Bab 18

1478 Kata
Zahra tertawa pelan. “Kamu ini.” Ia mengambil tas kecilnya di meja. “Sudah, Mas berangkat dulu aja. Nanti malah telat kalau harus nganter aku dulu.” Arvin berdiri. “Aku akan ngantar kamu.” Zahra langsung menggeleng. “Nggak usah. Jam segini puncaknya macet. Mas bisa langsung ngambil jalan pintas biar cepat sampai.” “Aku tetap antar.” “Mas, aku serius. Aku bisa sendiri.” Arvin mendekat satu langkah. “Aku tahu kamu bisa sendiri.” “Terus kenapa harus dianter?” “Karena aku mau.” Jawabannya sederhana. Tidak panjang, tidak rumit. Zahra terdiam sesaat. “Nanti kamu terlambat, Mas,” “Nanti aku atur waktunya.” Zahra menatapnya, mencari-cari alasan lain. Tapi tidak menemukan apa pun selain kesungguhan di mata Arvin. “Aku cuma ke kafe, Mas. Bukan ke tempat yang jauh.” “Aku tetap antar.” Nada suaranya tidak keras. Hanya tegas dan tenang. Zahra akhirnya menghela napas kecil. “Ya sudah.” Arvin tersenyum tipis, puas. “Tunggu sebentar. Aku ambil mobil.” Beberapa menit kemudian mereka sudah duduk di dalam mobil. Suasana pagi masih sejuk. Jalan belum padat merayap. Mobil melaju pelan menyusuri jalan yang mulai ramai. Lampu lalu lintas di depan berubah merah, membuat Arvin mengurangi kecepatan. Zahra duduk di sampingnya, memandangi deretan pohon di tepi jalan. Pagi terasa tenang, meski aktivitas kota sudah mulai menggeliat. Arvin meliriknya sekilas. “Nanti jangan telat makan.” Zahra menoleh. “Iya.” “Jangan cuma iya.” Zahra tersenyum kecil. “Memangnya aku anak kecil?” Arvin mengangkat satu alis. “Kadang.” Zahra memukul lengannya pelan. “Mas.” Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju. “Hari ini aku agak sibuk,” lanjut Arvin. “Ada dua meeting, terus siang langsung ke klien.” “Oh.” Zahra mengangguk pelan. “Berarti nggak bisa makan siang bareng ya?” Nada suaranya biasa saja, tapi Arvin bisa menangkap sedikit kekecewaan yang berusaha disembunyikan. “Iya. Sepertinya nggak bisa,” katanya jujur. “Kalau selesai cepat, aku kabari. Tapi jangan nungguin.” Zahra mengangguk lagi. “Aku bisa makan sendiri.” “Aku tahu kamu bisa,” ucap Arvin lembut. “Tapi tetap harus makan tepat waktu.” Zahra menoleh, menatap wajah serius di sampingnya. “Kamu khawatir banget.” “Memang.” “Kenapa?” Arvin terdiam sebentar sebelum menjawab. “Karena kamu sering lupa kalau sudah asyik.” Zahra terkekeh pelan. “Aku nggak separah itu.” “Kemarin saja jam tiga baru makan.” Zahra terdiam, merasa tertangkap basah. “Kan cuma sekali,” belanya pelan. Arvin menghela napas ringan. “Zahra.” “Iya?” “Aku nggak bisa selalu ada di samping kamu. Jadi paling nggak, kamu harus jaga diri sendiri.” Kalimat itu sederhana, tapi terasa hangat. Zahra menunduk, jemarinya memainkan ujung tas di pangkuannya. “Aku akan makan tepat waktu. Janji.” Arvin meliriknya, memastikan. “Serius?” “Serius.” “Jam satu maksimal.” Zahra tertawa kecil. “Siap, Pak Pengacara.” Arvin ikut tersenyum tipis. “Dan minum yang cukup. Jangan cuma kopi.” “Di kafe masa nggak minum?” “Maksudku air putih.” Zahra menggeleng pelan, geli. “Iya, Mas.” Beberapa detik mereka terdiam. Suara mesin mobil dan lalu lintas menjadi latar yang lembut. “Kalau kamu terlalu sibuk, jangan lupa makan juga,” balas Zahra pelan. Arvin tersenyum tanpa menoleh. “Aku lebih disiplin dari kamu.” “Belum tentu.” “Kita lihat saja nanti,” jawabnya ringan. Mobil mulai mendekati area kafe. “Sungguh, jangan nungguin aku,” ulang Arvin lagi. “Kalau aku belum kabari sampai jam satu, langsung makan.” Zahra menatapnya dengan ekspresi lembut. “Aku senang kamu ingetin.” Arvin memarkir mobil perlahan. “Itu tugas suami.” Zahra membuka sabuk pengaman. “Dan tugas istri juga ingetin suami.” Arvin tersenyum. “Baik, Bu.” Zahra hendak turun, tapi Arvin menahannya sebentar. “Satu lagi.” Zahra menoleh. “Apa?” “Kalau capek, pulang saja. Jangan dipaksakan.” Zahra mengangguk pelan. “Iya.” Tatapan mereka bertemu beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada kata manis yang berlebihan. Hanya perhatian yang terasa nyata. Zahra akhirnya turun dari mobil. Sebelum menutup pintu, ia berkata pelan, “Semoga harimu lancar.” Arvin membalas dengan anggukan kecil. “Doakan.” Zahra tersenyum dan berjalan masuk ke kafe. Arvin menunggu sampai sosok itu benar-benar menghilang di balik pintu kaca. Lalu ia menarik napas dalam, menyalakan mesin kembali, dan melaju menuju kantornya. Di sepanjang perjalanan berikutnya, pikirannya memang dipenuhi jadwal dan tanggung jawab. Tapi di sela-sela kesibukan yang menanti, ada satu hal yang tetap terpatri jelas— Jam satu siang. Ia tahu, saat itu ia akan mengecek ponselnya. Bukan hanya untuk memastikan pekerjaan berjalan lancar. Tapi untuk memastikan Zahra benar-benar sudah makan. *** Langit masih menyisakan warna keemasan ketika Zahra melepas apron cokelat mudanya dan menggantungkannya di balik pintu ruang penyimpanan. Jam di dinding menunjukkan pukul lima sore. Padahal kafe itu baru benar-benar tutup pukul sepuluh malam. Namun karena dia sedang hamil dan.agak rentan, Arvin membuat aturan yang tak bisa ditawar: Zahra hanya boleh berada di kafe sampai sore. “Cukup sampai jam lima. Setelah itu pulang.” Zahra tahu itu untuk kebaikan dirinya dan si baby, jadi tidak membantah. Di balik meja kasir, Cici sedang merekap pesanan online. “Ci, aku pulang dulu ya,” ujar Zahra sambil melangkah mendekat ke meja kasir. Gerakannya kini lebih hati-hati. Perutnya semakin membulat. Gaun longgar yang ia kenakan tak lagi mampu menyembunyikan bentuknya. Cici langsung menghampiri. “Iya, Kak. Sisanya biar aku yang pegang. Online order juga sudah aman.” Zahra tersenyum lembut. “Kalau supplier datang, tolong cek invoice-nya. Jangan lupa foto kirim ke aku.” “Siap.” Cici melirik perut Zahra dan terkekeh kecil. “Calon bos kecilnya belum ketahuan cewek apa cowok, Mbak?” Zahra refleks mengusap perutnya yang kini terasa lebih berat dari minggu ke minggu. Bayi itu sering aktif sore hari—kadang menendang pelan, kadang bergerak seperti sedang mencari posisi nyaman. "Belum, Ci. Kata Papanya nanti aja, kalau udah lebih gede, biar kelihatan lebih jelas dan pasti. Lagian nggak ngaruh juga, buat aku sama Mas Arvin, laki atau perempuan sama aja, yang penting sehat." "Bener juga, Mbak. Semuanya anugerah Allah," Zahra mengangguk."Iya, Ci. Anugerah terindah yang patut disyukuri." Saat itu, mobil hitam Arvin terlihat berhenti di depan cafe. Cici terkekeh lagi. “Nah, bodyguard pribadinya datang.” Zahra memutar mata, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Arvin turun dari mobil dengan langkah cepat. Jas kerjanya masih melekat rapi, dasi sedikit dilonggarkan. Wajahnya serius seperti biasa—terutama kalau sudah menyangkut Zahra dan kandungannya. Ia membuka pintu kafe sebelum Zahra sempat melangkah keluar. “Kamu belum capek?” pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya. Zahra mendengus pelan. “Belum. Aku cuma berdiri, bukan angkat-angkat galon.” Arvin menatapnya tajam, lalu pandangannya turun ke perut Zahra. “Tetap saja.” Tangannya refleks menyentuh pinggang Zahra, seolah memastikan istrinya benar-benar baik-baik saja. Cici yang melihat itu tersenyum gemas dari dalam. “Mas Arvin, tenang aja. Mbak Zahra nggak kerja yang berat-berat kok,” katanya menggoda. Arvin mengangguk sopan. “Terima kasih sudah turut jaga dia.” Dia lalu menuntun Zahra hati-hati. Begitu duduk di dalam mobil, Zahra bersandar nyaman. AC menyala lembut. Mobil melaju perlahan meninggalkan area kafe. Beberapa menit mereka hanya menikmati suasana sore yang mulai berubah menjadi temaram. Zahra memandangi jalanan, lalu tanpa sadar tangannya kembali mengusap perutnya. “Mas…” “Iya?” “Kabar Miranda gimana?” Pertanyaan itu membuat Arvin sedikit mengencangkan cengkeramannya pada setir. “Masih koma,” jawabnya singkat. Zahra menoleh pelan. “Belum ada perubahan?” Arvin menggeleng kecil. “Dokter bilang kondisinya stabil. Tapi belum sadar.” Ada jeda panjang setelah itu. Zahra menunduk, menatap kedua tangannya. Entah kenapa, setiap mendengar kabar itu, dadanya terasa berat. “Kasihan ya…” gumamnya. Arvin meliriknya sekilas. Ia tahu Zahra akan merasa seperti ini. “Kamu jangan terlalu kepikiran,” katanya pelan. “Kamu lagi hamil. Jangan stres.” Zahra tersenyum tipis. “Aku nggak stres.” “Tapi kamu sedih.” Zahra tak membantah. Beberapa detik kemudian ia berkata pelan, “Mas… kita ke rumah sakit, yuk.” Arvin langsung menoleh. “Sekarang?” “Iya.” “Kamu udah capek, Zahra.” “Aku nggak capek.” Ia menatap Arvin lembut tapi mantap. “Aku cuma merasa harus ke sana.” Arvin terdiam. “Aku cuma… ingin menjenguk.” Lampu merah membuat mobil berhenti. Cahaya senja memantul di wajah Zahra yang terlihat begitu tulus. Arvin menghela napas panjang. “Kamu yakin tubuh kamu masih kuat jalan?” Zahra mengangguk. “Hanya ingin melihat gimana keadaannya, Mas. Nggak lama.” Arvin memandangnya beberapa detik. Lalu akhirnya ia mengangguk pelan. “Baik. Tapi sebentar saja.” Senyum Zahra langsung mengembang. “Terima kasih, Mas.” Lampu berubah hijau. Mobil berbelok, mengarah ke rumah sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN