Bab 17

1676 Kata
Zahra berdiri diam di ambang pintu dapur. Tangannya menyilang di depan da-da, tubuhnya bersandar ringan pada kusen. Di depannya, Arvin berdiri dengan lengan kemeja tergulung, jemarinya sibuk menyabuni piring. Air mengalir pelan, busa putih menempel di ujung jarinya. Pemandangan itu terasa… ajaib. Pria yang di ruang sidang bisa berdiri tegak, berbicara tegas dengan suara tenang namun mematikan. Pria yang namanya sering disebut dengan nada hormat. Pria yang jas mahalnya selalu rapi, sepatu mengilapnya nyaris tanpa cela. Sekarang berdiri di dapur, memegang spons cuci piring. Zahra tersenyum kecil di balik punggungnya. Ia tahu siapa Arvin di luar sana. Pengacara handal. Disiplin. Rasional. Sulit ditembus. Datang dari keluarga berada, terbiasa dengan fasilitas dan kemudahan. Tapi di hadapannya sekarang, Arvin terlihat… biasa. Dan justru itu yang membuat hatinya menghangat. Air keran dimatikan. Arvin mengibaskan tangan, lalu meraih lap kering. Gerakannya tidak terlalu luwes, tapi ia melakukannya tanpa keluhan. Zahra menatapnya lama. Mungkin Arvin sedang berusaha mengimbanginya, pikirnya. Agar jarak di antara mereka tidak terlalu terasa. Zahra sadar betul perbedaan latar belakang mereka. Ia tidak tumbuh dalam rumah besar dengan lantai marmer mengilap. Ia tidak terbiasa dengan meja makan panjang atau sopir pribadi. Dulu, perbedaan itu sering membuatnya kikuk. Takut salah bersikap. Takut terlihat tidak pantas. Tapi Arvin… entah sejak kapan, ia seperti menurunkan semua sekat itu satu per satu. “Kenapa diam aja di situ?” tanya Arvin tanpa menoleh. Zahra tersentak kecil. “Lagi lihat sesuatu.” “Apa?” Zahra melangkah mendekat. “Lagi lihat pengacara terkenal yang lagi perang sama piring kotor.” Arvin terkekeh. “Ini bukan perang. Ini negosiasi damai.” “Yang menang siapa?” “Sejauh ini… suamimu ini unggul.” Zahra tertawa pelan. Tawanya lembut, tidak lagi menyimpan kegugupan. Ia teringat momen mereka di Puncak, saat mereka mengunjungi sebuah kafe kecil di sana. Arvin yang berjalan santai dengan sweater abu-abu sederhana. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin. Tanpa jas. Tanpa jam mahal mencolok. Tanpa tatapan tajam khas ruang sidang. Di kafe kecil itu, tidak ada yang menoleh hormat padanya. Tidak ada yang memanggilnya “Pak Arvin”. Ia hanya seorang suami yang memesan cokelat hangat untuk istrinya. Dan Arvin tampak nyaman dengan itu. Bahkan suatu sore, ketika mereka duduk di pinggir kebun teh, Zahra sempat bertanya, “Kalau nggak jadi pengacara, kamu mau jadi apa?” Arvin tertawa kecil waktu itu. “Petani teh mungkin.” Zahra menatapnya tidak percaya. “Bener?” “Bener. Hidupnya kelihatannya tenang.” “Dan kamu nggak keberatan nggak dikenal siapa-siapa?” Arvin memandang hamparan hijau di depan mereka sebelum menjawab. “Aku nggak pernah butuh dikenal semua orang.” “Terus?” “Cukup dikenal kamu.” Kenangan itu membuat d**a Zahra kembali menghangat. Sekarang, melihat Arvin mengelap meja dapur dengan serius, Zahra merasa ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Bukan berubah menjadi asing, tapi berubah menjadi lebih setara. Arvin menoleh akhirnya. “Kamu senyum-senyum sendiri kenapa?” Zahra menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.” Arvin menyipitkan mata. “Curiga aku.” Zahra mendekat, berdiri tepat di depannya. “Aku cuma lagi mikir… kamu itu aneh.” “Aneh gimana?” “Kamu bisa jadi dua orang yang berbeda.” Arvin mengangkat alis. “Maksudnya?” “Di luar sana kamu kelihatan tinggi sekali. Susah digapai. Tapi di rumah…” Zahra menatap tangannya yang masih memegang lap. “…kamu kayak gini.” Arvin terdiam beberapa detik. “Aku tetap orang yang sama, Zahra.” “Iya. Tapi kamu nggak pernah bikin aku merasa kecil.” Arvin menaruh lapnya di meja. Wajahnya berubah lebih serius. “Aku nggak mau kamu merasa ada jarak.” Zahra menelan pelan. “Aku tahu kita tumbuh di dunia yang beda,” lanjut Arvin. “Tapi waktu aku nikah sama kamu, aku nggak nikah sama latar belakangmu. Aku nikah sama kamu.” Kata-kata itu sederhana. Tapi cara Arvin mengucapkannya membuatnya terasa berat dan jujur. Zahra menatapnya lama. “Di Puncak kamu kelihatan… bebas,” katanya pelan. “Kayak nggak ada beban apa-apa.” Arvin tersenyum tipis. “Karena waktu itu aku cuma jadi suami kamu.” “Dan kamu nyaman?” “Sangat.” Zahra merasakan sesuatu mengembang di dadanya. Arvin melangkah lebih dekat. “Aku capek kalau harus jadi ‘Arvin yang disegani’ terus. Di rumah, aku cuma mau jadi Arvin yang kamu kenal.” Zahra menunduk sedikit, menyembunyikan senyum yang terlalu lebar. “Tapi kamu tetap kelihatan keren waktu cuci piring,” godanya. Arvin tertawa. “Itu bakat alami.” Zahra memukul lengannya pelan. “Pede banget.” Arvin menahan tangannya sebelum ia menjauh. Jemarinya menggenggam pergelangan Zahra dengan lembut, menariknya sedikit lebih dekat. “Kalau aku berusaha sederhana, bukan karena aku merasa kamu lebih rendah,” katanya pelan. “Tapi karena aku nggak mau ada tembok di antara kita.” Zahra mengangkat wajahnya. “Nggak ada tembok,” bisiknya. Arvin mengusap pipinya pelan. “Bagus.” Dapur itu kembali hening. Hanya suara jarum jam di ruang tengah yang terdengar samar. Zahra menyadari sesuatu: mungkin cinta bukan tentang siapa yang lebih tinggi atau lebih kuat. Tapi tentang siapa yang bersedia menurunkan ego agar yang lain tidak perlu berjinjit terlalu lama. Dan melihat Arvin berdiri di hadapannya—tanpa jas, tanpa gelar, tanpa jarak—Zahra merasa untuk pertama kalinya, mereka benar-benar berdiri sejajar. Arvin masih memegang pergelangan tangan Zahra ketika keheningan mengisi ruang di antara mereka. Tatapan mereka saling mengunci. Tidak ada senyum lebar. Tidak ada canda. Hanya keheningan yang hangat. Zahra yang pertama kali mengalihkan pandangan. “Nanti kamu telat,” gumamnya pelan, meski tangannya belum benar-benar ditarik. Arvin melirik jam dinding sekilas. “Masih ada waktu.” “Katanya jam sembilan ada klien penting.” Arvin mengangkat bahu ringan. “Klien bisa nunggu lima menit.” Zahra menatapnya, pura-pura tidak terpengaruh. “Oh, sekarang klien kalah sama…?” “Sama istri,” jawab Arvin tanpa ragu. Zahra mencoba menyembunyikan senyum, tapi gagal. Arvin melepaskan genggamannya perlahan, lalu mengambil jas yang tergantung di kursi. Ia mengenakannya dengan gerakan yang otomatis—bahu tegak, dagu sedikit terangkat. Dalam hitungan detik, aura profesional itu kembali melekat. Zahra memperhatikan perubahan itu dengan tatapan lembut. “Kamu langsung berubah,” katanya pelan. “Berubah?” “Iya. Baru tadi jadi tukang cuci piring. Sekarang sudah jadi Pak Arvin lagi.” Arvin tertawa kecil sambil merapikan mansetnya. “Itu cuma kostum.” “Kostum?” “Iya. Seperti peran. Di kantor aku pakai peran itu. Di rumah…” Ia mendekat sedikit, merendahkan suaranya. “Aku nggak perlu pakai apa-apa.” Zahra terdiam, pipinya menghangat. Arvin meraih tas kerjanya. “Kamu hari ini ada rencana?” “Mau ke toko bahan kue sebentar. Ibu minta ditemani.” Arvin mengangguk. “Jangan capek. Kalau lelah, bilang.” “Aku nggak selemah itu, Mas.” “Aku tahu.” Arvin tersenyum tipis. “Tapi aku tetap khawatir.” Zahra mendekat untuk merapikan kerah jasnya yang sedikit miring. Ujung jarinya menyentuh kain mahal itu, lalu berhenti di dadanya sepersekian detik lebih lama dari seharusnya. “Kenapa lihat aku begitu?” tanya Arvin pelan. Zahra menggeleng kecil. “Cuma… bangga.” “Bangga kenapa?” “Kamu bisa jadi hebat di luar sana, tapi tetap pulang sebagai suami yang sederhana.” Arvin menatapnya dengan sorot yang lebih dalam. “Kalau kamu bangga, berarti aku nggak sia-sia berusaha.” Zahra mengerutkan kening kecil. “Berusaha apa?” “Berusaha jadi laki-laki yang pantas buat kamu.” Jantung Zahra berdetak sedikit lebih cepat. “Kamu nggak perlu berusaha sejauh itu,” katanya lirih. “Aku mau,” sahut Arvin lembut. “Karena kamu juga berusaha setiap hari.” Zahra menunduk, tersentuh oleh kalimat yang tidak terdengar dramatis, tapi terasa tulus. Dari ruang tengah terdengar suara mobil ayah Arvin dinyalakan. Pagi semakin bergerak. Arvin melangkah ke arah pintu, tapi sebelum benar-benar keluar, ia berhenti. “Zahra.” “Hm?” “Terima kasih buat sarapannya.” Zahra tersenyum. “Terima kasih juga sudah cuci piring.” Arvin mendekat lagi, kali ini lebih cepat, dan mengecup keningnya. Sentuhannya ringan, tapi cukup untuk membuat Zahra menutup mata sejenak. “Doain aku,” katanya pelan. “Selalu.” Arvin akhirnya keluar. Suara pintu tertutup lembut. Zahra berdiri sendirian di ruang makan yang kini lebih sunyi. Sisa aroma nasi goreng masih menggantung di udara. Ia berjalan ke jendela dan melihat mobil Arvin perlahan meluncur dari halaman. Punggung pria itu sempat terlihat lewat kaca mobil sebelum menghilang di tikungan. Zahra menarik napas panjang. Empat hari di Puncak memang telah mengubah sesuatu. Tapi pagi ini membuatnya sadar—yang berubah bukan hanya suasana hati, melainkan cara mereka memandang satu sama lain. Dulu ia sering merasa seperti tamu di kehidupan Arvin. Seperti seseorang yang harus terus menyesuaikan diri agar tidak terlihat salah tempat. Sekarang, ia merasa menjadi bagian dari rumah itu. Dari hidup itu. Zahra menyentuh dadanya pelan. Tidak ada lagi rasa takut yang menggerogoti. Tidak ada lagi bayangan jarak yang membuatnya ragu melangkah. Arvin mungkin disegani banyak orang. Tapi di balik pintu rumah ini, ia adalah pria yang bersedia menggulung lengan kemejanya, mencuci piring, dan menurunkan egonya demi membuat istrinya merasa sejajar. Dan Zahra tahu, ia tidak lagi berjalan di belakang. Mereka berjalan berdampingan. Pagi itu terasa sederhana. Namun di dalam kesederhanaan itulah, Zahra menemukan sesuatu yang lebih kuat dari sekadar cinta— Rasa aman. Arvin sudah rapi dengan jas abu-abu gelap ketika turun ke ruang tamu. Tas kerjanya diletakkan di atas meja, kunci mobil sudah di tangan. Zahra masih di kamar. Ia menatap ke arah tangga, lalu menghela napas pelan. “Zahra…” panggilnya. “Iya, sebentar!” sahut Zahra dari atas. Arvin tersenyum tipis. Ia tahu arti sebentar itu. Beberapa menit berlalu. Arvin duduk di sofa, membuka ponselnya, lalu menutupnya lagi. Bukannya tidak sabar, hanya saja kebiasaan membuatnya selalu bergerak cepat. Langkah kaki terdengar dari tangga. Zahra turun dengan blouse putih sederhana dan rok panjang cokelat muda. Rambutnya diikat setengah, wajahnya segar tanpa riasan berlebihan. Arvin menoleh dan memperhatikannya beberapa detik. “Kenapa lihatnya begitu?” tanya Zahra, sedikit canggung. “Lama banget,” jawab Arvin datar. Zahra mendengus kecil. “Aku cuma ganti baju.” “Ganti baju atau pindah rumah?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN