Bab 14

1908 Kata
Zahra berbalik sedikit, cukup untuk menyandarkan kening ke da-da Arvin. Ia merasakan detak jantung pria it, stabil dan menenangkan. “Aku nggak butuh kamu jadi sempurna,” kata Arvin pelan. “Aku cuma butuh kamu jujur sama perasaanmu, dan jangan menyiksa dirimu dengan memikirkan hal-hal yang nggak penting.” Zahra memejamkan mata. Ia juga menginginkan itu, tapi pikirannya seringkali bergerak mengikuti perasaan. Ini mungkin karena sejak kecil hidup di panti asuhan, ada perasaan tidak aman yang terus membayanginya. Perasaan aman itu mulai dia rasakan setelah dewasa itupun masih sering goyah, seperti saat dia ditindas oleh mantan suaminya. Zahra membuka matanya, merasakan keberadaan Arvin, menghidu keharuman khas aftershavenya. “Mas, tolong peluk aku sebentar lagi,” pintanya lirih. Arvin tersenyum tipis, senyum yang tidak terlihat. “Sebentar nggak cukup,” jawabnya. “Aku peluk sampai kamu tertidur.” Arvin memeluk Zahra dari belakang, lengannya melingkar penuh perlindungan. Telapak tangannya bergerak perlahan, mengusap perut yang membesar itu dengan gerakan lembut. Dia menyukai sensasi saat telapak tangannya berada di atas perut istrinya, dan merasakan gerakan pelan bayi mereka. Zahra masih terjaga. Napasnya tidak beraturan, pikirannya belum juga mau diam. “Mas, aku nggak bisa tidur,” bisiknya pelan. Arvin tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mendekatkan tubuhnya, menempelkan da-da hangatnya ke punggung Zahra. Tangannya tetap bergerak perlahan di atas perut istrinya, lalu naik ke sisi tubuhnya, mengusap dengan ritme tenang. Sentuhan itu tidak tergesa, secara alami menyentuh tubuh istrinya, menenangkan. Zahra memejamkan mata, namun sesuatu dalam cara Arvin menyentuhnya membuatnya kembali membuka mata. Sesuatu dalam dirinya seolah dibangunkan. Arvin menyibakkan rambut Zahra ke satu sisi, lalu mengecup pelan tengkuknya. Hangat. Lama. Napasnya menyentuh kulit Zahra, membuat bulu kuduknya meremang halus. “Mas…” suaranya nyaris tak terdengar, campuran antara gugup dan penasaran. Mereka baru beberapa kali bercinta, dan semua berakhir dengan kenikmatan yang masih membekas hingga sekarang. Zahra menanti dengan berdebar, napas memburu yang mengenai tengkuknya menunjukkan suaminya juga merasakan apa yang sekarang ia rasakan. "Aku merindukanmu, Sayang," bisik Arvin serak. Tangannya menyusup ke balik gaun tidur Zahra. Telapak tangan itu langsung menyentuh perutnya yang membusung lalu naik ke atas. "Sayang..." Arvin mendesah, tangannya menggenggam benda bulat kenyal tanpa penghalang. Zahra punya kebiasaan tidak mengenakan bra saat tidur. Arvin tersenyum samar saat kedua jarinya memilin-milin puncak sepasang benda bulat kenyal itu. Dia sangat menyukai ini. Tangan Arvin lalu turun perlahan, menyusuri lengannya, mengusap pinggang Zahra sebelum akhirnya membalikkan tubuh Zahra dengan hati-hati agar menghadapnya. Gerakannya penuh kehati-hatian, memastikan ia tidak menekan perut istrinya. Di bawah cahaya temaram lampu kamar, wajah Zahra terlihat rapuh sekaligus indah. Matanya masih menyimpan sisa kegelisahan. Arvin mengangkat tangannya, mengusap pipi Zahra dengan ibu jari. “Jangan khawatir lagi, kita akan melewati semuanya bersama," itu adalah janji, dan bagi Arvin, itu adalah doa. Arvin menunduk, mencium keningnya. Lalu turun ke pelipis. Ke sudut mata. Ke pipi. Setiap kecupan seperti jeda yang disengaja, memberi ruang bagi Zahra untuk merasakan, sentuhannya. Ketika bibir mereka akhirnya bertemu, ciuman itu pelan. Tidak mendesak. Hanya pertemuan dua hati yang sama-sama ingin saling menenangkan. Zahra meraih bahu Arvin, jari-jarinya mencengkeram lembut kain kaus yang ia kenakan. Napas mereka mulai menyatu. Arvin mengelus punggung Zahra dengan gerakan lambat, ritmis, seakan menghapus satu per satu beban yang menempel di tubuhnya. Sentuhannya hangat, penuh keyakinan, membuat Zahra perlahan meluruh dalam pelukannya. Zahra merasakan tubuhnya kembali hidup—bukan karena gairah semata, tapi karena ia merasa diinginkan. Diterima. Dicintai tanpa syarat, bahkan di saat ia merasa paling rapuh. “Percaya sama aku,” bisik Arvin di sela ciumannya. Zahra mengangguk kecil. Malam itu, mereka saling mendekap lebih dalam. Gerakan mereka tetap hati-hati, lembut, penuh kesadaran akan kehidupan yang mereka jaga bersama. Tidak ada tergesa, tidak ada ambisi. Hanya dua orang yang memilih untuk saling menyembuhkan lewat kehangatan tubuh dan cinta yang telah melewati badai. Di luar, angin gunung terus berembus, kabut menempel di kaca jendela. Kamar itu terasa mulai hangat dengan panas tubuh mereka. Arvin menarik gaun tidur Zahra melewati kepalanya. "Kamu tambah cantik, Sayang," bisiknya sambil menatap nanar tubuh hamil istrinya. Dia mengusap perutnya, merasakan kehidupan kecil yang tumbuh di sana. Kembali cumannya turun dari pelipis, ke rahang, ke leher, lalu kembali ke bibir istrinya yang berwarna merah muda.alami dan merekah basah. Tidak terburu-buru. Tapi juga tidak lagi menahan diri. Ada tuntutan di sana. Ada rasa memiliki yang mengalir panas. Zahra yang tadi gelisah kini menggenggam bahu Arvin lebih erat. Nafasnya berubah. Bukan lagi karena cemas. Melainkan karena disentuh seperti ini membuatnya lupa bagaimana caranya berpikir. Arvin membalikkan tubuh Zahra perlahan hingga ia terlentang di kasur. Ia membuka kausnya dan membungkuk di atasnya sambil menopang dirinya dengan satu tangan, memastikan berat tubuhnya tidak membebani perut Zahra. Tatapannya turun, menjelajahi tubuh istrinya dengan keinginan panas yang tidak ia sembunyikan. “Kamu tahu nggak?” suaranya rendah, berat, “aku nggak bisa menahan diri kalau lihat kamu begini.” Zahra menelan ludah. Mata mereka terkunci. Ada api yang sama menyala. Arvin mencium bibirnya lagi—kali ini lebih dalam. Lebih menekan. Bibir mereka saling membuka, saling mencari, seperti dua orang yang kelaparan setelah menahan diri terlalu lama. Tangan Zahra bergerak, menyusuri da.da Arvin, mencengkeram lengannya. Ia tidak lagi pasif. Ia menjawab. Ia mengimbangi. Udara di kamar terasa menipis. Arvin membiarkan jemarinya menjelajah dengan lebih berani, membuat tubuh Zahra melengkung pelan. Setiap sentuhan seperti percikan listrik. Setiap desah Zahra seperti undangan yang membuat Arvin semakin kehilangan kendali—meski tetap menjaga ritme. Ia mencium turun, meninggalkan jejak panas di kulit Zahra. Zahra menggigit bibirnya sendiri, mencoba menahan suara, tapi tubuhnya mengkhianatinya. “Lihat aku,” bisik Arvin. Zahra membuka mata. Tatapan mereka bertabrakan—liar, penuh rasa ingin memiliki. “Jangan pernah merasa kamu nggak pantas,” suara Arvin semakin dalam. “Kamu milikku. Kamu istriku. Kamu perempuan yang ditakdirkan untuk mengandung dan melahirkan anak-anakku, anak-anak kita.” Kalimat itu seperti bara yang disiram di bensin. Zahra menarik Arvin mendekat, mencium dengan intensitas yang sama liarnya. Ada kemarahan pada rasa bersalahnya sendiri. Ada pembuktian bahwa ia hidup. Bahwa ia diinginkan. Respon Zahra membuat hasrat Arvin tak terbendung lagi. Dia melepaskan penutup terakhir di tubuh mereka dan memposisikan dirinya di depan goa cinta Zahra. Dia meraba lembut, dan tersenyum. "Kamu benar-benar siap, Za." Zahra tersenyum malu, namun tetap menjawab jujur. "Aku juga menginginkanmu, Mas," Pengakuan itu seolah menjadi kode otoritas untuk melanjutkan. Arvin melebarkan kedua kaki Zahra dan memasuki goa cinta yang sudah licin itu perlahan. Dia tetap menjaga agar tidak menindih tubuh istrinya. Dia bergerak perlahan, hati-hati, membiarkan Zahra terbiasa dengan miliknya yang terasa sesak di dalam sana. Mengimbangi gerakannya, Zahra menggoyangkan pinggulnya. "Oh, Sayang..." Arvin mendesah, sebelah tangannya menjangkau bukit kembar yang menantang dengan dua puncak yang mengeras. Gerakan mereka menjadi lebih berani, tapi tetap terjaga. Arvin penuh kendal. Ia mengatur tempo, membuat Zahra mengikuti iramanya. Desahan dan erangan terus lolos dari bibir Zahra. Dia merasakan penyatuan itu, sangat indah dan membuatnya serasa terlempar ke taman penuh keindahan. Di luar, angin menghantam jendela. Di dalam, suara napas mereka bercampur, memburu, dan semakin panas. Zahra merasakan puncak itu mendekat. Dia mempercepat gerakan pinggulnya, dan Arvin mengimbangi dengan mempercepat dan memperdalam tusukannya. Hal yang paling dia inginkan sekarang, membawa istrinya ke puncak lebih dulu. Desahan dan erangan Zahra tak lagi terkendali. Tubuhnya tersentak-sentak, kedua tangannya mencengkeram seprei kuat-kuat. Ia tidak lagi memikirkan Miranda. Tidak lagi memikirkan masa lalu. Yang ada hanya sensasi. Hanya cinta yang liar dan nyata. Tubuh Zahra bergetar hebat. Itu membuat Arvin hampir kehilangan kendali sepenuhnya. Namun ia tetap menjaga. Selalu sadar akan perut yang menjadi pusat dunia mereka. Selalu memastikan Zahra nyaman, meski tubuhnya sendiri hampir tak sabar. Dan saat gelombang itu akhirnya datang—panas, kuat, tak tertahankan—Zahra memeluknya seolah takut ia akan hilang. Nafas mereka tersengal. Tubuh mereka masih bergetar. Arvin tidak langsung menjauh. Ia tetap di sana. Menempelkan dahinya ke dahi Zahra. “Tenang?” tanyanya pelan. Zahra tersenyum lelah. Pipinya memerah. Matanya basah, tapi bukan karena sedih. “Lebih dari itu,” bisiknya. Arvin mengecup keningnya dengan lembut. Napas mereka masih belum sepenuhnya teratur. Arvin berguling perlahan ke samping, tetap menarik Zahra ke dalam pelukannya. Telapak tangannya kembali menemukan perut istrinya, mengusapnya dengan gerakan protektif yang hampir refleks. Zahra menyandarkan kepalanya di d**a Arvin. Detak jantung suaminya masih cepat. Hangat. Nyata. “Masih gelisah?” tanya Arvin pelan, suaranya serak sisa gairah. Zahra menggeleng tipis. Jemarinya menggambar pola tak beraturan di d**a Arvin. “Kalau kamu peluk aku begini… dunia kayak nggak ada,” bisiknya. Arvin tersenyum samar. Ia menunduk, mengecup puncak kepala Zahra lama sekali, seolah ingin menanamkan rasa aman itu lebih dalam. Di luar, angin kembali menyapu dinding vila. Kabut memeluk jendela. Dunia benar-benar terasa jauh. Namun kali ini, Zahra tidak lagi merasa sendirian di tengah pikirannya. “Aku takut,” ucapnya tiba-tiba, suaranya lebih jujur dari sebelumnya. Arvin tidak langsung menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukan. “Takut apa?” “Takut kebahagiaan ini cuma sementara. Takut ada yang datang lagi dan… ngambil semuanya.” Arvin mengangkat dagu Zahra pelan, memaksanya menatap matanya yang kini serius, tegas. “Dengar aku,” katanya rendah. “Nggak ada yang bisa ambil kamu dari aku. Nggak ada yang bisa sentuh keluarga kita tanpa lewati aku dulu.” Nada suaranya bukan marah. Tapi ada bara di sana. Kepastian. Zahra terdiam. Ada sesuatu dalam cara Arvin berbicara yang membuat dadanya hangat sekaligus bergetar. “Perasaan bukan barang yang bisa diatur. Kita nggak nyuri siapa pun. Aku memilih kamu. Sadar. Waras. Tanpa paksaan.” Kalimat itu terasa seperti fondasi yang dipaku kuat. Zahra memejamkan mata. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, rasa bersalahnya tidak terasa seperti beban—hanya seperti bayangan samar. Arvin menurunkan wajahnya, mengecup bibir Zahra sekali lagi. Kali ini bukan liar. Bukan membara. Lembut. Dalam. Seperti janji. Tangannya tetap berada di perut Zahra. “Kita bertiga sekarang,” bisiknya. “Dan kita akan selalu bersama. Aku akan berjuang agar nggak gagal lagi.” Zahra tersenyum kecil. “Kamu pernah gagal?” Arvin terdiam sesaat. “Sebagai suami dulu… mungkin iya.” Ia menatap Zahra dengan tatapan yang lebih dewasa dari sebelumnya. “Tapi sebagai ayah dan suami kamu? Aku nggak mau setengah-setengah.” Keheningan turun, tapi bukan keheningan yang berat. Zahra menggeser tubuhnya lebih dekat, kakinya menyelip di antara kaki Arvin, mencari kehangatan. Arvin otomatis merangkulnya, satu tangan di punggung, satu di perut. Gerakan kecil dari dalam perut membuat Zahra tersentak pelan. “Mas…” bisiknya, menggenggam tangan Arvin. Arvin ikut merasakan. Ada tendangan kecil. Nyata. Mereka berdua tertawa pelan. “Kayaknya dia protes kita terlalu ribut,” Arvin berbisik. Zahra terkekeh, lalu air matanya jatuh lagi—kali ini bukan karena cemas, bukan karena luka. Tapi karena merasa sangat dicintai. Hatinya terasa penuh. “Terima kasih,” katanya. “Untuk apa?” “Udah milih aku.” Arvin mencium bibirnya sekali lagi. “Aku nggak cuma milih kamu,” jawabnya. “Aku mau kamu. Setiap hari.” Lampu kamar diredupkan. Kabut di luar semakin tebal. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Puncak, Zahra benar-benar tidur—tanpa dihantui bayangan siapa pun. Arvin tetap terjaga sedikit lebih lama, memandangi wajah istrinya yang damai, lalu perut yang menyimpan masa depan mereka. Ia mengusapnya pelan. “Lindungi Mama kamu,” bisiknya nyaris tanpa suara. Di luar, angin berhenti. Malam menjadi sunyi. Angin bertiup menampar kaca jendela, membawa rasa dingin. Tapi di kamar itu, cinta mereka baru saja menyala seperti api yang tidak bisa dipadamkan. Di dalam kamar itu, Zahra akhirnya menemukan yang ia cari sejak sore tadi— perasaan tenang. Dan dalam pelukan Arvin, ia tertidur dengan napas yang kembali teratur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN