miranda yang sudah duduk di kursi tunggu. Nico menampilkan wajah sedih seorang mantan kekasih yang masih mencintai. Namun begitu pintu tertutup kembali dan ia menjauh, melangkah menyusuri lorong menuju pintu keluar, sesuatu di wajah Nico berubah. Bahunya kembali tegak. Napasnya stabil. Mata yang tadi berkaca-kaca kini mengeras—tajam, dingin, dan penuh perhitungan. Tak seorang pun menyadari, di balik punggungnya yang menjauh, kehangatan itu hanya topeng yang dilepas begitu langkahnya keluar dari jangkauan pandang mereka. *** Malam di Puncak datang bersama kabut yang turun cepat dan tebal, menyelimuti vila seperti selimut putih yang dingin. Dari balik jendela, kaca mulai berembun, membuat lampu-lampu di luar tampak buram dan jauh, seolah dunia berhenti tepat di batas dinding vila itu. Di ruang tengah, Arvin dan Zahra baru saja selesai makan malam sederhana. Mereka duduk berdampingan di sofa panjang, masih mengenakan sweater tebal. Di atas meja kecil di depan mereka, dua cangkir mengepul pelan. Kopi hitam di tangan Arvin, sementara Zahra memeluk cangkir s**u cokelatnya dengan dua tangan, menikmati hangat yang merambat ke telapak tangannya. “Dingin banget,” gumam Zahra sambil menggosok telapak tangannya di badan cangkir. Arvin tersenyum kecil. Ia bangkit, lalu memutar tombol pemanas ruangan. Tak lama kemudian, udara di dalam vila terasa lebih ramah. “Gini mendingan?” tanyanya sambil kembali duduk. “Iya,” Zahra mengangguk. “Nyaman.” Mereka terdiam sejenak, menikmati suasana. Ada alunan musik klasik yang mulai rutin mereka putarkan sejak kandungan Zahra empat bulan. Arvin menyeruput kopinya, lalu tertawa kecil. “Tau nggak, dulu waktu kecil aku paling sebel sama udara dingin begini.” Zahra menoleh, tertarik. “Kenapa?” “Soalnya tiap kali aku kedinginan, Mama pasti maksa aku minum s**u hangat.” Arvin mengangkat bahu. “Padahal aku maunya teh manis. Tapi katanya biar nggak gampang sakit.” Zahra ikut tersenyum. “Mas Arvin anak mama banget, ya.” “Banget,” jawab Arvin santai. “Papa malah sering ngeledek. Katanya aku itu proyek gagal jadi anak bandel.” Zahra tertawa kecil, lalu menyesap s**u cokelatnya. Hangatnya menenangkan. “Kayaknya masa kecilmu menyenangkan.” Arvin mengangguk. “Sederhana, tapi hangat.” Ia menoleh ke Zahra. “Kalau kamu?” Pertanyaan itu terdengar ringan, tapi Zahra terdiam lebih lama dari biasanya. Jarinya melingkar lebih erat di cangkir. “Aku…” Ia menarik napas. “Aku besar di panti asuhan.” Arvin tidak menyela. Ia hanya memiringkan tubuh sedikit, memberi ruang sekaligus perhatian penuh. “Aku nggak tahu siapa orang tuaku,” lanjut Zahra pelan. “Yang aku kenal cuma ibu dan bapak pengurus panti. Mereka baik, tapi tetap beda.” Bibirnya melengkung tipis. “Nggak ada cerita pulang sekolah disambut orang tua, nggak ada yang nanyain nilai rapor dengan wajah cemas.” Arvin meletakkan cangkir kopinya, lalu menggenggam tangan Zahra. “Selama ini,” Zahra melanjutkan, suaranya sedikit bergetar tapi tetap tenang, “nggak pernah ada yang benar-benar mau dengar cerita masa kecilku. Orang biasanya cuma bilang, ‘yang penting kamu kuat’.” Ia menoleh ke Arvin, matanya hangat. “Baru sekarang rasanya… ada yang peduli.” Arvin menekan genggamannya pelan. “Kamu pantas didengar.” Zahra tersenyum kecil. “Setelah menikah sama Mas, aku ngerasa… punya orang tua.” Ia tertawa pelan, hampir malu. “Bapak dan Ibunya Mas Arvin sayang banget sama aku. Kadang aku sampai bingung sendiri.” “Itu karena kamu memang mudah disayang,” jawab Arvin tanpa ragu. Kabut di luar semakin tebal, tapi di dalam vila, suasana justru menghangat. Setelah s**u dan kopi habis, Arvin mengajak Zahra masuk ke kamar. Di dalam kamar vila, lampu temaram memantulkan bayangan samar di dinding kayu. Zahra berbaring miring, punggung menghadap Arvin. Selimut menutup tubuhnya sampai da-da, tapi dingin tetap merayap. Bukan dingin udara—melainkan dingin yang berasal dari pikirannya sendiri. Matanya terbuka. Terlalu terbuka. Langit-langit kamar tampak asing, terlalu putih, terlalu sunyi. Setiap detik terasa panjang. Detak jam di dinding berdentang pelan, namun di kepalanya, suara lain jauh lebih bising. Miranda. Wajah pucat di ranjang rumah sakit. Selang, monitor, bau antiseptik. Lalu suara-suara itu—lirih tapi tajam, menempel seperti duri. Kalau saja dia tidak menikah dengan Arvin… Ini semua karena Zahra… Zahra menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Nafasnya mulai pendek-pendek tanpa ia sadari. Dadanya naik turun terlalu cepat, seolah ada tangan tak terlihat yang menekan dari dalam. Ia menggeser tubuh sedikit, mencoba mencari posisi nyaman, tapi gagal. Perutnya terasa mengeras sesaat. Refleks, tangannya menempel di sana, mengusap pelan, seakan meminta maaf pada kehidupan kecil yang ikut merasakan kegelisahannya. Di belakangnya, Arvin membuka mata. Ia tidak langsung bergerak. Ia mengenali pola itu—napas Zahra yang tak beraturan, bahu yang kaku, keheningan yang terlalu keras. Ia mendekat tanpa suara, lalu memeluk Zahra dari belakang. Lengannya melingkar di perut Zahra, tepat di bawah dadanya. Memberinya rasa hangat yang menenangkan. Da-da Arvin menempel di punggungnya, napasnya dalam dan tenang, seolah ingin meminjamkan ritmenya. Zahra tersentak kecil, lalu membeku. Butuh beberapa detik sebelum pertahanannya runtuh. “Mas…” suaranya nyaris tak terdengar. Bukan panggilan minta jawaban, lebih seperti bisikan yang lolos tanpa sengaja. Arvin tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukan sedikit, lalu mengusap lengan Zahra dengan ibu jarinya, berulang, konsisten. Gerakan kecil yang berkata: Aku di sini, kamu aman. Air mata itu akhirnya jatuh. Zahra menutup wajahnya dengan tangan, menahan isak agar tidak terdengar keras. Bahunya bergetar pelan. Nafasnya tersendat. “Aku capek…” gumamnya di sela tangis. “Aku nggak ngapa-ngapain, tapi rasanya aku tetap disalahin.” Arvin menempelkan dagunya di kepala Zahra. Rambut Zahra dingin di kulitnya. Dia mulai memahami, perasaan Zahra semakin rapuh, mungkin bawaan kehamilannya. “Merasa capek setelah semua yang terjadi itu wajar,” ucapnya pelan, hampir berbisik. “Itu nggak lantas membuat kamu jadi lemah. Itu hanya jeda, pengingat agar Kita berhenti sejenak.” Zahra menggeleng kecil, air matanya membasahi bantal. “Mereka lihat aku kayak… kayak aku bahagia di atas penderitaan orang lain.” Dadanya kembali sesak. “Aku takut, Mas. Takut suatu hari anak kita tumbuh dan dengar cerita yang salah tentang kita.” Dugaannya benar. Zahra mulai memikirkan dampaknya bagi anak mereka. Kekhawatiran seorang ibu yang sedang mengandung. Arvin menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seolah ingin membersihkan udara di antara mereka. “Dengerin aku, Za. Kita nggak bisa ngontrol cerita di kepala orang. Tapi kita bisa ngontrol hidup kita. Cara kita saling jaga. Cara kita jadi orang tua nanti.” Zahra terdiam. Tangisnya mereda menjadi isakan kecil. “Aku juga takut,” lanjut Arvin jujur. “Takut kamu merasa sendirian. Takut kamu merasa harus kuat terus. Dan aku nggak cukup kuat untuk menopangmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN