Bab 20

1856 Kata
Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit itu, Zahra tidak banyak bicara. Mobil melaju pelan membelah jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu toko berpendar kekuningan, dan dari balik kaca jendela, bayangan dirinya memantul samar—wajah yang dulu sering ia pandangi dengan rasa cemas kini terlihat berbeda. Lebih tenang. Arvin meliriknya beberapa kali. Ia sudah mengenal setiap perubahan kecil pada ekspresi istrinya. “Kamu capek?” tanyanya lembut. Zahra menggeleng pelan. “Enggak.” Benar. Ia tidak merasa capek. Ia merasa lega… lega karena akhirnya rasa bersalah yang membuat dadanya sesak telah selesai. Kunjungan tadi bukan hanya tentang menjenguk Miranda. Bukan sekadar menunjukkan empati atau membuktikan kebesaran hati. Ada sesuatu yang benar-benar tertutup di dalam dirinya saat ia berdiri di samping ranjang rumah sakit itu. Melihat Miranda yang pucat, lemah, dan tak lagi tampak sebagai sosok yang pernah ia takutkan. Saat mobil berhenti di lampu merah, ponselnya tiba-tiba bergetar. Pesan masuk dari ibu Miranda. Miranda sudah sadar. Zahra menutup mulutnya refleks. “Mas…” Arvin menoleh cepat. “Kenapa?” “Mbak Miranda sudah sadar.” Arvin terdiam beberapa detik. Lalu ia menghembuskan napas panjang yang seolah selama ini tertahan. “Alhamdulillah.” Rasa damai memenuhi hati Zahra. Untuk pertama kalinya, Zahra menyadari satu hal sederhana—ia tidak pernah sengaja menyakiti Miranda. Ini adalah jalan takdir yang harus ia lalui. Selama ini ia hanya bertarung dengan bayangannya sendiri. Begitu sampai di rumah, Arvin langsung membantu Zahra melepas sepatu dan mengganti dengan sandal rumah. “Pelan-pelan,” gumamnya. Zahra tersenyum tipis. Dulu, perhatian Arvin terkadang membuatnya merasa bersalah—seolah ia tidak layak, karena sudah merebut pria itu dari Miranda. Kini, ia menerima perhatian itu tanpa beban. Ia mandi air hangat, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengoleskan lotion pada perutnya yang sudah membulat jelas di usia enam bulan. Gerakan kecil bayi di dalamnya terasa lebih kuat beberapa minggu terakhir. Kadang membuatnya terkejut, kadang membuatnya tertawa sendiri. Tangannya mengusap lembut. “Kita baik-baik saja,” bisiknya pelan. Dan kalimat itu benar-benar ia rasakan. Ia tidak lagi hidup dalam ketakutan dibandingkan dengan masa lalu Arvin. Ia tidak lagi memikirkan bagaimana orang lain menilai pernikahan mereka. *** Di rumah sakit, dokter memutuskan memindahkan Miranda dari ICU ke ruang perawatan biasa untuk pemulihan. Ibunya menangis haru. Ayahnya berdiri lebih lama di sisi ranjang, menggenggam tangan putrinya yang masih lemah. “Mir…” panggil sang ayah lembut. Miranda memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi. Bibirnya bergerak pelan. “Pa…” Suara itu hampir tak terdengar. “Papa di sini.” Miranda menarik napas perlahan. Tubuhnya masih lemah, tapi pikirannya mulai menyusun potongan-potongan yang selama ini kabur. Lalu satu wajah muncul jelas dalam ingatannya. Nico. Matanya mendadak berubah. “Pa…” suaranya lebih tegas meski pelan. “Jangan biarkan laki-laki itu masuk ke kamar ini.” Ayahnya terdiam. “Maksud kamu… Nico?” Miranda mengangguk lemah. Air mata mulai menggenang. “Apa yang dia lakukan?” tanya sang ayah pelan namun tegang. Miranda memejamkan mata, dan kenangan itu datang seperti gelombang. Malam pesta itu. Itu adalah pesta yang mengundang pasangan. Arvin memintanya hadir, suaminya berharap. Seharusnya ia hadir, mendampingi Arvin, tapi ia terlalu sibuk mengejar mimpinya sendiri di Papua. Ia justru meminta Zahra menemani Arvin. Ia yang bersikeras. Ia yang membuka pintu bagi rencana jahat Nico. Lalu tanpa sadar dia terseret ke dalam tipu muslihat Nico. Pria itu membuat dirinya percaya bahwa Zahra dan Arvin mengkhianatinya. “Dia… dia sengaja,” bisik Miranda. “Dia buat aku minum lebih banyak. Dia provokasi aku. Dia bilang Arvin nggak pernah bisa lepas dari Zahra karena Zahra menggodanya.” Ibunya menahan napas. “Dia… dia yang kirim pesan, mengata-ngatai Zahra malam itu. Pakai ponselku,” lanjut Miranda terputus-putus. “Dia mau bikin semuanya kacau.” Dan aku menelan semua umpannya seperti id1ot! Air mata Miranda mengalir deras. Dia ingat semuanya sekarang, pesan yang tidak pernah ia tulis. Mungkin itu yang membuat Arvin melihatnya sebagai sosok yang tidak punya perasaan. “Dia yang atur semuanya supaya Arvin dan Zahra terlihat salah.” Ayahnya mengepalkan tangan. “Kenapa kamu nggak bilang dari dulu?” Miranda tersedu. “Karena aku pikir… aku masih bisa kendalikan semuanya.” Ia tertawa kecil yang terdengar getir. "Aku nggak terima poligami, dan Arvin nggak bisa ninggalin Zahra. Dia hamil.” Ibunya terisak. “Tapi aku yang salah, Pa…” suara Miranda pecah. “Aku yang dorong mereka ke jurang. Aku yang buka celah buat Nico menjebak mereka.” Tangisnya semakin tak terbendung. “Aku yang salah.” Ayahnya memegang bahu putrinya dengan lembut. “Sudah. Yang penting kamu sadar sekarang.” “Tapi semuanya sudah terlanjur hancur,” Miranda berbisik. Ia teringat bagaimana ia memaksa Zahra menemani Arvin malam itu. Bagaimana ia menjadi penyebab kehancuraannya sendiri. Dan dalam keinginannya itu, ia menjadi buta. Nico hanya memanfaatkan celah. “Jangan biarkan dia masuk,” ulang Miranda lemah. “Aku nggak mau lihat dia.” Ayahnya mengangguk tegas. “Papa akan urus.” Di luar kamar, ibu Miranda menangis dalam pelukan suaminya. Kebenaran itu pahit. Tapi akhirnya terucap. *** Setelah semua kekacauan yang terjadi, Zahra mulai fokus pada dirinya sendiri. Pada tubuhnya. Pada bayi dalam kandungannya. Pada kehidupannya yang nyata. Perubahan itu terlihat jelas dalam hari-hari berikutnya. Zahra mulai mengatur pola makan lebih disiplin. Sarapan tepat waktu. Mengurangi kopi yang dulu tak pernah bisa ia tinggalkan. Mengganti camilan manis dengan buah dan kacang-kacangan. Ia membuat jadwal istirahat di kafe—benar-benar duduk dan tidak memaksakan diri. Cici bahkan beberapa kali memergokinya tertidur ringan di ruang kantor kecil belakang. “Mbak Zahra berubah banget,” komentar Cici suatu sore. Zahra hanya tersenyum. “Aku cuma lagi belajar jadi ibu.” Di rumah, Arvin memperhatikan semuanya dalam diam. Ia melihat bagaimana Zahra kini tidak lagi mudah tersentuh oleh topik-topik sensitif. Tidak lagi terdiam lama jika nama Miranda disebut. Ia melihat istrinya menjadi lebih matang. Lebih damai. Suatu malam, Arvin sedang memeriksa agenda di tablet kerjanya ketika matanya menangkap satu catatan penting. “Besok kontrol kandungan jam sepuluh pagi.” Ia langsung mengangkat wajah. Zahra sedang duduk di sofa, menyusun baju hamil yang baru mereka beli akhir pekan lalu. “Zahra,” panggilnya. “Iya?” “Besok jadwal kontrol sama Dokter Hana. Jam sepuluh.” Zahra menoleh, lalu tersenyum. “Oh iya. Aku hampir lupa.” Arvin mendekat dan duduk di sampingnya. “Kita berangkat jam sembilan. Jangan sarapan terlalu berat dulu.” Zahra terkekeh pelan. “Mas ini kayak asisten dokter.” “Dokternya sahabatku. Kalau kamu bandel dan kenapa-napa, aku langsung diomeli, dianggap nggak becus jadi suami.” Zahra tertawa kecil, menatapnya beberapa detik. “Mas.” “Hm?” “Terima kasih.” Arvin mengernyit. “Untuk apa?” “Untuk nggak pernah lelah jagain aku.” Arvin tidak langsung menjawab. Tangannya hanya bergerak pelan mengusap perut Zahra. “Aku jaga kamu bukan karena takut kehilangan,” katanya pelan. “Tapi karena kamu memang layak dijaga.” Zahra tersenyum, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu membalas dengan keraguan. Ia percaya. * Pagi hari berikutnya Zahra dan Arvin duduk berdampingan di ruang praktik Dokter Hana. Senyum dokter itu hangat saat menyambut mereka. “Bagaimana kabar calon ibu?” tanyanya. “Baik, Dok,” jawab Zahra lebih mantap dari biasanya. Pemeriksaan berjalan lancar. Detak jantung bayi terdengar jelas melalui alat USG, memenuhi ruangan dengan suara yang ritmis dan menenangkan. Arvin menggenggam tangan Zahra saat suara itu terdengar. Degup kecil yang konsisten. “Sehat sekali,” ujar Dokter Hana. “Berat badan bagus. Perkembangannya sesuai usia kandungan.” Zahra tersenyum lebar. Ia merasa ringan. Keluar dari ruang praktik, Arvin menatapnya dengan bangga. “Kamu kelihatan beda akhir-akhir ini,” katanya. “Beda gimana?” “Lebih… damai.” Zahra terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Mungkin karena aku sudah berhenti melawan sesuatu yang sebenarnya nggak pernah ada.” Arvin mengernyit, tapi tidak bertanya lebih jauh. Ia tidak perlu tahu semua detail isi hati Zahra. Yang penting, ia melihat sendiri hasilnya. Sementara Zahra, tanpa ia sadari, telah membuat beberapa langkah maju sekaligus. Dan untuk pertama kalinya, tidak ada lagi bayangan yang berdiri di antara dirinya dan masa depan. Yang ada hanya suara detak kecil di dalam rahimnya. Dan seorang suami yang memilih tinggal—bukan karena terpaksa. Tapi karena cinta. *** Di sisi lain kota, di sebuah kamar rumah sakit, Miranda menatap langit-langit putih dengan mata sembap. Ia tahu perjalanan pemulihannya masih panjang. Bukan hanya tubuhnya. Tapi juga hatinya. Ia telah kehilangan banyak hal karena ambisi dan kecemburuan. Kini ia hanya berharap satu hal—kesempatan untuk menebus. Beberapa hari setelah dipindahkan ke ruang perawatan, kondisi Miranda jauh lebih stabil. Wajahnya masih pucat, tubuhnya masih lemah, tapi sorot matanya sudah kembali tajam. Dan bersama kesadarannya yang pulih, kebenciannya pada Nico justru semakin jelas. Sore itu, pintu kamar diketuk pelan. Ayah Miranda yang sedang duduk di kursi dekat jendela menoleh. Ia sudah mulai membatasi tamu yang datang. Hanya keluarga dekat yang diizinkan masuk. Namun sebelum sempat bertanya, pintu itu sudah terbuka. Nico berdiri di sana. Rapi. Wangi. Dengan ekspresi penuh penyesalan yang dibuat-buat. “Aku cuma mau lihat Miranda,” katanya pelan, seolah-olah ia adalah pria paling setia di dunia. Wajah ayah Miranda langsung mengeras. “Saya sudah bilang, kamu tidak diizinkan masuk.” Nico tersenyum tipis. “Om, dia butuh aku.” “Dia justru hampir kehilangan nyawanya karena kamu.” Kalimat itu membuat rahang Nico mengeras sebentar, tapi ia cepat menetralkan ekspresinya. “Om salah paham.” Dari dalam kamar, suara Miranda terdengar pelan namun tegas. “Biarkan dia masuk, Pa.” Ayahnya menoleh ragu. “Mir—” “Nggak apa-apa.” Ada sesuatu di nada suaranya. Pria itu akan terus mengganggunya jika terus dibiarkan datang Dengan berat hati, ayahnya melangkah keluar kamar, memberi ruang—meski tetap berdiri tidak jauh dari pintu. Nico masuk perlahan. Begitu pintu tertutup, senyum lembut itu langsung ia arahkan pada Miranda. “Kamu kelihatan lebih baik,” katanya, mendekat ke sisi ranjang. Miranda tidak membalas senyum itu. “Kenapa kamu datang lagi?” tanyanya datar. “Aku khawatir.” Nico duduk tanpa diminta. “Beberapa hari lalu kamu masih lemah. Kamu mengusirku tanpa benar-benar dengar penjelasanku.” Miranda menatapnya lama. Beberapa hari lalu, saat baru sadar dan melihat Nico berdiri di sudut kamar, emosinya masih mentah. Ia langsung menyuruh pria itu pergi. Nico pergi dengan wajah terluka. Tapi hari ini Miranda tidak lagi berbicara dengan emosi. “Apa lagi yang mau kamu jelaskan?” tanyanya pelan. Nico menarik napas panjang, memasang wajah menyesal. “Aku memang salah. Aku cemburu. Aku takut kehilangan kamu. Aku lihat kamu masih peduli sama Arvin waktu itu.” Nama itu menggantung di udara. “Tapi semua yang kulakukan… cuma karena aku cinta kamu.” Miranda hampir tertawa. Cinta? “Cinta?” ulangnya pelan. Nico mengangguk, menggenggam tangan Miranda sebelum sempat ditarik. “Kamu sudah bercerai dengan Arvin. Dia sudah memilih hidupnya sendiri. Kita bisa mulai lagi.” Nada suaranya penuh keyakinan. Terlalu yakin. Ia benar-benar percaya Miranda akan luluh. Toh ia sudah tidak punya Arvin lagi. Toh ia sendirian. Toh ia pernah memilih dirinya setelah perceraiannya. Nico pikir, cepat atau lambat, Miranda akan kembali padanya. Tapi yang ia lihat sekarang berbeda. Miranda menarik tangannya perlahan dari genggaman Nico. “Jangan sentuh aku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN