Di meja itu, Cici menatap layar laptop. Untuk sesaat, pikirannya melayang. Dari gadis Jogja yang bingung mencari kerja… Sekarang ia duduk di sini. Mengatur kafe yang ramai. Mengelola tim. Dan merencanakan masa depan bisnis. Ia tersenyum kecil. Dalam hati ia berkata pelan. Terima kasih, Mbak Zahra. Tanpa wanita itu, ia mungkin masih berjalan dari satu kafe ke kafe lain membawa map lamaran. Gilang memperhatikannya. “Kamu senyum sendiri.” Cici cepat-cepat mengalihkan pandangan. “Nggak.” “Kamu lagi mikirin sesuatu?” “Nggak juga.” Gilang menyeringai. “Kalau kamu bohong, alis kamu naik sebelah.” Cici langsung menutup wajahnya dengan tangan. “Kamu terlalu banyak memperhatikan.” Gilang bersandar santai. “Memperhatikan kamu memang menarik.” Cici memutar bola mata. Namun kali

