Dimas melangkah masuk dan menutup pintu dengan hati-hati. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya, tapi ada kilat puas yang nyaris tak ia sembunyikan. “Pak Arvin,” Arvin mengangkat pandangan. “Permohonan peninjauan kembali sudah resmi masuk ke sistem pengadilan pagi tadi. Nomor registrasinya sudah keluar.” Hening sepersekian detik. Arvin tidak langsung tersenyum. Ia hanya mengangguk kecil, seperti seseorang yang sudah tahu hasilnya bahkan sebelum diumumkan. “Tidak ada kebocoran?” tanyanya. “Tidak, Pak. Jalurnya bersih. Bahkan internal firma pun belum ada yang tahu detailnya. Hanya tercatat sebagai pengajuan resmi kuasa hukum baru.” Arvin menyandarkan tubuhnya perlahan. “Dan Nico?” Dimas membuka tablet, memeriksa pembaruan terakhir. “Tidak ada reaksi. Tidak ada akses mencurig

