Bab 16

1773 Kata
Setelah menikmati empat hari di Puncak, udara Jakarta terasa berbeda bagi Arvin. Bukan karena polusinya berkurang, bukan juga karena lalu lintas mendadak ramah. Tapi karena hatinya ringan. Pagi itu ia bangun lebih dulu dari biasanya. Sinar matahari menyusup di sela tirai kamar. Zahra masih terlelap, rambutnya terurai di bantal, napasnya teratur. Arvin menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. Kebersamaan mereka di Puncak seperti menambal sesuatu yang sempat retak di dalam dirinya. Ia membungkuk, mengecup kening Zahra pelan. Dia tidak tega membangunkan Zahra, jadi dia bangun dan bersiap-siap sambil menjaga suasana tetap hening. Hari ini dia harus berangkat lebih awal. Arvin mengecup kening istrinya sekali lagi. “Aku berangkat dulu, ya,” bisiknya. Zahra mengerjap, setengah sadar. “Udah pagi?” “Iya. Kamu istirahat aja. Jangan capek-capek.” Zahra tersenyum kecil. Senyum yang jauh lebih cerah dibanding sebelum mereka pergi. “Kerja yang semangat, Pak Arvin.” Arvin terkekeh. “Iya, Bu Zahra.” Ia turun ke ruang makan dengan langkah ringan. Ibu dan ayahnya yang sengaja menginap di sana sudah duduk di meja. Ayahnya membaca koran melalui tablet. “Kok cerah banget mukanya?” goda sang ibu begitu melihat Arvin. Arvin menarik kursi. “Emang biasanya muram, Ma?” “Biasanya tegang,” ayahnya yang menjawab. “Sekarang kelihatan kayak habis memenangkan besar.” Arvin tersenyum tipis. “Lebih dari memenangkan kasus besar, Pa.” Ibunya menatapnya penuh arti. “Liburannya berhasil, kan? Kamu harus mengelola waktu dengan baik, biar bisa sering-sering ajak Zahra liburan.” Arvin mengangguk pelan. “Iya, Ma. Zahra lebih tenang sekarang. Aku udah pikirin liburan selanjutnya, tapi mau sesuaikan jadwalku dulu.” Ibunya melembut. “Itu yang penting.” Setelah sarapan, Arvin berangkat ke kantor. Mobilnya melaju di tengah kemacetan, tapi anehnya, ia tidak merasa tercekik oleh klakson dan deretan lampu merah. Itu karena hatinya terasa lebih ringan. Sesampainya di kantor, beberapa staf menyapanya. “Pagi, Pak!” “Pagi.” Sekretaris menjejerinya, seperti biasa mengatur jadwalnya. “Pak, meeting jam sepuluh tetap ya?” Arvin mengangguk. “Tetap. Tapi sebelum itu, saya mau lihat postur kasus yang baru kita terima minggu kemarin.” "Siap, Pak. Saya akan langsung antar ke meja Bapak dalam lima menit." Asistennya ganti menghampiri, menatapnya sekilas lalu tersenyum. “Pak Arvin kelihatan beda hari ini.” “Beda gimana?” “Lebih… santai.” Arvin mengangkat alis. “Itu pujian atau kritik?” “Pujian, Pak.” Arvin tertawa kecil. “Ya sudah, saya terima.” Di ruang rapat, Arvin memimpin diskusi dengan fokus yang tajam tapi tanpa nada keras seperti biasanya. Ia mendengarkan lebih sabar, menyela dengan tenang, bahkan sesekali melontarkan humor ringan yang membuat suasana cair. Salah satu manajer sampai berbisik pada rekannya, “Bos lagi jatuh cinta, ya?” Arvin mendengar setengahnya dan hanya tersenyum. Setelah rapat, ia kembali ke ruangannya dan menatap layar ponsel. Ada pesan dari Zahra. Masih sibuk di rumah. Lagi bikin sup. Jangan kemaleman pulangnya ya. Arvin mengetik cepat. Kalau kamu masak, aku pulang cepat. Balasan datang tak lama. Manja. Arvin tersenyum, lalu menyandarkan punggung di kursinya. Ada kehangatan aneh yang mengisi dadanya. Ia sadar sesuatu: selama ini ia terlalu larut dalam masalah, terlalu keras pada diri sendiri, terlalu sibuk membuktikan sesuatu pada dunia—hingga hampir lupa menikmati apa yang sudah ia miliki. Sore harinya, ia benar-benar pulang lebih cepat. Begitu masuk rumah, ia mencium aroma sup dan bawang goreng. Suara Zahra terdengar dari dapur, bercampur tawa ibunya. Arvin berdiri di ambang pintu dapur, menyilangkan tangan. “Wah, kompak