Perawat membawa Zahra ke ruang pemeriksaan. Arvin menunggu di luar dengan langkah mondar-mandir. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menghadapi ruang sidang, hakim, dan tekanan kasus besar, ia merasa tidak punya kendali apa pun. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Akhirnya pintu terbuka. Dokter keluar sambil tersenyum ringan. “Pak Arvin?” Arvin langsung berdiri. “Bagaimana, Dok?” Dokter menepuk bahunya dengan tenang. “Tenang saja. Ini hanya kontraksi palsu.” Arvin mengedip. “Kontraksi… palsu?” “Ya. Kontraksi latihan. Sangat normal menjelang persalinan. Belum ada pembukaan. Tapi saya akan terus memantau perkembangannya.” "Baik, Dok. Terima kasih." Dokter mengangguk dan keluar ruangan. Arvin menghela napas panjang. Sangat panjang. Seolah seluruh beban dari dadanya

