Bab 19

1988 Kata
Bau antiseptik menyambut mereka begitu pintu lift terbuka di lantai perawatan intensif. Langkah Zahra melambat sepersekian detik, namun kali ini bukan karena ragu—melainkan karena ia ingin menata napasnya dengan tenang. Arvin berjalan di sampingnya. Tidak menggenggam tangannya seperti kunjungan pertama dulu, tidak pula menjaga jarak. Ia hanya berjalan sejajar, bahu mereka sesekali bersentuhan ringan. Kehadiran yang setara. “Siap?” tanya Arvin pelan. Zahra mengangguk. “Iya.” Ia benar-benar siap. Di depan kamar, orang tua Miranda sedang duduk berdampingan. Wajah mereka tampak lebih tirus dibanding terakhir kali Zahra melihatnya. Kurang tidur dan terlalu banyak menangis meninggalkan jejak yang tidak bisa disembunyikan. Ibu Miranda berdiri lebih dulu ketika melihat mereka. “Terima kasih sudah datang lagi,” ucapnya lirih. Tidak ada nada menyalahkan. Tidak ada tatapan tajam. Zahra membalas dengan senyum lembut. “Bagaimana keadaannya, Tante?” “Masih belum sadar. Tapi dokter bilang respons tubuhnya membaik.” Ayah Miranda hanya mengangguk pelan pada Arvin. Dulu sorot matanya penuh kecurigaan. Kini hanya kelelahan dan harapan yang tersisa. Zahra dan Arvin masuk ke dalam ruangan yang bau antiseptik terasa lebih pekat. Di sudut ruangan, kakak perempuan Miranda berdiri menyandarkan tubuh ke dinding. Tatapannya dingin saat melihat Zahra mendekat ke ranjang. Zahra hanya mengangguk sopan. Ia melangkah pelan, menarik kursi, lalu duduk di sisi tempat tidur. Miranda terbaring pucat. Selang infus menempel di tangan, monitor jantung berbunyi ritmis—bip… bip… bip…. Zahra menatap wajah itu beberapa detik. Wajah yang dulu pernah menjadi bayangan di dalam pikirannya. Wajah yang pernah ia takuti setelah kejadian malam itu. Wajah yang pernah membuatnya merasa kecil. Kini hanya seorang perempuan rapuh yang sedang berjuang. Zahra meraih tangan Miranda. Dingin, namun tidak lagi sekaku sebelumnya. “Mbak Miranda,” bisiknya lembut. “Aku datang sama Mas Arvin.” Arvin berdiri di sisi lain ranjang, diam. Zahra mengusap punggung tangan Miranda perlahan. “Aku nggak tahu Mbak bisa dengar atau nggak,” lanjutnya pelan, “tapi aku mau ngomong sesuatu.” Kakak Miranda mendengus pelan, namun ibunya yang berdiri di balik kaca pembatas memberi isyarat agar ia diam. Zahra menarik napas panjang. “Hidup itu aneh ya,” ucapnya lirih. “Kadang kita pikir kita sudah kehilangan segalanya. Kadang kita pikir luka kita terlalu dalam untuk sembuh.” Ia tersenyum kecil, meski mata mulai berkaca-kaca. “Tapi luka itu nggak harus kita pelihara. Nggak harus kita biarkan membusuk.” Ruangan terasa hening. Bahkan bunyi monitor seakan terdengar lebih pelan. “Aku nggak datang ke sini untuk mengasihani Mbak,” lanjut Zahra. “Aku datang karena aku percaya kamu masih punya kesempatan. Kamu masih bisa bangun. Kamu masih bisa pilih hidup yang lebih baik.” Arvin menunduk sedikit, menatap wajah Miranda. Ada perasaan yang tak bisa ia definisikan—bukan cinta lama, bukan penyesalan—hanya harapan agar semuanya benar-benar selesai dengan cara yang dewasa. Zahra menggenggam tangan Miranda lebih erat. “Kita semua pernah salah,” katanya. “Aku juga. Mbak juga. Kita semua pernah salah, tapi bukan berarti hidup berhenti di kesalahan itu.” Ibu Miranda menutup mulutnya, menahan tangis. “Bangunlah, Mbak,” bisik Zahra, suaranya melembut. “Bukan untuk siapa pun. Tapi untuk dirimu sendiri.” Ia menunduk, lalu mulai membacakan doa dengan suara lirih. Tidak panjang. Hanya doa sederhana agar diberi kekuatan, agar hati yang retak bisa dipulihkan, agar masa lalu tidak lagi menjadi rantai. Arvin memejamkan mata sejenak. Orang tua Miranda ikut menunduk. Hanya kakaknya yang masih berdiri kaku, tapi kini tanpa suara sinis. Setelah doa selesai, Zahra mengusap air matanya sendiri dengan cepat. "Aku selalu berdoa untukmu, Mbak. Cepat sembuh, ya," Zahra membersit ujung matanya, lalu berdiri. Arvin menatap Miranda sekali lagi sebelum berbalik mengikuti istrinya. “Cepat sembuh,” ucapnya singkat, tapi tulus. Pintu ruang ICU terbuka pelan. Arvin keluar lebih dulu, menahan pintu agar Zahra bisa melangkah dengan hati-hati. Wajah Zahra masih menyimpan jejak doa yang baru saja ia panjatkan. Matanya sembap, tapi sorotnya tenang. Di lorong yang dingin dan berbau antiseptik itu, ayah dan ibu Miranda berdiri menyambut mereka. “Terima kasih sudah datang,” ucap ibu Miranda dengan suara tulus. Tidak ada lagi getar kemarahan seperti dulu. Zahra mengangguk sopan. “Kami doakan Mbak Miranda segera sadar.” Ayah Miranda menepuk bahu Arvin ringan. “Terima kasih. Kami tahu kalian bukan penyebab semua ini.” Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Arvin terdiam sejenak. Ia hanya membalas dengan anggukan hormat. Beberapa langkah dari sana, di balik dinding dekat ruang tunggu, Nico berdiri membeku. Ia datang beberapa menit lebih awal dan tanpa sengaja melihat pemandangan itu. Ayah dan ibu Miranda berbicara dengan Arvin dan Zahra. Tanpa amarah. Tanpa tudingan. Bahkan… terlihat hangat. Rahang Nico mengeras. Bagaimana bisa? Bukankah ia sudah berusaha keras? Ia yang selama ini membisikkan pada kakak perempuan Miranda bahwa Zahra adalah penyebab tekanan mental adiknya. Ia yang perlahan menyuntikkan kecurigaan pada orang tua Miranda—bahwa Arvin telah mengkhianati Miranda, membuatnya hancur. Ia yang membangun narasi bahwa Miranda adalah korban dari ego dua orang itu. Lalu kenapa sekarang? Kenapa mereka masih berdiri bersama seperti itu? Tangan Nico mengepal. Buku-buku jarinya memutih. Ia melihat Zahra membungkuk sedikit saat berpamitan. Melihat Arvin mengangguk hormat sebelum berjalan pergi. Tidak ada rasa bersalah di wajah mereka. Yang ada justru ketenangan. Itu yang paling Nico benci. Ia mundur satu langkah, bersembunyi lebih dalam di balik sudut dinding agar tidak terlihat. Ia menunggu sampai Arvin dan Zahra benar-benar menghilang di ujung lorong, masuk ke lift. Baru setelah pintu lift tertutup, Nico bergerak. Langkahnya cepat, tapi wajahnya sudah berubah. Ekspresi kesal tadi ia sembunyikan di balik raut prihatin. Ia mendekati ayah dan ibu Miranda. “Tante… Om…” suaranya terdengar berat, seolah ikut menanggung beban. Ibu Miranda menoleh. “Kamu baru datang, Nico?” “Iya. Tadi sempat lihat… Arvin sama Zahra keluar.” Nada suaranya pelan, namun cukup untuk memancing. Ayah Miranda mengangguk. “Mereka datang menjenguk. Zahra bahkan membacakan doa.” Nico tersenyum tipis. Senyum yang tak sampai ke mata. “Oh ya?” katanya pelan. “Baik sekali ya mereka.” Ada jeda kecil. “Padahal…” Nico menunduk, pura-pura ragu melanjutkan. “Padahal apa?” tanya kakak perempuan Miranda yang sejak tadi duduk tak jauh dari situ. Ia langsung waspada. Nico menghela napas, seakan berat mengatakannya. “Aku cuma takut Tante dan Om terlalu cepat percaya.” Kening ibu Miranda berkerut. “Maksud kamu?” Nico menatap ke arah pintu ICU. “Miranda itu tertekan sejak lama. Sejak Arvin benar-benar lepas dan menikah. Zahra tahu itu.” “Itu cuma perasaan Miranda yang belum selesai,” potong ayahnya tegas. “Tapi perasaan itu nyata, Om,” sahut Nico cepat. “Dan Zahra datang ke sini sekarang… apa benar murni peduli? Atau cuma ingin memastikan Miranda nggak akan bangun lagi dengan perasaan yang sama?” Kakak Miranda berdiri. “Aku juga merasa aneh. Tadi dia bicara panjang sekali. Seolah-olah dia paling benar.” Nico menangkap celah itu. Matanya berkilat tipis. “Aku nggak bilang mereka jahat,” ucapnya, pura-pura bijak. “Aku cuma bilang… hati-hati. Kadang orang terlihat baik karena ingin menutup sesuatu.” “Menutup apa?” tanya ibunya pelan, mulai goyah. Nico mendekat sedikit, menurunkan suara. “Rasa bersalah.” Lorong rumah sakit mendadak terasa lebih sempit. “Aku cuma nggak mau Miranda nanti sadar dan tahu kalau orang-orang yang membuatnya hancur masih datang dan pura-pura peduli.” Ayah Miranda menatap Nico lama. “Kamu yakin dengan kata-katamu?” Nico menahan tatapannya, berusaha terlihat tulus. “Aku cuma ingin melindungi Miranda.” Kakak perempuan Miranda mengangguk perlahan. “Masuk akal…” Itu cukup bagi Nico. Benih kecurigaan yang sempat mereda mulai bergetar lagi. Ia melirik ke arah pintu ICU. Bagus, pikirnya. Kalau mereka mulai ragu lagi, Arvin dan Zahra nggak akan pernah benar-benar diterima. Dan selama itu terjadi, ia masih punya tempat di sisi Miranda. Ia tidak sadar, di balik pintu kaca ICU, monitor jantung berdetak stabil. Dan di antara kesadaran yang perlahan naik dari gelap, samar-samar suara Nico barusan seperti menggema di ruang hampa pikiran seseorang. Belum jelas. Belum utuh. Tapi cukup untuk meninggalkan jejak. Di luar, Nico menyandarkan tubuh ke dinding, menyilangkan tangan dengan puas. Ia tidak akan membiarkan Arvin terlihat sebagai pahlawan. Ia tidak akan membiarkan Zahra menang dengan mudah. Kalau perlu, ia akan terus menyebar racun—perlahan, tak terlihat, sampai semua kembali memihak padanya. Kakak Miranda berdiri dekat jendela, menatap ke luar dengan rahang mengeras. “Menurutku Miranda dan Arvin memang cuma mau terlihat baik,” gumam kakak Miranda kesal. Ia menelan mentah-mentah umpan Nico. “Terutama Zahra.” Ibunya menghela napas. “Sudahlah.” Belum sempat perdebatan memanjang, Nico berdiri sambil melangkah mendekati pintu. "Kita nggak usah membahas mereka. Yang terpenting Miranda." Nico menatap wajah mereka satu persatu, kembali memainkan perannya. Wajahnya tegang, tapi ada sesuatu yang lain di matanya—gelisah. “Kondisinya gimana?” tanyanya dengan nada tertekan, seolah benar-benar peduli. “Belum sadar,” jawab ayah Miranda singkat. "Arvin sama Zahra harusnya nggak dibiarkan masuk." Suara Nico dingin. Ia masuk ke dalam ruangan, menatap wajah Miranda yang pucat. Ibu Miranda menyusulnya Nico seolah mendapatkan panggung, “Ini semua gara-gara tekanan dari mereka,” katanya tiba-tiba. “Kalau Arvin nggak berselingkuh dengan Zahra, Miranda nggak akan seterpuruk ini.” "Mama dan Papa gampang ditipu," ujar kakak Miranda sinis. Nico mengangguk. “Mereka pura-pura peduli,” lanjutnya. Suaranya mulai meninggi. “Zahra itu cuma mau menunjukkan kalau dia lebih unggul dari Miranda. Datang baca doa segala. Munafik.” Ibunya berdiri. “Nico, jangan—” “Tante nggak lihat?” potong Nico. “Sejak Arvin menikah, Miranda tertekan terus. Mereka tahu itu.” Kakak Miranda yang berdiri di ambang pintu semakin terprovokasi. “Aku juga curiga. Tadi dia bicara panjang sekali seolah-olah paling benar.” Nico mengangguk cepat, merasa didukung. “Iya! Mereka itu penyebabnya. Miranda cuma korban.” Suara Nico makin keras, emosinya meluap. “Kalau bukan karena Arvin, Miranda nggak akan seperti ini!” Dan tepat ketika kalimat itu menggema di ruangan— “Pergi…” Suara itu lemah. Hampir seperti hembusan angin. Semua membeku. Monitor jantung tetap berbunyi stabil. “Pergi…” terdengar lagi, sedikit lebih jelas. Ibu Miranda menoleh cepat ke arah ranjang. “Miranda?” Kelopak mata itu bergerak. Perlahan. Berat. Namun terbuka. Tatapan Miranda belum sepenuhnya fokus, tapi sadar. Nico membeku di tempatnya. “Miranda… kamu dengar Ibu?” tanya ibunya gemetar. Miranda menggerakkan bibirnya pelan. Matanya perlahan menemukan sosok Nico yang berdiri paling dekat. Butuh beberapa detik sampai fokusnya menguat. Dan ketika itu terjadi—tatapannya berubah. Bukan bingung. Bukan rapuh. Tapi dingin. “Aku… dengar…” suaranya serak, hampir patah. Nico menelan ludah. “Mir, aku cuma—” “Pergi.” Satu kata itu lebih tegas. “Miranda, aku—” “Aku… nggak mau… melihatmu lagi.” Ruangan terasa seperti kehilangan udara. Kakaknya menatapnya tak percaya. “Miranda?” Air mata tipis mengalir di sudut mata Miranda, tapi sorotnya tidak goyah. “Kamu… bohong…” katanya pelan. “Selama ini.” Nico mundur selangkah. “Nggak, aku cuma bela kamu!” Miranda menggeleng sangat pelan. “Aku dengar… semua.” Setiap kata Nico sebelumnya seperti berbalik memukulnya sendiri. Ia tak bisa lagi memutar fakta. Tatapan Miranda menajam meski tubuhnya masih lemah. “Aku capek,” bisiknya. “Capek jadi korban… dari cerita bohong yang kamu buat.” Ibunya menangis terisak, tapi kini bukan karena putus asa—melainkan lega karena Miranda akhirnya sadar juga. Nico mencoba mendekat lagi, namun ayah Miranda berdiri di antara mereka. “Kamu dengar sendiri,” ucapnya tegas. “Pergi.” Nico menatap Miranda untuk terakhir kali. Berharap ada keraguan di sana. Tidak ada. Hanya keputusan. Perlahan, tanpa kata lagi, Nico berbalik dan keluar. Pintu tertutup. Dan untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, ruangan terasa lebih ringan. Ibu Miranda memeluk putrinya hati-hati. “Syukurlah kamu sadar, Nak.” Miranda memejamkan mata sebentar, lelah. Di sudut pikirannya yang masih kabur, suara Zahra terngiang. Luka itu nggak harus membusuk. Air matanya mengalir lagi. Bukan karena kalah. Tapi karena akhirnya ia bisa melihat topeng Nico.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN