Pagi di Puncak merekah pelan seperti kelopak bunga yang enggan terburu-buru.
Kabut yang semalam tebal kini menggantung tipis di antara lembah, perlahan tersibak oleh cahaya matahari yang hangat. Udara masih dingin, tapi tidak terlalu menggigit—justru menyegarkan.
Di teras vila, Zahra duduk mengenakan cardigan rajut pemberian ibu Arvin yang kebesaran di tubuhnya. Kedua tangannya memeluk cangkir s**u cokelat hangat, uapnya naik tipis menyentuh wajahnya.
Arvin keluar dari dapur kecil membawa dua piring sarapan.
“Aku resmi naik pangkat jadi suami siaga sekaligus chef pribadi,” katanya ringan.
Zahra tersenyum, matanya berbinar. “Aku dan si baby nggak bakalan sanggup menggajimu, Mas. Gimana ini?” tanya Zahra, pura-pura panik.
Arvin meletakkan piring, lalu membungkuk mencium puncak kepalanya. “Cukup senyum dan ucapan selamat pagi saat membuka mata. Itu udah lebih dari cukup.”
Zahra tertawa pelan.
Mereka makan sambil menikmati pemandangan indah lembah. Tidak ada suara notifikasi. Tidak ada dering telepon. Hanya desir angin dan suara sendok menyentuh piring.
Setelah sekian lama, akhirnya dunia terasa tidak menuntut apa pun lagi dari mereka.
Setelah sarapan, Arvin mengajak Zahra berjalan-jalan di sekitar vila. Tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Zahra, langkahnya disesuaikan dengan ritme istrinya yang kini lebih hati-hati.
“Capek?” tanya Arvin ketika Zahra berhenti sejenak.
Zahra menggeleng. “Enggak. Aku malah sangat menikmati pemandangan dan suasana tenang ini.”
Ia memandang hamparan hijau di depan mereka. “Aku nggak pernah bayangin bisa punya hidup setenang ini.”
Arvin menatapnya lama. “Ini bukan kebetulan, Zahra. Kamu pantas dapat ketenangan.”
Zahra tersenyum tipis. Tangannya turun mengusap perutnya yang membulat.
“Aku cuma pengin dia lahir di dunia yang hangat,” bisiknya.
Arvin ikut menempelkan tangannya di atas tangan Zahra. “Dia akan lahir di keluarga yang penuh cinta.”
Angin bergerak lembut, memainkan ujung rambut Zahra. Untuk sesaat, ia memejamkan mata dan membiarkan dirinya benar-benar hadir di momen itu.
Waktu bergulir tak terasa.
Siang mereka habiskan dengan hal-hal sederhana.
Arvin membaca buku di sofa dekat jendela besar, sementara Zahra menyandarkan kepala di pangkuannya. Sesekali Arvin berhenti membaca hanya untuk mengelus rambut Zahra atau menatap wajahnya yang terlihat jauh lebih damai.
“Kenapa liatin aku terus?” Zahra membuka satu mata.
“Takut aku cuma mimpi.”
Zahra tersenyum, lalu menggenggam tangan Arvin dan menempelkannya di pipinya. “Kalau mimpi, jangan bangun.”
Kepercayaan yang tumbuh perlahan membuat Zahra lebih berani mengungkapkan perasaan dan membalas kelembutan suaminya.
Menjelang sore, mereka duduk di teras belakang saat matahari mulai turun. Langit berubah oranye keemasan, lalu perlahan keunguan.
Arvin membungkus bahu Zahra dengan selimut.
“Aku suka lihat kamu tenang begini,” katanya jujur.
Zahra menoleh. “Aku juga suka lihat saat Mas nggak lagi tegang mikirin kerjaan.”
Arvin terkekeh pelan. “Itulah gunanya kalau kita jadi Bos, nggak ada yang bakal negejar-ngejar buat selesaiin kerjaan.”
Zahra menyandarkan kepala di bahunya.
“Mas…”
“Hm?”
“Terima kasih sudah ngajak aku ke sini.”
Arvin mencium pelipisnya. “Aku nggak ngajak kamu ke mana-mana. Aku cuma bawa kamu pulang… ke tempat yang bikin kamu bisa jadi diri sendiri.”
Zahra terdiam. Dadanya terasa penuh oleh rasa syukur yang sulit dijelaskan.
Malam datang perlahan, tapi kali ini tanpa gelisah.
Setelah makan malam sederhana, mereka kembali ke kamar. Tidak ada pikiran yang berisik. Tidak ada bayangan masa lalu.
Zahra berbaring lebih dulu, Arvin mematikan lampu dan ikut merebahkan diri di sampingnya.
Tangannya otomatis mencari perut Zahra.
Gerakan kecil terasa di bawah telapak tangannya.
Arvin tersenyum lebar. “Dia aktif banget malam ini.”
“Kayaknya dia senang ayahnya ngajak dia liburan,” Zahra membalas pelan.
Arvin memeluknya dari belakang, napasnya hangat di tengkuk Zahra.
“Kalau gitu, liburan berikutnya harus lebih lama dan lebih jauh.”
Zahra memejamkan mata. "Aku tunggu waktu itu, Mas," bisiknya.
"Kamu yang nentuin waktu dan tempatnya,"
"Ya. Ya, Mas," Zahra merasa tak sabar, tapi mereka masih harus melewati proses persalinan sebelum membuat jadwal baru.
Untuk sekarang, dia hanya ingin menikmati perasaan aman dan tenang ini.
Hanya ada napas yang selaras.
Hanya ada detak yang tenang.
Hanya ada cinta yang tumbuh, perlahan dan pasti.
Dan malam itu, di vila kecil yang berdiri di atas bukit, mereka benar-benar beristirahat—bukan hanya secara fisik, tapi juga hatinya.
***
Empat hari di Puncak terasa seperti jeda yang dikirim Tuhan tepat waktu.
Mereka habiskan untuk menyesuaikan diri dengan ritme yang lebih lambat. Tidak ada alarm pagi yang tergesa. Tidak ada jadwal rapat. Tidak ada telepon dari rumah sakit.
Arvin benar-benar mematikan notifikasi ponselnya, menyisakan hanya panggilan darurat dari orang tuanya. Selebihnya, dunia boleh menunggu.
Zahra bangun lebih siang dari biasanya.
Udara dingin menyelinap lembut ke sela tirai, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Arvin sudah lebih dulu terjaga, duduk di sisi ranjang sambil memandang wajah istrinya yang terlihat jauh lebih tenang dibanding beberapa minggu terakhir.
“Tidurmu nyenyak?” tanyanya pelan ketika Zahra membuka mata pada pagi hari berikutnya.
Zahra mengangguk sambil tersenyum. “Sangat, Mas. Senang banget, aku bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk selama dua malam. Semoga akan terus kayak gini.”
Arvin menunduk dan mengecup keningnya lama, seolah itu adalah jawaban yang paling ia tunggu.
Sejak hari itu, Arvin benar-benar memperlakukan Zahra seperti ratu kecilnya. Ia menyiapkan sarapan setiap pagi—roti panggang hangat, telur setengah matang, buah potong, dan s**u cokelat kesukaan Zahra. Ia memastikan suhu ruangan selalu pas, tidak terlalu dingin untuk tubuh Zahra yang sedang mengandung. Bahkan ketika mereka berjalan santai di sekitar vila, Arvin selalu berada setengah langkah lebih dekat, siap menahan jika Zahra terpeleset.
Mereka menikmati duduk lama di teras belakang, menghadap hamparan kebun teh yang hijau tak berujung. Kabut tipis bergerak seperti tirai transparan, kadang membuka, kadang menutup pemandangan.
Zahra bersandar di kursi rotan dengan selimut menutupi kakinya. Arvin duduk di lantai, kepalanya bersandar di paha Zahra, satu tangan tak pernah lepas dari perut istrinya.
Mereka banyak mengobrol tentang hal-hal kecil yang dulu jarang mereka bicarakan.
Tentang nama bayi, yang berakhir dengan kesepakatan Arvin menyiapkan nama bayi perempuan dan Zahra nama bayi laki-laki.
Arvin sengaja menyimpan pertanyaan soal kelamin anaknya hingga kandungan Zahra lebih besar.
Mereka juga membahas tentang kamar anak yang ingin Zahra cat warna krem dan abu-abu lembut.
Tentang bagaimana Arvin ingin mengajarkan anaknya nanti naik sepeda, meski ia sendiri dulu sering jatuh dan menangis.
Zahra tertawa lebih sering. Tawa yang tidak dipaksakan. Tawa yang tidak diakhiri dengan tatapan kosong atau napas berat.
Hingga sore itu, Zahra berkata pelan, “Mas… mungkin selama ini aku terlalu keras pada diriku sendiri.”
Arvin menengadah, menatapnya tanpa berkomentar, hanya menunggu.
“Aku merasa semua ini salahku. Kecelakaan itu… semua kekacauan itu… aku merasa aku penyebabnya.”
Arvin duduk tegak. Tangannya menggenggam kedua tangan Zahra.
“Takdir bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan. Dan Allah nggak pernah salah menulis jalan hidup hamba-Nya.”
Zahra terdiam, menatap lembah di depan mereka yang perlahan berubah keemasan oleh matahari sore.
“Aku lelah menyalahkan diri sendiri,” bisiknya.
Arvin mengusap pipinya. “Kalau kamu lelah, berhenti. Serahkan saja pada-Nya.”
Malam itu Zahra salat lebih lama dari biasanya. Di atas sajadah yang mereka bawa dari rumah, ia menangis pelan, mulai belajar menerima.
Hari ketiga mereka di sana, menjadi hari paling ringan. Zahra tampak berbeda. Wajahnya lebih cerah, matanya lebih hidup. Ia bahkan meminta Arvin memotret dirinya dengan latar belakang kabut pagi.
“Biar nanti aku ingat, aku pernah setenang ini,” katanya sambil tertawa.
Arvin menggodanya, menyebutnya ibu hamil paling cantik di Puncak. Zahra memukul bahunya pelan, pipinya memerah karena jengah.
Mereka sempat turun ke kafe kecil tak jauh dari vila. Arvin memesan kopi panas, Zahra memesan cokelat hangat lagi. Mereka duduk berdampingan dekat jendela kaca besar.
Tidak ada percakapan panjang di sana. Hanya genggaman tangan yang sesekali menguat. Hanya tatapan yang berbicara lebih dari kata-kata.
Zahra menyadari sesuatu: ketika ia berhenti melawan takdir, hatinya justru terasa lebih lapang.
“Aku nggak tahu kenapa,” katanya tiba-tiba. “Tapi aku merasa Allah sedang mengajarkanku sesuatu.”
“Apa?” tanya Arvin.
“Bahwa kehilangan kendali bukan berarti kehilangan segalanya.”
Arvin tersenyum. “Mungkin Dia cuma ingin kamu belajar percaya.”
Zahra mengangguk. Untuk pertama kalinya, ketika nama Miranda melintas di pikirannya, ia tidak lagi merasa tertusuk. Tidak lagi dihantui rasa bersalah yang mencekik. Ia hanya merasa… sedih. Dan sedih adalah emosi yang lebih mudah diterima daripada rasa bersalah yang terus menggerogoti.
Hari terakhir datang lebih cepat dari yang mereka harapkan.
Pagi itu langit cerah tanpa kabut. Seolah alam memberi perpisahan yang indah. Zahra berdiri di balkon kamar, memandangi pemandangan terakhir sebelum mereka kembali ke kota.
Arvin memeluknya dari belakang.
“Mau nambah dua hari?” godanya.
Zahra tersenyum. “Kalau bisa, mau nambah dua bulan.”
Arvin tertawa pelan. “Nanti kita balik lagi, setelah si baby lahir. Kamu juga boleh pilih tujuan liburan kita berikutnya.”
Zahra mengangguk. Tangannya mengusap perutnya dengan gerakan refleks penuh kasih.
“Di sini aja udah luar biasa banget, Mas. Terima kasih sudah membawaku ke sini,” ucapnya tulus.
Arvin memutar tubuhnya agar menghadapnya. “Sama-sama, Sayang. Aku cuma ingin kamu istirahat dari semua beban yang bukan milikmu. Dan senang sekali harapanku Tuhan kabulkan.”
Zahra menatap wajah suaminya lama.
“Aku sudah lebih ikhlas sekarang,” katanya pelan. “Apa pun yang terjadi nanti… aku percaya Allah tahu yang terbaik.”
Arvin mengusap air mata tipis di sudut matanya. “Itu Zahra yang aku kenal.”
Perjalanan pulang terasa berbeda dari perjalanan datang. Tidak ada keheningan tegang. Tidak ada pikiran yang berlarian liar.
Zahra bersandar nyaman di kursi mobil, tangannya menggenggam tangan Arvin di atas konsol tengah. Mereka sesekali berbincang ringan, sesekali hanya menikmati musik pelan yang mengalun dari radio.
Ketika mobil mulai menuruni jalan berkelok Puncak dan kota perlahan terlihat di kejauhan, Zahra menarik napas panjang.
“Siap kembali ke dunia nyata?” tanya Arvin.
Zahra tersenyum lembut. “Sekarang aku siap.”
Empat hari itu tidak menghapus masalah. Tidak mengubah masa lalu. Tidak menghilangkan semua luka.
Tapi empat hari itu mengubah cara Zahra memandangnya.
Ia tidak lagi berdiri sebagai perempuan yang terus menyalahkan diri sendiri. Ia pulang sebagai istri yang lebih tenang. Sebagai calon ibu yang lebih kuat. Sebagai hamba yang mulai belajar berserah.
Dan di kursi pengemudi, Arvin tahu satu hal pasti: liburan itu bukan sekadar pelarian.
Itu adalah titik balik.
Ketika mereka akhirnya tiba di rumah menjelang sore, Zahra turun dari mobil dengan langkah ringan. Ia menatap rumah itu bukan lagi dengan bayangan kecemasan, tapi dengan hati yang lebih siap menghadapi apa pun yang menunggu.
Arvin menggenggam tangannya sebelum mereka masuk.
“Kita hadapi sama-sama,” katanya.
Zahra mengangguk.
“Iya. Sama-sama.”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kata itu terasa benar-benar utuh.