banget.” Zahra menoleh. “Eh, udah pulang?” “Iya. Katanya ada yang masak.” Ibunya menggeleng geli. “Baru pulang langsung ke dapur. Dulu mana pernah.” Arvin mendekat, mencicipi sedikit kuah dengan sendok. “Enak.” Zahra pura-pura cemberut. “Belum matang itu.” “Udah enak.” Mata mereka bertemu beberapa detik. Tidak ada kata berlebihan. Tapi ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar rayuan. Malam itu mereka makan bersama. Ayah Arvin bercerita tentang bisnis, ibunya membahas rencana arisan, Zahra menyimak sambil sesekali ikut menimpali. Ia tidak lagi terlihat tegang atau mudah terdiam seperti sebelumnya. Setelah makan, Arvin mengajak Zahra ke teras belakang. Angin malam Jakarta tak sedingin Puncak, tapi cukup nyaman. “Kamu capek?” tanya Arvin pelan. “Enggak.” Zahra menatap langit. “Aku cuma lagi mikir.” “Mikir apa?” “Aku bersyukur.” Arvin menoleh. “Aku dulu nggak pernah bayangin punya hidup kayak gini,” lanjut Zahra. “Punya keluarga yang nerima aku. Punya suami yang…” Ia berhenti, tersenyum malu. “Yang sabar banget.” Arvin mendekat, menyentuh ujung hidungnya. “Aku juga bersyukur.” “Atas apa?” “Atas kamu.” Zahra terdiam. Arvin menarik napas pelan. “Empat hari kemarin bikin aku sadar, aku nggak bisa terus hidup dalam bayangan masalah.” "Aku juga belajar banyak, Mas. Semoga aku bisa lebih kuat lagi." "Kamu pasti bisa," Arvin memeluk.nahi Mereka duduk berdampingan, saling bersandar ringan. Beberapa hari berikutnya, rutinitas kembali berjalan. Arvin semakin fokus di kantor, bahkan mengajukan ide besar dengan analisa tajam yang sempat tertunda. Semangatnya menular pada timnya. Suatu siang, salah satu direktur senior menepuk bahunya. “Anda semakin luar biasa, Pak," tersenyum. “Mungkin karena sekarang saya lebih sadar apa yang seharusnya saya perjuangkan.” “Karir?” Arvin menggeleng tipis. “Keluarga.” Di rumah, ia lebih sering mengajak Zahra bicara—tentang hal kecil sekalipun. Suatu malam, Zahra bertanya pelan, “Kamu benar-benar bahagia sekarang?” Arvin menatapnya tanpa ragu. “Iya.” *** Pagi itu rumah belum sepenuhnya terjaga ketika aroma bawang putih yang ditumis dengan mentega menyusup sampai ke depan pintu kamar. Arvin yang baru selesai memeriksa beberapa dokumen di ruang kerja berhenti di ambang pintu. Ia mengernyit pelan. Aroma itu sangat menggoda. Ia melangkah perlahan, mengikuti jejak wangi yang membuat perutnya tiba-tiba terasa kosong. Di dapur, Zahra berdiri dengan apron pink yang membuatnya terlihat imut. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai terlepas dan menempel di pipinya yang memerah karena uap panas. Wajan di atas kompor berbunyi pelan ketika nasi digoreng bersama telur dan irisan daun bawang. Di meja makan sudah tertata dua piring. Nasi goreng kampung dengan telur mata sapi Zahra masukkan di piring itu. Di sampingnya ada tempe goreng tipis, irisan mentimun, dan sambal terasi dalam mangkuk kecil. Dua gelas teh hangat mengepulkan uap tipis. Arvin tidak langsung bersuara. Ia hanya bersandar di kusen pintu dapur, memperhatikan. Zahra menggigit bibir bawahnya saat mencoba mencicipi sedikit nasi dari sendok kayu. Alisnya berkerut kecil, lalu ia menambahkan sedikit kecap manis. “Kayaknya kurang asin…” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. Arvin akhirnya melangkah masuk tanpa suara. Ia berdiri tepat di belakang Zahra. “Kurang asin tapi udah bikin perut berontak.” Zahra tersentak kecil. “Mas!” Sendok kayu hampir terlepas dari tangannya. Arvin tertawa pelan. “Maaf. Aku nggak bermaksud ngagetin.” Zahra mematikan kompor, lalu berbalik dengan wajah setengah kesal setengah malu. “Kenapa nggak bersuara dulu sih?” “Karena aku lagi menikmati pemandangan.” “Pemandangan apa?” “Koki cantik yang masak buat aku.” Zahra mendesah pelan, tapi sudut bibirnya terangkat. “Gombal.” Arvin melirik ke meja makan. “Ini semua buat kita?” Zahra mengangguk. “Iya. Aku pengin masak sendiri hari ini. Menu sederhana aja.” Arvin menarik kursi dan duduk. Ia menatap piring di depannya seolah sedang mengamati karya seni. “Nasi goreng kampung?” tanyanya, nada suaranya berubah lebih lembut. “Iya. Aku pernah dengar Ibu bilang kamu suka nasi goreng sederhana kayak gini. Jadi aku coba.” Arvin mengambil sendok. Zahra duduk di depannya, memperhatikan dengan wajah tegang yang ia coba sembunyikan. “Jangan lihat aku kayak gitu,” gumam Arvin. “Kayak gimana?” “Kayak lagi nunggu vonis.” Zahra terdiam, lalu terkekeh kecil. “Ya kan aku pengin tahu rasanya gimana.” Arvin menyendok nasi goreng itu perlahan. Ia meniupnya sedikit, lalu memasukkannya ke mulut. Zahra memperhatikan setiap gerakan kecil di wajahnya. Cara alisnya sedikit terangkat. Cara rahangnya bergerak pelan. Beberapa detik terasa lama. “Mas?” Zahra tak tahan. Arvin menelan, lalu menatapnya. “Enak.” Zahra mengedip. “Beneran?” Arvin mengambil satu sendok lagi, kali ini dengan tempe goreng dan sedikit sambal. “Bukan enak biasa.” Zahra condong sedikit ke depan. “Terus?” Arvin tersenyum tipis. “Ini persis kayak yang dulu sering aku makan waktu kuliah. Nasi goreng pinggir jalan depan kos.” Zahra tertawa pelan. “Itu pujian atau malah bikin aku kelihatan kayak tukang nasi goreng?” “Itu pujian besar.” Arvin meletakkan sendoknya sejenak. “Aku suka makanan sederhana. Nggak ribet. Tapi rasanya jujur.” Zahra menunduk, pipinya memerah. “Aku cuma pakai bumbu dasar aja. Bawang putih, bawang merah, cabai, kecap…” “Dan?” Arvin memotong lembut. Zahra mengangkat bahu kecil. “Dan niat.” Arvin menatapnya lebih dalam dari sekadar bercanda. “Niat itu yang bikin beda.” Zahra akhirnya ikut menyendok makanannya sendiri. Mereka makan dalam irama yang santai. Sesekali sendok mereka beradu ringan saat sama-sama meraih sambal. “Pedas nggak?” tanya Zahra. Arvin menggeleng. “Pas.” Zahra mengamati wajahnya lagi. “Kalau kepedasan, jangan sok kuat.” Arvin tertawa kecil. “Udah terbiasa dengan nasi goreng cetarnya Aa Ilham.” Zahra mengangkat alis. “Oh, gitu ya? Tapi, kemarin siapa yang minum tiga gelas air gara-gara sambal terasi Ibu?” Arvin terbatuk kecil. “Itu beda kasus.” Zahra tertawa lebih lepas. Suara tawanya mengisi ruang makan yang biasanya terasa formal. Arvin berhenti makan sejenak, menatapnya. “Apa?” Zahra bertanya, masih tersenyum. “Kamu beda sekarang.” Zahra memiringkan kepala. “Beda gimana?” “Kamu kelihatan lebih ringan.” Zahra terdiam beberapa detik. Uap teh di depannya menari pelan. “Aku lagi belajar,” katanya akhirnya. “Belajar apa?” “Belajar nggak terlalu keras sama diri sendiri.” Arvin mengangguk pelan, lalu mengambil tangan Zahra yang bebas dan menggenggamnya di atas meja. Jari-jarinya hangat, sedikit berminyak karena baru memasak. “Aku suka lihat kamu kayak gini,” katanya pelan. Zahra menatap tangan mereka yang bertaut. “Aku juga suka lihat kamu makan masakanku dengan lahap.” Arvin tersenyum nakal. “Kalau kamu masak tiap pagi begini, aku bisa tambah berat badan.” “Bagus dong. Biar nggak kelihatan tegang terus.” Arvin tertawa lagi, kali ini lebih bebas. Setelah piring mereka hampir kosong, Zahra berdiri hendak membereskan. Arvin cepat-cepat bangkit. “Eh, duduk aja.” “Kenapa?” “Kamu sudah masak. Sekarang gantian aku yang beresin.” Zahra mengernyit. “Serius?” Arvin mengangkat kedua piring. “Serius.” Zahra memperhatikannya berjalan ke dapur, menyingsingkan lengan kemeja, lalu membuka keran air. Ia terlihat canggung tapi bersungguh-sungguh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN