Malam itu belum benar-benar usai, dan Zahra tahu itu. Sejak awal Arvin selalu memberinya rasa nikmat hingga puncak. Setelah itu dia mengejar kenikmatan nya, sambil menuntun Zahra kembali mencapai puncak.berikutnya. Arvin mengangkat wajahnya dari bahu Zahra. Napas mereka masih hangat, menyatu dalam jarak yang begitu dekat. Tangannya tetap berada di perut istrinya, mengusapnya perlahan seolah memastikan dua kehidupan kecil di sana tetap tenang. “Aku ingat sesuatu,” gumamnya pelan. Zahra membuka mata setengah, menatapnya dengan sisa cahaya gairah yang lembut. “Apa?” “Yang dokter Hana bilang.” Zahra tertawa kecil. “Mas masih ingat juga?” “Aku ingat semua yang menyangkut kamu.” Arvin bergeser sedikit, membantu Zahra berbaring dalam posisi menyamping yang lebih nyaman. Ia lalu berbaring

